
PWMU.CO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Waru, Pamekasan, menggelar Kajian Rutin bertema “Menghidupkan Kembali Makna dan Semangat Hijrah,” pada Sabtu malam (26/7/2025) di Masjid An-Nur, Waru, Sotabar, Pamekasan.
Hadir sebagai narasumber, alumnus S3 Hadits King Saud University dan Pimpinan Maโhad Al-Ittihad Al-Islami Camplong, Sampang, Ustadz Dr. Achmad Junaidi Lc MA. Kegiatan ini berlangsung dari baโda Maghrib hingga Isya dan dihadiri ratusan jamaah.
Ustadz Junaidi membuka kajian dengan menjelaskan bahwa hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan menuju kepada-Nya.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
ููุง ููุฌูุฑูุฉู ุจูุนูุฏู ุงููููุชูุญูุ ูููููููู ุฌูููุงุฏู ูููููููุฉูโฆ
Artinya: โTidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niatโฆโ (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian ia menyitir hadits lain:
ููุงููู ูููุงุฌูุฑู ู ููู ููุฌูุฑู ู ูุง ููููู ุงูููููู ุนููููู
Artinya: โDan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.โ (HR. Bukhari).
Makna hijrah kini, lanjutnya, adalah keberanian meninggalkan zona nyaman menuju zona taat dan perubahan diri ke arah yang lebih baik.
Ia kemudian mengupas makna Q.S An-Nisaโ:97, tentang orang-orang yang tetap tinggal di lingkungan maksiat meski mereka mampu keluar darinya.
โTermasuk orang yang tidak bisa shalat karena terikat pekerjaan dengan gaji besar, padahal bisa mencari alternatif, itu termasuk bentuk kezaliman,โ tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa umat Islam di Indonesia masih diberikan kemudahan besar untuk beribadah, berbeda dengan saudara-saudara Muslim di banyak negara minoritas.
Dalam kajian tersebut, ustadz Achmad Junaidi memotivasi jamaah agar mencintai masjid dan rutin mendatanginya. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
ุฅุฐุง ุฑุฃูุชูู ู ุงูุฑููุฌูู ูุนุชุงุฏู ุงูู ุณุฌุฏู ูุงุดููุฏูุง ููู ุจุงูุฅูู ุงู
Artinya: โJika kalian melihat seseorang terbiasa mendatangi masjid, maka persaksikanlah bahwa ia adalah orang beriman.โ (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Ia mencontohkan salah satu masjid di Bekasi yang berhasil menghidupkan jamaah hingga ribuan, termasuk anak-anak, melalui program sederhana seperti memberi recehan sebagai motivasi ke masjid.
Ia juga membahas peristiwa Perang Buโats, ketika kaum Anshar nyaris terpecah karena provokasi Yahudi. Nabi SAW menegur mereka dengan keras:
ุฃูุจูุฏูุนูููู ุงููุฌูุงูููููููุฉู ููุฃูููุง ุจููููู ุฃูุธูููุฑูููู ูุ
Artinya: โApakah kalian masih menyerukan seruan jahiliyah, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” (Riwayat Thabari, dalam konteks Perang Buโats).
Teguran ini menjadi pengingat bahwa ikatan iman dan ukhuwah lebih utama dari fanatisme suku, golongan, atau kepentingan sesaat.
Mengutip perjuangan KH Ahmad Dahlan, Achmad Junaidi mengajak jamaah untuk menghidupkan nilai-nilai sosial dalam surat al-Maun.
โIman bukan hanya dibaca, tapi diperjuangkan. Membantu orang miskin, anak yatim, dan yang terpinggirkan adalah bentuk hijrah sosial kita hari ini,” tegasnya.
Untuk memperkuat pesan ini, ia menceritakan sebuah kisah inspiratif.
“Ada seseorang yang rutin menyumbang lampu dan makanan untuk masjid. Bertahun-tahun kemudian, ia tertimbun dalam sumur karena kecelakaan, namun ditemukan masih hidup secara ajaib. Banyak yang meyakini bahwa amal baiknya menjadi sebab keselamatan itu,” jelasnya.
Menurutnya, meski kebenaran kisah itu tidak dapat dibuktikan secara sanad, hikmah moralnya tetap kuat yakni amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa jadi cahaya di kegelapan.
Tiga Pilar Strategi Hijrah Rasulullah SAW di Madinah
Ia kemudian merangkum strategi dakwah Rasulullah saat hijrah ke Madinah dalam tiga pilar:
1. Membangun Masjid sebagai pusat ibadah, pembelajaran, dan persatuan.
2. Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, membangun ukhuwah yang melampaui suku dan kelas sosial.
3. Membangun Pasar Islam untuk menegakkan keadilan dan kemandirian ekonomi umat.
Kemudian, ia mengutip QS An-Nisaโ ayat 100:
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya Dia akan memberikan tempat yang luas dan rezeki yang banyak.”
Sementara itu, pada sesi tanya jawab, salah satu jamaah, Dilam, bertanya mengenai shalat sunnah tahiyyatul masjid dan qobliyah Shubuh jika waktunya mepet. Ustadz Junaidi menjawab:
“Jika waktunya mepet, cukup dua rakaat dengan niat qobliyah, yang juga mencakup tahiyyatul masjid. InsyaAllah, dua pahala akan didapat.'”
Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, dan meninggalkan kemaksiatan sebagai bentuk hijrah spiritual yang berkelanjutan.
“Iman yang kuat dan ibadah yang hidup adalah sumber kekuatan. Mari jadikan masjid sebagai pusat peradaban umat,” pungkasnya. (*)
Penulis Ach. Fauzan Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments