Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Nashaihul Ibad: Diri Kita di Mata Allah, Diri Sendiri, dan Orang Lain

Iklan Landscape Smamda
Kajian Nashaihul Ibad: Diri Kita di Mata Allah, Diri Sendiri, dan Orang Lain
Kajian kitab Nashaihul Ibad ke-5 PRM Jalen Genteng Banyuwangi yang terlaksana usai salat jamaah subuh, Selasa (24/02/2026). (Abdul Muntholib/PWMU.CO).
pwmu.co -

Kajian kitab Nashaihul Ibad selepas jama’ah subuh pada Selasa (24/02/2026) di masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen Genteng Banyuwangi memasuki pertemuan hari kelima.

Adapun kajian ini diasuh oleh ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim MPd, dengan membahas materi tentang ujub atau membanggakan diri sendiri.

Hindari Takabur

Kajian pagi ini kita akan meneruskan materi selanjutnya yang sempat tertunda dua subuh, karena hari Ahad dan Senin saya harus mengisi matari di tempat lain” ujar Taslim mengawali kajiannya.

Dalam keterangan selanjutnya, Taslim menyampaikan atsar atau perkataan para sahabat, tabi’in maupun tabiut-tabi’in.

Pada materi kali ini, membahas perkataan dari Ali bin Abi Thalib r.a.:

“Jadilah engkau orang yang paling bagus menurut Allah, dan orang yang paling jelek di matamu sendiri, dan jadilah orang sewajarnya di mata orang lain”.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Perkataan Ali r.a. tersebut, diterjemahkan atau disyarahi oleh ulama sebagai berikut:

  • “Apabila engkau menjumpai seseorang yang lebih utama darimu, maka berucaplah: Bisa jadi ia menurut Allah lebih bagus daripada aku dan lebih tinggi derajatnya”.
  • “Jika orang itu lebih kecil, maka ucapkanlah: Anak ini belum durhaka kepada Allah, tapi aku sudah. Maka jelas dia lebih bagus daripada aku”.
  • “Jika orang itu besar, maka katakanlah: Orang ini sudah mengabdi kepada Allah sejak sebelum aku”.
  • “Jika orang itu alim, maka ucapkanlah: Orang ini dianugerahi ilmu yang belum aku ketahui dan mencapai sesuatu yang belum aku capai. Juga mengetahui sesuatu yang aku belum tahu dan dia pun berbuat atas dasar ilmunya itu”.
  • “Jika orang itu bodoh, maka ucapkanlah: Orang ini durhaka kepada Allah, karena belum tahu, sedangkan aku mendurhakai-Nya justru aku dalam keadaan sudah tahu. Aku pun tidak tahu bagaimana nanti akhir hayatku dan akhir hayatnya”.
  • “Jika orang itu kafir, maka katakanlah: Saya tidak tahu pasti, boleh jadi dia masuk Islam dan mati husnul khatimah. Bisa jadi pula aku kafir dan mati suul khatimah”.

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagai manusia kita mesti berbuat biasa saja. Menghindari sikap takabur atau sombong baik kepada diri sendiri, kepada sesama, terlebih kepada Allah Swt.

“Semoga Ramadhan ini bisa menjaga dan mengarahkan hati kita tidak tabur” pungkas Taslim.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu