Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kamu Bukan Bodoh, Kamu Cuma Salah Cara Belajar

Iklan Landscape Smamda
Kamu Bukan Bodoh, Kamu Cuma Salah Cara Belajar
Foto: collegeparentcentral.com
pwmu.co -

Pernah enggak sih, kamu ngerasa sudah belajar mati-matian? Kopi sudah tiga gelas, begadang sampai pagi, highlighter hampir habis setengah, catatan penuh coretan warna-warni.

Tapi begitu duduk di ruang ujian… blank. Kosong. Yang muncul di kepala justru lirik lagu viral di TikTok atau potongan video yang kemarin kamu tonton.

Atau mungkin kamu pernah nonton tutorial coding, desain, atau materi kuliah di YouTube. Saat menonton, rasanya gampang banget. “Oh, gini doang toh.”

Tapi begitu kamu buka laptop dan coba praktik sendiri—zongk. Enggak tahu harus mulai dari mana.

Rasanya frustrasi. Kita mulai menyalahkan diri sendiri. “Jangan-jangan gua emang enggak bakat.” “Atau otak gua emang lemot.”

Padahal, ada satu kabar penting: Masalahnya bukan di otak kamu. Masalahnya bukan seberapa lama kamu belajar, tapi bagaimana cara kamu belajar.

Kesalahan Besar yang Selama Ini Kita Anggap “Belajar”

Sejak kecil, sebagian besar dari kita diajari cara belajar yang kelihatannya rajin, tapi sebenarnya pasif. Dan belajar pasif inilah biang kerok kenapa ilmu cepat hilang, bikin ngantuk, dan cuma bertahan sebentar di kepala.

Seperti dilansir di kanal Youtube Misi Tuntas, sebelum masuk ke solusi, kita perlu jujur dulu: apakah kebiasaan belajarmu termasuk yang berikut ini?

1. Membaca Ulang (Musuh Nomor Satu)

Kita baca buku. Baca catatan. Lalu dibaca lagi. Dan lagi.

Kita berpikir, “Kalau dibaca berkali-kali, pasti masuk.”

Masalahnya, yang terjadi bukan pemahaman, tapi familiaritas. Otak kita jadi kenal kata-katanya, bukan konsepnya.

Inilah yang disebut ilusi kompetensi: merasa paham, padahal sebenarnya cuma akrab.

2. Menstabilo Segalanya

Stabilo warna-warni, kelihatan produktif. Masalahnya, hampir semua bagian terasa “penting”. Akhirnya satu halaman penuh warna.

Yang lebih bahaya, stabilo memberi sinyal palsu ke otak: “Oh, ini sudah ditandai, berarti sudah dipelajari.”

Padahal yang aktif cuma tangan, bukan otak. Itu bukan belajar—itu mewarnai.

3. Merangkum yang Sebenarnya Copy-Paste

“Tenang, gua enggak cuma baca. Gua merangkum.” Coba jujur. Rangkumanmu itu benar-benar hasil pemahaman, atau cuma memindahkan kalimat dari buku ke catatan dengan bahasa sedikit diubah?

Kalau cuma memparafrase, itu masih pasif. Kamu belum memaksa otak untuk berpikir.

Kenapa Belajar Pasif Selalu Gagal?

Belajar pasif itu seperti nonton video orang nge-gym di YouTube. Kamu nonton berjam-jam. Kamu tahu tekniknya. Kamu tahu urutannya.

Tapi… apakah ototmu jadi besar? Enggak. Karena otot tumbuh saat dipakai, bukan ditonton.

Begitu juga otak. Otak bukan hard drive yang tugasnya cuma menyimpan data. Otak adalah prosesor. Ia harus mengolah informasi supaya benar-benar paham dan ingat.

Lalu, bagaimana caranya?

Dua Teknik Inti yang Mengubah Cara Kerja Otak

Kalau kamu cuma menguasai dua teknik ini saja, cara belajarmu akan berubah total.

1. Active Recall: Mengangkat Beban untuk Otak

Active recall artinya memaksa otak untuk mengambil kembali informasi dari dalam kepala, bukan sekadar melihatnya.

Ini memang terasa sulit. Capek. Kadang bikin minder. Tapi justru di situlah proses belajarnya.

Cara praktiknya sederhana: Tutup buku atau videonya, setelah baca satu bab atau nonton satu materi, tutup semuanya.

Ambil kertas kosong. Tulis semua yang kamu ingat. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri.
Bisa ke tembok, bisa ke kucing, bisa ke diri sendiri.

Temukan blank spot. Saat kamu mentok dan berpikir, “Eh, tadi bagian ini apa ya?” Itu bukan kegagalan. Itu petunjuk.

Blank spot menunjukkan bagian yang benar-benar belum kamu kuasai. Ubah catatan jadi pertanyaan. Jangan menulis: “Fotosintesis adalah proses…”

Tapi ubah jadi: “Bagaimana proses fotosintesis?”

Apa saja bahan utamanya?”

Catatanmu seharusnya seperti kuis, bukan novel.

Latihan soal sejak awal. Jangan tunggu “merasa siap”. Justru latihan soal adalah proses belajarnya.

Salah itu normal. Setiap kali kamu berhasil mengingat tanpa melihat catatan, koneksi di otakmu jadi jauh lebih kuat.

2. Feynman Technique: Kalau Bisa Menjelaskan, Berarti Paham

Pernah dengar orang bicara pakai istilah rumit, muter-muter, tapi intinya enggak jelas?
Biasanya itu tanda satu hal: dia belum benar-benar paham.

Richard Feynman, fisikawan jenius, punya prinsip sederhana: “Kalau kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa sederhana, berarti kamu belum memahaminya.”

Langkahnya: Pilih satu konsep. Misalnya inflasi. Jelaskan ke anak 8 tahun. Tanpa istilah ribet. Inflasi itu seperti harga permen. Dulu uang seribu dapat lima permen. Sekarang cuma dapat dua.

Tandai bagian yang bikin ‘umm…’ Saat kamu bingung menjelaskan, itulah blank spot. Isi kekosongan, lalu sederhanakan lagi. Buka buku hanya untuk bagian itu. Lalu jelaskan ulang dengan bahasa sederhana.

Teknik ini membunuh hafalan buta. Yang tersisa cuma pemahaman murni.

Biar Ilmu Nempel Lama, Bukan Cuma Sampai Ujian

Masalahnya, otak kita memang didesain untuk lupa. Ini disebut forgetting curve.

Hari ini belajar → besok lupa 50%.
Minggu depan → tinggal 10%.

Sistem kebut semalam (SKS) hampir pasti gagal. Solusinya? Spaced repetition.

Belajar itu seperti menyiram tanaman. Enggak bisa langsung disiram 10 galon sehari. Yang ada malah mati.

Cukup siram sedikit, tapi rutin. 10–15 menit saja, asal pakai active recall.

Bisa dibantu aplikasi seperti Anki atau Quizlet. Ini jauh lebih efektif daripada 5 jam belajar panik semalam sebelum ujian.

Musuh Terbesar: Distraksi

Semua teknik di atas bisa gagal kalau satu hal ini tidak dikendalikan: notifikasi. Otak kita butuh 15–20 menit untuk masuk ke kondisi fokus penuh (flow state). Setiap notifikasi memecah fokus itu.

Ibarat mesin diesel: baru panas, dimatikan lagi. Kapan jalannya? Solusinya: Deep Work.

Tentukan blok waktu fokus penuh (60–90 menit). Kalau terlalu berat, mulai dari kecil

Gunakan Pomodoro: 25 menit fokus, 5 menit istirahat. Ulangi 4 kali

Percaya deh, 25 menit fokus total jauh lebih produktif daripada 2 jam sambil buka HP.

Ubah Cara Mainnya

Berhenti jadi kolektor stabilo. Berhenti SKS. Berhenti menyalahkan otak sendiri. Belajar efisien itu bukan bakat, tapi skill. Dan skill bisa dilatih—mulai malam ini.

Coba satu hal saja dulu. Misalnya, setelah membaca artikel ini, tutup layarnya. Coba jelaskan kembali poin-poin utamanya ke diri sendiri.

Lihat betapa cepat otakmu beradaptasi. Karena kenyataannya, kamu jauh lebih pintar dari yang selama ini kamu kira. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu