
PWMU.CO – Dalam berbagai forum resmi, Muhammadiyah populer sebagai Gerakan Dakwah dan Tajdid. Kalimat ini berulang kali kita dengar, kita hafal, dan bahkan kita tulis dalam visi dan misi kampus.
Tetapi, jujur masih tersisa satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama, “Sudahkah kampus Muhammadiyah sungguh-sungguh hadir sebagai Brand Ambassador dakwah Islam Berkemajuan di tengah masyarakat?”
Semua pasti tahu, Muhammadiyah membangun kampus bukan semata untuk bersaing dalam dunia pendidikan. Lebih dari itu, kampus Muhammadiyah juga merupakan panggung dakwah, benteng ideologi, dan sekaligus jendela bagi publik untuk melihat wajah Islam yang berkemajuan.
Kampus adalah ‘etalase’ besar tempat nilai-nilai Persyarikatan Muhammadiyah ditampilkan, diperjuangkan, dan diteladankan. Namun hari ini, kita harus jujur mengakui tidak semua kampus Muhammadiyah terutama di daerah belum berhasil secara optimal memainkan peran strategis ini.
Bagi Muhammadiyah, kampus bukan hanya tempat mengajar/belajar, meneliti dan pengabdian. Kampus adalah media dakwah, laboratorium ideologi, dan wajah nyata dari Islam yang tercerahkan. Inilah nilai unik yang membedakan kampus Muhammadiyah dengan perguruan tinggi lain non Muhammadiyah. Namun dalam praktiknya, kita sering menemukan kampus yang lebih sibuk menata akreditasi daripada memperkuat narasi ideologi. Branding kampus hanya sebatas brosur, baliho, dan akun media sosial tanpa ruh.
Ketika kita menyebut kampus sebagai Brand Ambassador, itu berarti kita sedang bicara tentang dakwah berbasis citra dan makna. Bukan sekadar logo, seragam, atau jargon. Tapi tentang pesan yang ditranformasikan kampus kepada masyarakat. Apakah kampus dibawah naungan Perserikatan Muhammadiyah saat ini sudah benar-benar menjadi simbol dari Islam yang mencerdaskan, membebaskan, dan mencerahkan?
Branding dakwah bukan urusan promosi. Ini soal kredibilitas moral dan konsistensi ideologis. Seberapa besar kampus Muhammadiyah menyuarakan nilai-nilai keislaman dalam kebijakan publik? Bagaimana kesungguhan para dosennya dalam menyuarakan keadilan sosial, kebangsaan, kepedulian umat dan menyuarakan ruh Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar? Seberapa dalam mahasiswa merasakan proses pembentukan ideologi Islam Berkemajuan, bukan hanya pengetahuan formal semata?
Masyarakat butuh wajah Muhammadiyah
Sudah saatnya kampus Muhammadiyah berhenti menjadikan kampus sebagai menara gading yang asing dari umat. Kampus Muhammadiyah harus kembali ke tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya dengan kegeiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), tapi juga dengan curah gagasan, gerakan, dan keteladanan. Kampus harus menjadi ruang bagi dialog Islam dan sains, antara nilai-nilai agama dan tantangan zaman sangat cepat berubah. Inilah sejatinya tugas Brand Ambassador menjembatani ideologi dengan realitas.
Diperlukan keberanian dari pimpinan kampus, dosen, hingga mahasiswa untuk menyuarakan nilai-nilai Islam Berkemajuan secara terbuka. Bukan dalam wacana retoris, tapi dalam praktik. Dari cara mengajar, cara berpikir, hingga cara bersikap terhadap isu sosial lingkungan. Kita perlu membenahi kesadaran bersama bahwa kampus adalah alat dakwah, bukan hanya alat akademik. Rektor, dosen, mahasiswa, hingga tenaga kependidikan harus menyadari bahwa setiap aktivitas di kampus—mulai dari cara mengajar, berpakaian, berbicara, hingga bersikap adalah bagian dari dakwah Muhammadiyah.
Kampus juga harus proaktif menyusun strategi branding berbasis nilai. Bukan hanya mengiklankan program studi, tapi menyuarakan keberpihakan pada kebenaran, kemanusiaan, keilmuan, dan umat. Setiap fakultas, setiap pusat studi, harus menjadi corong nilai Muhammadiyah yang relevan dan progresif.
Sekedar pengingat, Muhammadiyah sudah punya modal ideologis dan historis yang luar biasa. Kita punya Kiai Haji Ahmad Dahlan dan para pendiri kampus yang telah meletakkan nilai-nilai pembaruan, keilmuan, dan kesalehan sosial. Kita punya konsep Islam Berkemajuan yang bisa menjadi narasi kuat dalam dunia akademik dan sosial hari ini. Tugas kita sekarang adalah menyuarakan kembali itu semua dengan percaya diri dan konsisten. Jangan sampai kampus Muhammadiyah hanya dikenal karena bangunan megahnya, tapi tidak dikenal karena nilai-nilai dakwahnya.
Jika kita ingin masyarakat mengenal Muhammadiyah, maka kampuslah jembatannya. Kampus yang menyuarakan Islam yang ramah, rasional, dan berkemajuan. Sebagai kampus yang hidup di tengah masyarakat, bukan yang asing dari umatnya. Kampus yang bukan hanya pandai membanggakan nama persyarikatan, tapi juga benar-benar menjadi wajah terbaik dari dakwah Muhammadiyah.
Mari kita benahi bersama. Karena kampus Muhammadiyah bukan sekadar institusi. Ia adalah wakil resmi dakwah kita kepada dunia.(*)
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments