Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kaizen Universitas Muhammadiyah Surabaya menggelar kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) pada Jumat (7/11/2025) hingga Ahad (9/11/2025) bertempat di SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Salah satu pemateri yang memberikan materi dalam kegiatan ini adalah Wakil Direktur Pascasarjana UM Surabaya, Dr. Sholikhul Huda, M.Fil.I.
Dalam pemaparannya, Dr. Sholikhul Huda menjelaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan transformasi, yakni perubahan dari keadaan tiada menjadi ada. “Awalnya tidak ada sekolah, lalu Muhammadiyah mendirikan sekolah. Itu contoh gerakan transformasi,” ujarnya.
Ia kemudian membedakan antara beberapa bentuk perubahan. Menurutnya, reformasi adalah mengubah bentuk dari yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik. Sementara itu, evolusi berarti memperbaiki secara bertahap, dan revolusi berarti menghapus yang lama untuk membangun sesuatu yang benar-benar baru.
“Pola dakwah Muhammadiyah itu transformatif. Itulah karakter dakwah berkemajuan,” tegas pria yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren YTP Kertosono tersebut.
Dalam kesempatan itu, Dr. Sholikhul Huda juga menyinggung tentang slogan Universitas Muhammadiyah Surabaya, yaitu “Kampus Sejuta Inovasi.” Ia mengajak para kader IMM untuk berpikir kritis terhadap makna slogan tersebut.
“Sebagai mahasiswa dan kader IMM, kalian dituntut menjadi sosok yang kritis. Coba pikirkan, mengapa disebut sejuta inovasi, bukan semiliar atau seribu? Itulah contoh cara berpikir kritis,” ungkapnya.
Ia menambahkan, seharusnya setiap jurusan memiliki mata kuliah pengantar filsafat untuk melatih kemampuan berpikir mahasiswa. Menurutnya, seorang teknisi pun perlu memiliki kemampuan problem solving dan berpikir kritis. Jika di jurusan teknik hal itu belum diajarkan, maka di situlah fungsi IMM.
“IMM menjadi wadah keilmuan bagi materi-materi yang tidak didapatkan di perkuliahan. Misalnya, tentang fenomena sosial, keagamaan, politik, hingga ekonomi,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments