Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Unik SD Musix: Khitan Dibahas dari Perspektif Islam dan Kristen

Iklan Landscape Smamda
Kajian Unik SD Musix: Khitan Dibahas dari Perspektif Islam dan Kristen
pwmu.co -

Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa di kediaman Warno Wisanggeni di kawasan Tropodo. Namun, siang itu bukan sekadar ajang silaturahim. Di balik hidangan sederhana dan senyum para guru SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix), tersaji kajian yang menggugah tentang khitan, iman, dan peran manusia sebagai khalifah di bumi.

Momentum ini semakin bermakna karena bertepatan dengan pelaksanaan khitan putra pertama tuan rumah.

Kepala SD Musix, Munahar, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadikan momen ini sebagai sarana belajar bersama.

“Momen ini tidak hanya menjadi kebahagiaan keluarga, tetapi juga kesempatan untuk memperluas wawasan kita tentang khitan dari berbagai perspektif,” ujarnya.

Kajian menghadirkan Masyhud, seorang pemerhati kristologi. Dengan gaya komunikatif, ia membuka tausiyah melalui kisah dialognya dengan seorang pendeta di Swiss.

“Bukankah dalam Perjanjian Lama ada perintah khitan? Lalu kenapa tidak dilakukan?” tanyanya.

Jawaban ringan sang pendeta justru mengundang gelak tawa, mencairkan suasana sebelum masuk ke pembahasan yang lebih mendalam.

Dalam paparannya, Ustaz Masyhud menjelaskan bahwa khitan dalam Islam bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari fitrah dan syariat yang memiliki dimensi ibadah, kebersihan, sekaligus kesehatan.

“Khitan adalah bentuk ketaatan, mengikuti jejak Nabi Ibrahim dan ajaran Rasulullah,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam tradisi Kristen, khitan memiliki akar dalam Perjanjian Lama sebagai tanda perjanjian Tuhan dengan Nabi Ibrahim. Namun, dalam Perjanjian Baru, maknanya bergeser menjadi lebih spiritual.

“Yang ditekankan adalah khitan hati, yakni perubahan iman dan ketulusan batin,” imbuhnya.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa satu praktik dapat berkembang menjadi dua makna: fisik dan spiritual.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kajian mencapai puncaknya ketika pembahasan dikaitkan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, dengan amanah besar untuk menjaga kehidupan.

“Menjadi khalifah berarti menjaga—bukan hanya bumi, tetapi juga diri sendiri,” tegas Ustaz Masyhud.

Dalam konteks ini, khitan dimaknai sebagai simbol awal kesadaran untuk hidup bersih, disiplin, dan taat—langkah kecil menuju tanggung jawab besar.

“Bagaimana mungkin seseorang mampu menjaga alam, jika menjaga dirinya saja belum mampu?” ujarnya menggugah.

Kajian ini membawa peserta pada refleksi mendalam bahwa khitan bukan sekadar ritual fisik atau tradisi turun-temurun, melainkan pintu menuju kesadaran diri sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.

Di ruang sederhana itu, di antara tawa dan kehangatan silaturahim, menguat satu pesan besar: ibadah sekecil apa pun, jika dimaknai dengan benar, dapat mengantarkan manusia pada kesadaran akan tugas besarnya di hadapan Allah.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡