Kajian kitab Nashaihul Ibad selepas salat Subuh pada Sabtu (28/2/2026) di Masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen Genteng Banyuwangi memasuki pertemuan keempat. Pada kesempatan ini, Ustadz Taslim, M.Pd. membahas materi atsar dari sahabat Ali bin Abi Thalib R.a. yang menyoroti tiga perkara utama: nikmat Islam, kesibukan dalam ketaatan, dan kematian sebagai pelajaran.
Mengawali kajian, Ustadz Taslim menjelaskan bahwa Nashaihul Ibad bersumber dari dua rujukan, yakni sabda Nabi Muhammad saw. melalui hadis dan atsar para sahabat hingga tabi’in. Pada pertemuan kali ini, ia mengulas perkataan sahabat Ali R.a.:
“Di antara kenikmatan dunia, cukuplah bagimu kenikmatan Islam. Di antara kesibukan, cukuplah bagimu kesibukan berbuat taat. Dan di antara pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.”
Menurutnya, berbagai nikmat dunia seperti sehat, umur, dan kesempatan bersifat sementara. Tidak ada manusia yang terus-menerus sehat atau selalu memiliki waktu panjang dalam hidupnya. Karena itu, Taslim menegaskan bahwa sahabat Ali R.a. menyebut nikmat Islam sebagai kenikmatan paling hakiki dan kekal.
Dalam penjelasannya, Taslim juga mengingatkan bahwa banyak manusia yang mudah terbuai oleh kenikmatan, tertipu oleh pujian, ataupun lalai karena aibnya selalu tertutupi.
Ia menegaskan perlunya menjaga tiga perkara sebagaimana nasihat Nabi Daud A.s., yaitu menghimpun bekal akhirat dengan istiqamah beramal saleh, mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhan dunia secara seimbang, dan mencari kelezatan hidup melalui cara yang halal.
Taslim menambahkan bahwa kenikmatan terbesar bagi seorang hamba adalah ketika Allah mengeluarkannya dari jalan kekufuran menuju cahaya Islam. Ia juga menekankan bahwa ketaatan kepada Allah merupakan kesibukan yang paling utama dalam hidup seorang mukmin.
“Sesungguhnya maut itu peringatan yang cukup bagi manusia, dan kematian adalah nasihat terbesar,” tutur Ustadz Taslim menutup kajian. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments