Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Rutin Nashaihul Ibad: Sembilan Hal sebagai Induk Kesalahan Manusia

Iklan Landscape Smamda
Kajian Rutin Nashaihul Ibad: Sembilan Hal sebagai Induk Kesalahan Manusia
Kajian Nashaihul Ibad selepas subuh di masjid Al-Falah Jalen oleh ketua PCM Genteng. (Alib/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kajian rutin kitab Nashaihul Ibad kembali digelar di Masjid Al-Falah Pusdamu, PRM Jalen Genteng, Banyuwangi, setelah salat Subuh pada Jumat (13/3/2026). Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, ustadz Taslim, M.Pd., memimpin kajian dengan topik “Sembilan Hal sebagai Induk Segala Kesalahan Manusia”.

Dalam pemaparannya, ustadz Taslim mengawali kajian dengan menjelaskan sebuah hadits Rasulullah Saw yang mengungkap wahyu Allah kepada Nabi Musa bin Imran dalam Taurat. Disebutkan bahwa pokok dari semua kesalahan manusia berawal dari tiga perkara: sombong, hasud, dan rakus.

Tiga sifat ini kemudian melahirkan enam kesalahan lain, sehingga berjumlah sembilan, yaitu: rasa terlalu kenyang, banyak tidur, terlalu banyak istirahat, cinta harta, cinta pujian, dan cinta jabatan.

Menolak Kebenaran

Lebih lanjut, Taslim menjelaskan bahwa kesombongan muncul ketika seseorang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

“Siapa pun yang merasa dirinya lebih agung dan memandang rendah orang lain, ia termasuk golongan orang sombong,” ujarnya.

Sementara itu, sifat hasud digambarkan sebagai kejahatan yang sangat berbahaya. Mengutip perkataan Muawiyah, ia menyampaikan, “Tidak ada kejahatan yang lebih parah daripada dengki. Orang yang dengki dapat membunuh sebelum ia benar-benar sampai kepada orang yang didengki.”

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Pada bagian berikutnya, ustadz Taslim menyampaikan nasihat Malik bin Dinar r.a. tentang kerakusan terhadap dunia. Malik menyatakan bahwa ketika hati telah mencintai dunia, maka nasihat apa pun tidak lagi bermanfaat. Hal ini dikaitkan pula dengan sikap mencintai harta, sebagaimana pesan Sayid Abdullah Al-Haddad yang menyeru agar manusia mampu menghilangkan kecintaan terhadap emas dan perak hingga memandangnya seperti batu atau tanah.

Taslim kemudian menegaskan pentingnya membersihkan hati dari cinta pujian. Menurutnya, seseorang harus berlatih agar tetap tenang baik ketika dipuji maupun dicela. Hal serupa juga berlaku untuk kecintaan terhadap pangkat dan jabatan.

“Cinta kekuasaan lebih berbahaya daripada cinta harta, karena pangkalnya adalah keinginan untuk diagungkan, padahal keagungan adalah sifat Allah,” jelasnya.

Kajian ditutup dengan penegasan bahwa segala bentuk kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menjerumuskan manusia pada sifat-sifat yang merusak. Mengakhiri pemaparan, Taslim mengingatkan jamaah untuk selalu menjaga hati dan memperbaiki diri. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡