Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Rutin PCM Waru: Hijrah Bukan Sekadar Pindah Tempat, tapi Pindah ke Arah yang Lebih Baik

Iklan Landscape Smamda
Kajian Rutin PCM Waru: Hijrah Bukan Sekadar Pindah Tempat, tapi Pindah ke Arah yang Lebih Baik
pwmu.co -
Kajian rutin PCM Waru, Kabupaten Pamekasan (Ach. Fauzan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Hijrah itu bukan hanya melangkahkan kaki ke tempat baru, tapi memindahkan hati menuju cahaya petunjuk. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Samheri SHI MSh dalam Kajian Rutin yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Waru, Kabupaten Pamekasan pada Sabtu (12/7/2025) malam.

Kajian bertema “Menakar Makna dan Korelasi Hijrah dengan Tahun Baru Hijriyah” ini diselenggarakan di Masjid An-Nur, Jalan Raya Waru, Sotabar. Kajian ini dimulai ba’da Maghrib dan membahas tafsir Surat an-Nisa ayat 97-100, yang menekankan kewajiban hijrah bagi kaum Muslimin yang berada di lingkungan yang tidak memungkinkan mereka menjalankan ajaran agama secara leluasa.

“Hijrah berarti berpindah menuju keadaan yang lebih baik. Jika lingkungan kita sudah dipenuhi kemaksiatan, seperti perjudian atau sabung ayam, atau mungkin kita tinggal di dekat masjid yang megah namun tidak makmur, maka itu pertanda sudah saatnya kita berhijrah,” ujar Samheri.

Samheri juga menuturkan bahwa kedekatan secara fisik dengan masjid tidaklah cukup. Jika shalat berjamaah tidak ditegakkan, tuma’ninah diabaikan, bacaan imam tidak sesuai, serta sulit untuk diberikan masukan atau diingatkan, maka berpindah ke tempat yang lebih baik merupakan pilihan yang dibenarkan.

Ia juga menyoroti realitas di mana seorang imam masjid enggan diganti hanya karena merupakan donatur tetap.

“Jangan sampai status sosial membuat kita buta terhadap kebenaran. Masjid harus dikelola sesuai tuntunan al-Quran dan Sunnah, bukan berdasarkan loyalitas buta,” tegasnya.

Dalam sesi yang diselingi dengan canda santun dan kisah hikmah, Samheri juga menjelaskan makna lambang matahari dalam logo Muhammadiyah.

“Karena kita ingin menjadi kaum yang tercerahkan, maka al-Quran tidak hanya dibaca, tetapi juga dikaji,” tuturnya.

Ia juga mengisahkan tentang seseorang di masa Nabi Musa yang ingin bertaubat dan hijrah. Namun, di tengah perjalanan, orang tersebut meninggal dunia. Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk mengukur jarak antara tempat ia berangkat dan tujuan hijrahnya. Ternyata, jaraknya lebih dekat ke tempat hijrah. Maka, ia pun digolongkan sebagai ahli surga.

“Hijrah itu dinilai dari niat dan usaha. Jangan remehkan langkah awal menuju perubahan,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, Samheri menegaskan bahwa bulan Muharam merupakan waktu yang penuh kedamaian dan sangat tepat untuk melakukan hijrah spiritual. Ia mengajak jamaah untuk memperbanyak shalat berjamaah, menjalankan ibadah sunnah, serta memperbanyak dzikir.

Tak lupa, ia mengutip kisah Prof. Hamka yang semakin rajin melaksanakan shalat taubat di usia senja. Ketika anaknya bertanya alasan di balik kebiasaan tersebut, Hamka menjawab lirih, “Karena akhir-akhir ini saya lebih sering mengingat almarhumah ibumu daripada mengingat Allah.”

Amalan Hijrah: Dzikir, Shalat, dan Puasa

Samheri juga mendorong para jamaah untuk membiasakan dzikir, seperti: Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zalimin, Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil azhim, serta memperbanyak puasa sunnah, seperti puasa Daud atau puasa Senin dan Kamis.

Lebih lanjut, ia mengutip Surat Al-Maidah ayat 6-8, bahwa dzikir dan shalat membersihkan hati sehingga layak menerima nikmat Allah.

“Orang yang jarang berdzikir dan tidak shalat tidak akan merasakan ketenangan dalam hidupnya, sekalipun hartanya melimpah,” tambahnya.

Selanjutnya, pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan menarik dari jamaah mengenai hukum haji ilegal (tanpa visa resmi). Samheri menjawab tegas, “Jarang ulama dan umara yang menyatakan haji ilegal itu sah. Ada banyak amalan lain yang lebih mulia daripada melakukan haji ilegal, seperti menafkahi anak yatim.”

Kemudian, muncul pertanyaan tentang bagaimana shalat taubat jika seseorang masih memiliki utang atau pernah menyakiti sesama. Samheri kemudian menjawab dengan merujuk pada kisah Nabi Muhammad yang tidak mau menshalatkan jenazah orang yang masih memiliki utang.

“Taubat bukan hanya kepada Allah, tetapi juga menyelesaikan hak sesama makhluk,” tegasnya.

Kajian ditutup dengan shalat Isya berjamaah. Malam itu, tak hanya mengingat hijrah Nabi, tapi juga menghidupkan semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari, dari gelap menuju terang, dari lalai menuju taat. (*)

Penulis Ach. Fauzan Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu