Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kang Arul Kupas Digital Branding: Dakwah Harus Punya DNA

Iklan Landscape Smamda
Kang Arul Kupas Digital Branding: Dakwah Harus Punya DNA
Kang Arul saat menyampaikan materi. (Alfain/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kang Arul Kupas Digital Branding: Dakwah Harus Punya DNA

Suasana aula BPSDM Jawa Timur berubah cair ketika giliran Dr Rulli Nashrullah MSi, atau akrab disapa Kang Arul, tampil membawakan materi “Digital Branding Blueprint” dalam gelaran Akademi Da’i Digital Muhammadiyah yang diselenggarakan LDK PP Muhammadiyah, Sabtu (30/8/2025) malam.

Bukan sekadar menyampaikan teori, pakar komunikasi digital sekaligus anggota MPI PP Muhammadiyah ini mengajak peserta bereksperimen langsung.

Ia membagi dua lembar kertas kosong, meminta peserta menuliskan ciri khas sekaligus kelebihan dan kekurangannya masing-masing. “Lima menit saja,” ujarnya sembari tersenyum.

Tawa pun pecah ketika Kang Arul melontarkan candaan khasnya. “Kalau masih cicilan HP, nggak boleh ikut acara ini. Kita maunya yang halal ya…” ujarnya disambut riuh peserta.

Kang Arul memancing peserta dengan pertanyaan sederhana, “Siapa di sini yang sudah bikin konten, ngeditnya susah, tapi yang komen cuma sedikit?” Beberapa tangan langsung terangkat, diikuti gelak tawa bersama.

Ia lalu menampilkan contoh konten viral: mulai dari video dua jam “tidak melakukan apa-apa” hingga kanal keluarga sederhana yang ditonton miliaran kali. Pesannya tegas: “Banyak orang kira konten bagus itu alatnya bagus. Padahal yang terpenting bukan produk, tapi siapa konsumennya. Sesuaikan target dakwahnya.”

Branding Adalah DNA

Menurut Kang Arul, dakwah digital tak bisa hanya mengandalkan isi ceramah. Perlu ciri khas yang konsisten atau dalam istilah branding, disebut DNA.

“Sekarang coba tulis satu kalimat tentang branding kalian, ciri khas saat berdakwah,” tantangnya. Beberapa peserta pun diminta membacakan hasil tulisannya di depan forum.

Ia mencontohkan lewat analogi sederhana: permen Kopiko. “Kalau dipasarkan sebagai bentuk permen, targetnya anak-anak. Tapi kalau dipasarkan sebagai rasa kopi, targetnya laki-laki dewasa. Jadi, branding itu menentukan siapa audiens kita,” jelasnya.

Tak hanya bicara konsep, Kang Arul juga menyinggung soal teknis: pentingnya tripod agar video tidak goyang, microphone yang jelas meski murah, hingga pencahayaan sederhana. “Bukan soal alat mahal. Bahkan HP entry-level pun bisa asal paham tekniknya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, jangan sampai dai digital hanya menampilkan wajah serba putih karena filter kamera, atau sibuk bergaya dengan batik formal. “Cukup pakai kaus pun bisa. Yang penting DNA-nya kuat, branding-nya jelas, dan pesannya nyampe,” katanya.

Inspirasi bagi Dai Muda

Sesi Kang Arul membuat peserta antusias. Banyak yang tersenyum dan mengangguk, menyadari kesalahan mereka selama ini dalam membuat konten. Ada juga yang tampak mencatat serius setiap analogi yang ia sampaikan.

Bagi para peserta, inilah bekal berharga: bahwa dakwah digital bukan sekadar tampil di layar, tapi menghadirkan identitas, ciri khas, dan nilai yang konsisten di setiap konten.

“Branding itu dimulai dari keunikan kita. Kalau DNA dakwah sudah jelas, maka audiens akan mengenali kita meski tanpa diperkenalkan,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu