Kajian kitab Nashaihul Ibad yang dilaksanakan selepas salat Subuh pada Sabtu (28/2/2026) di Masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen, Genteng, Banyuwangi, memasuki pertemuan kesembilan. Pengajian yang diasuh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim, M.Pd., itu membahas tema Pangkal Kebajikan Dunia dan Akhirat.
Mengawali kajian, Ustaz Taslim mengingatkan bahwa pada pertemuan sebelumnya telah dibahas petuah para hukama tentang “Empat Hal yang Baik dan Empat Perkara Lain yang Lebih Baik Darinya”. Pada kesempatan kali ini, pembahasan dilanjutkan dengan atsar atau perkataan ulama.
Ia mengutip perkataan Abu Sulaiman Ad-Darani, “Pangkal setiap kebajikan di dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah. Kunci dunia adalah perut kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah perut lapar.”
Dengan nada ringan, Ustaz Taslim menyampaikan bahwa para jamaah Subuh Masjid Al-Falah sejatinya sedang meraih “lapar” sebagai upaya mencari kunci akhirat tersebut.
Ia menjelaskan, rasa takut kepada Allah dapat mengubah posisi catatan amal seseorang, yang semula berada di tangan kiri dapat bergeser ke tangan kanan. Menurutnya, pangkal segala kebaikan ada tiga, yaitu takut kepada Allah, menjauhi kecintaan berlebihan terhadap dunia, dan mengejar pahala akhirat.
“Hamba Allah ketika dalam keadaan sehat hendaknya memiliki rasa takut sekaligus harap kepada Allah Swt. Rasa takut mencegah dari maksiat, sedangkan harapan membangkitkan semangat beramal saleh,” jelasnya.
Ia menambahkan, ibadah yang dilandasi harapan kepada Allah memiliki keutamaan tersendiri karena di dalamnya terdapat cinta kepada-Nya. Ia mengibaratkan seorang raja yang dapat membedakan antara pelayan yang bekerja karena takut hukuman, pelayan yang berharap kebaikan, dan pelayan yang melayani tanpa pamrih.
Menurutnya, urusan dunia cenderung terbuka karena kenyang, sedangkan urusan akhirat terbuka karena lapar. “Semoga rasa lapar selama sebulan penuh Ramadan menjadi kunci untuk meraih kebajikan akhirat sebagaimana atsar yang disampaikan Abu Sulaiman,” ujarnya.
Ibadah adalah Kesempatan Kerja
Dalam lanjutan penjelasannya, Ustaz Taslim menyampaikan penafsiran lain dari atsar Abu Sulaiman Ad-Darani, yakni bahwa ibadah adalah kesempatan kerja, kiosnya adalah menyepi diri, dan modalnya adalah takwa.
Menyepi diri dimaknai sebagai upaya berkonsentrasi dalam kesendirian agar hati lebih tenang saat berhadapan dengan Allah. Adapun takwa menjadi modal utama ibadah. Tanpa takwa, ibadah tidak akan membawa hasil yang besar.
Takwa, lanjutnya, berarti menjaga diri dari segala perbuatan yang mendatangkan siksa, baik berupa melakukan larangan maupun meninggalkan kewajiban. Seseorang disebut berhasil apabila kebajikan senantiasa menyertai kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.
“Semoga kita termasuk hamba yang mampu membawa kebaikan di dunia dan akhirat,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments