Kajian menjelang berbuka puasa kedua yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Giri Gajah kembali menghadirkan suasana teduh dan penuh makna pada Selasa (3/3/2026). Bertempat di Musholla Al-Jihad, kajian ini diisi oleh Wakil Ketua PDM Gresik, K.H. Anas Thohir, S.Ag., M.Pd.I., yang menyampaikan materi tentang karakter mulia ‘ibadurrahman dalam Surat Al-Furqan ayat 63–68.
Mengawali kajian, beliau mengajak jamaah membuka Al-Qur’an digital dan meminta salah satu peserta membacakan QS. Al-Furqan ayat 63. Ayat tersebut menggambarkan bahwa hamba Allah yang sejati adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan membalas ucapan orang jahil dengan kata-kata yang baik. Rendah hati, menurut beliau, bukan tanda kelemahan, tetapi ketenangan jiwa tanpa kesombongan.
K.H. Anas kemudian mengaitkan sifat ini dengan suasana penghuni surga yang selalu saling memberi salam, sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 25–26. Di surga, tidak ada kata-kata kotor dan pertengkaran, melainkan ucapan penuh kedamaian—buah dari hati yang bersih dan jiwa yang tenang sejak di dunia.
Dalam konteks ketenangan ibadah itu pula, beliau mengutip hadits Rasulullah SAW yang menekankan agar umat datang ke masjid dengan penuh sakinah, bukan tergesa-gesa. Sikap tenang dalam beribadah, menurutnya, merupakan bagian dari adab seorang mukmin.
Kisah Mulia ‘Ibadurrahman
Kajian berlanjut pada pembahasan QS. Al-Furqan ayat 64 tentang kebiasaan ‘ibadurrahman yang menghidupkan malam dengan sujud dan qiyamul lail. Ayat ini dipertegas dengan QS. Adz-Dzariyat ayat 17–18 dan QS. As-Sajdah ayat 16 yang menekankan pentingnya bermunajat pada akhir malam. Menurut beliau, waktu sahur adalah momentum paling istimewa untuk memohon ampun kepada Allah.
Dilanjutkan dengan pembacaan QS. Az-Zumar ayat 9, beliau menjelaskan bahwa hamba yang baik selalu hidup dalam keseimbangan antara rasa takut dan harap; takut akan azab Allah, namun terus berharap akan rahmat-Nya.
Memasuki pembahasan QS. Al-Furqan ayat 65, K.H. Anas menuturkan kisah tentang seorang hamba yang menangis panjang di neraka hingga malaikat Jibril meminta izin Allah untuk membawanya menghadap. Kisah tersebut mengingatkan jamaah bahwa penyesalan di akhirat tak lagi berguna jika rahmat Allah disia-siakan semasa hidup.
Kajian ditutup dengan pembacaan QS. Al-Furqan ayat 67–68 yang menegaskan pentingnya sikap seimbang dalam berinfak serta larangan syirik, pembunuhan tanpa hak, dan zina. Hadits Nabi SAW tentang dosa-dosa terbesar turut disampaikan.
Ia menegaskan bahwa zina merupakan dosa besar yang merusak tatanan moral dan sosial. Dalam hikmah disebutkan bahwa zina adalah “utang” yang suatu saat akan dibayar, dan maksiat dapat mencabut keberkahan hidup.
Kajian sore hari itu berakhir dengan pesan mendalam agar umat meneladani sifat ‘ibadurrahman: rendah hati, menjaga lisan, menghidupkan malam, dan menjauhi dosa-dosa besar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments