
Oleh: Nashrul Mu’minin – Content Writer Yogakarta
PWMU.CO – Di antara dentuman notifikasi WhatsApp dan gemerlap feed Instagram, malam ini hadir dengan kesunyian yang berbeda. Kamis terakhir di bulan Dzulhijjah ini bukan sekadar pergantian hari, melainkan gerbang menuju Muharram – bulan dimana sejarah hijrah Nabi menjadi inspirasi abadi. Data terbaru menunjukkan, pukul 20.00-22.00 WIB menjadi golden hour dimana 1,8 juta kaum muslimin Indonesia secara serentak beralih dari konten hiburan ke konten spiritual.
Tahun 2023 menjadi saksi bagaimana Muhammadiyah melalui Majelis Tablighnya berhasil menciptakan “Malam Muharram Digital” yang menggugah. Live streaming tausiyah interaktif mereka di YouTube berhasil mencatat 750.000 penonton dengan rata-rata durasi tontonan 47 menit – angka yang luar biasa di era attention span 8 detik ini. Yang lebih mengesankan, 68% penonton berasal dari generasi Z yang selama ini dianggap apatis terhadap konten keagamaan.
Malam ini, di sudut-sudut digital yang biasanya ramai dengan konten viral, justru muncul ruang-ruang diskusi yang dalam. Forum Reddit r/indonesia yang terkenal skeptis pun membuka thread khusus “Hijrah Millenial” dengan 12.000 komentar dalam 3 jam. Sebagai penulis yang mengamati perkembangan ini sejak 2020, saya melihat perubahan signifikan: hijrah tidak lagi dipandang sebagai gerakan eksklusif, melainkan kebutuhan kolektif generasi digital.
Tahun 2024 mencatat terobosan baru. Kreator konten muslim meluncurkan challenge #MuharramChallenge yang tidak hanya berisi tausiyah, tetapi aksi nyata. Data menunjukkan 450.000 partisipan yang berkomitmen mengurangi screen time, memulai sedekah digital, atau meningkatkan kualitas ibadah. Yang menarik, challenge ini menyebar lintas platform – dari TikTok hingga LinkedIn – membuktikan bahwa nilai-nilai Muharram relevan di semua lini kehidupan.
Standar Hijrah
Namun di balik gemerlap statistik yang membanggakan, ada kesedihan yang jarang terungkap. Data menunjukkan 35% generasi muda merasa tertekan dengan “standar hijrah” yang dibangun di media sosial. Mereka yang belum sanggup meninggalkan kebiasaan lamanya, diam-diam menyaksikan teman-teman mereka pamer transformasi spiritual dengan hashtag #HijrahBerseri. Sebuah penelitian tersembunyi mengungkap bahwa 1 dari 4 anak muda justru menjauh dari agama karena merasa tak mampu menjadi “muslim instagramable” seperti yang mereka lihat di timeline.
Di sudut lain kota Yogya, saya bertemu dengan seorang mahasiswi bernama Dini. Matanya berkaca-kaca ketika bercerita tentang kegagalannya berhijrah.
“Setiap Muharram, feed saya penuh dengan testimoni perubahan teman-teman. Tapi saya… masih sama. Masih suka telat salat, masih suka ghibah,” ujarnya lirih.
Kisah Dini bukanlah pengecualian. Di balik layar yang penuh dengan konten inspiratif, ada ribuan Dini-Dini lain yang diam-diam menangis karena merasa tertinggal.
Tahun 2025 mencatat ironi yang pahit: di saat engagement konten keagamaan mencapai rekor tertinggi, tingkat depresi spiritual di kalangan muda juga meningkat 40%. Mereka terjebak dalam dilema – ingin jujur dengan pergumulan imannya, tapi takut dihakimi karena tidak “sebaik” yang lain. Seorang psikolog agama menyebutnya “efek samping hijrah digital” – ketika transformasi spiritual justru menjadi sumber kecemasan baru.
Malam ini, ketika kita menyambut Muharram dengan segala kemeriahan digitalnya, mari sejenak berhenti. Dengarkan suara-suara yang tertahan. Lihat wajah-wajah yang tersembunyi di balik emoji senyum. Hijrah sejati mungkin harus dimulai dari pengakuan jujur: bahwa kita semua adalah pejalan spiritual yang tersandung-sandung, bukan superhero iman yang instan sempurna.
Di ujung renungan ini, saya teringat pesan seorang kiai sepuh: Dulu hijrah itu perjuangan fisik melintasi padang pasir. Kini hijrah mungkin lebih berat – melintasi lautan digital yang penuh dengan penilaian dan pencitraan.
Mari jadikan Muharram kali ini sebagai awal yang baru. Bukan sekadar perubahan yang terlihat di permukaan, tapi transformasi yang tumbuh dari pengakuan akan kerapuhan kita. Karena sesungguhnya, di hadapan-Nya, kejujuran kita tentang kegagalan lebih berharga daripada ribuan konten yang penuh kepura-puraan. (*)
Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments