Pesan Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari kembali menggema dalam kajian subuh di Masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen Genteng Banyuwangi yang sarat makna tentang niat, bekal amal, dan keikhlasan menuju akhirat.
Kajian kitab Nashaihul Ibad yang digelar selepas jama’ah subuh, Jum’at (27/2/2026), tersebut telah memasuki pertemuan kedelapan.
Dalam kesempatan itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim, M.Pd., mengulas nasihat Rasulullah Saw. yang penuh hikmah sekaligus relevan dengan dinamika kehidupan sehari-hari.
Empat Nasihat Nabi Saw.
Pagi ini kita lanjutkan materi selanjutnya, mari kita cermati akhbar atau hadits Rasul berikut, ujar Ustadz Taslim mengawali kajiannya, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Jundub bin Junadah, yang bergelar Abu Dzar Al-Ghifari:
“Wahai Abu Dzar, pugarlah kapalmu, karena lautnya dalam, bawalah bekal sempurna, karena perjalananmu jauh, peringanlah beban, karena rintangan-rintangannya berat sekali, ikhlaskanlah amalmu, karena sesungguhnya Yang Maha Meneliti lagi Maha Melihat.”
Yang dimaksud pada kata memugar dalam hadits di atas ialah memperbaiki niat, agar semua perbuatan atau penghindaran melakukan perbuatan dapat bernilai ibadah serta mendapat pahala guna keselamatan dari azab Allah.
Umar bin Khattab Al-Faruq mengirim surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari – semoga Allah meridhai mereka berdua:
“Barang siapa niatnya tulus, maka Allah mencukupi keperluannya yang berada antara dia dan orang lain.”
Salim bin Abdullah bin Umar Al-Khattab juga mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz r.a.:
“Ketahuilah wahai Umar, sesungguhnya pertolongan dari Allah kepada seorang hamba sesuai dengan kadar niatnya. Barang siapa yang niatnya tulus, maka pertolongan dari Allah sempurna baginya. Dan barang siapa yang niatnya kurang, maka pertolongan dari Allah pun kurang baginya sesuai kadar niatnya itu.”
Perjalanan jauh di sini dimaksudkan sebagai perjalanan menuju akhirat, sedangkan beban muatan adalah beban pertanggungjawaban urusan duniawi.
Perjalanan menuju akhirat diumpamakan dengan laut yang dalam, perjalanan jauh dan bukit terjal karena sama-sama memiliki banyak kesulitan dan rintangan.
Ikhlaskanlah amal, karena sesungguhnya Allah swt. sebagaimana sabda Nabi saw.: “Ikhlaskanlah perbuatanmu, maka yang sedikit pun darinya akan mencukupimu.”
Empat Perkara yang Lebih Baik dari yang Baik-Baik
Sebelum menutup kajian pagi itu, Ustadz Taslim mengajak jamaah mencermati petuah dari ahli hikmah atau yang dikenal dengan hukama.
Ada empat hal yang baik, namun ada empat perkara lain yang lebih baik daripadanya.
Rasa malu bagi laki-laki itu baik, namun bagi wanita lebih baik lagi. Sikap adil dari seseorang itu baik, namun jika dilakukan para pemimpin lebih baik.
Tobat yang dilakukan orang tua itu baik, tetapi jika dilakukan orang muda itu lebih baik. Kedermawanan bagi orang kaya itu baik, namun bagi orang fakir itu lebih utama lagi,” pungkasnya sebelum mengucap salam.






0 Tanggapan
Empty Comments