Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Nashaihul Ibad: Nasihat yang Terdiri dari Tiga Perkara

Iklan Landscape Smamda
Kajian Nashaihul Ibad: Nasihat yang Terdiri dari Tiga Perkara
Kajian kitab Nashaihul Ibad selepas subuh masjid Al-Falah Jalen Genteng di hari keempat Ramadan. (Alib/PWMU.CO).
pwmu.co -

Kajian kitab Nashaihul Ibad selepas jama’ah subuh Jum’at (27/2/2026) di masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen Genteng Banyuwangi memasuki hari ketiga dengan membahas materi “Nasihat Yang Terdiri Dari Tiga Perkara.”

“Pada pagi hari ini kita memasuki pertemuan hari ketiga dan sudah memasuki Bab II Maqolah 1 terkait dengan materi Mengeluh, Susah Duniawi, Merendahkan Diri Kepada Orang Kaya,” jelas Taslim, M.Pd. mengawali kajiannya.

Selanjutnya Taslim membacakan hadits Nabi saw. sesuai bacaan teks aslinya, kemudian diterjemakan kedalam bahasa Indonesia per kalimat dan di jelentrehkan dengan panjang lebar, adapun bunyi hadits secara utuh ialah:

“Barangsiapa di pagi hari mengadukan kesulitan hidup, sama halnya ia mengeluh kepada Tuhannya. Barangsiapa di pagi hari merasa susah karena urusan duniawi, berarti di pagi itu juga benci kepada Allah. Dan barangsiapa merendah diri kepada orang kaya karena hartanya, niscaya benar-benar telah sirna dua pertiga agamanya.”

Memang pengaduan hanya layak disampaikan kepada Allah, sebab mengeluh kepada-Allah itu merupakan doa. Sedang pengaduan kepada sesama manusia, adalah menjadi alamat bahwa tidak rela dalam menerima bagian dari Allah.

Dalam keterangan selanjutnya Taslim melanjutkan dengan membacakan hadits Abdullah Ibnu Mas’ud, Rasulullah Saw. bersabda:

“Bukankah aku belum mengajarkan kepada kalian kalimat yang diucapkan oleh Nabi Musa a.s. ketika menyeberangi laut bersama Bani Israil?”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kami menjawab: “Benar, ya, Rasulullah!”

Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya, Allah, hanya untuk-Mu segala buji, hanya kepada-Mu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat minta pertolongan dan tiada daya upaya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.”

Memuliakan Manusia

Barangsiapa yang sedih karena perkara-perkara dunia, maka dia sungguh-sungguh marah kepada Allah, berarti tidak rela Qadha dan tidak sabar atas bencana serta tidak iman pada Qadar -Nya. Hal ini karena segala yang terjadi di dunia itu adalah berdasar Qadha dan Qadar-Nya.

Dalam syariat Islam hanya membolehkan memuliakan manusia karena kebaikan dan ilmunya, bukan karena kekayaannya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang memuliakan harta kekayaan berarti telah menghina ilmu dan kebaikan.

“Demikian yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat untuk kita semua dan kita lanjutkan esok dengan materi lain,” pungkas Taslim mengakhiri kajiannya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu