Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kapital Menentukan Masa Depan, Buya Anwar Abbas Dorong Muhammadiyah Cetak Saudagar

Iklan Landscape Smamda
Kapital Menentukan Masa Depan, Buya Anwar Abbas Dorong Muhammadiyah Cetak Saudagar
pwmu.co -
Dr H Anwar Abbas MM MAg saat berceramah di Masjid Al Badar (Huda/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr H Anwar Abbas MM MAg, menyampaikan refleksi mendalam tentang tantangan strategis yang dihadapi umat Islam dan organisasi Muhammadiyah dalam era kontestasi global.

Hal itu ia sampaikan dalam Pengajian Pencerah Ahad Pagi Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya yang digelar di Masjid Al Badar, Kartonenanggal V/2, Gayungan Surabaya, Ahad (22/6/2025).

Dalam ceramahnya, Buya Anwar mengawali dengan pujian terhadap kemajuan Muhammadiyah di Jawa Timur. Ia menyebut, jumlah dan penyebaran amal usaha Muhammadiyah di wilayah ini sangat mencolok dibanding daerah-daerah lain di Indonesia.

“Saya bangga, hampir di setiap kota di Jawa Timur ada sekolah atau rumah sakit Muhammadiyah. Di kampung saya, Sumatera Barat, cuma satu dua. Ini menunjukkan Muhammadiyah di sini bergerak dan hidup,” katanya.

Namun, di balik kekagumannya, Buya Anwar juga mengajukan pertanyaan kritis: apakah kemajuan itu cukup untuk menjawab tantangan masa depan? Ia menyoroti lemahnya kekuatan ekonomi Muhammadiyah yang tercermin dari minimnya representasi pengusaha dalam struktur kepemimpinan.

“Dari ratusan pengurus wilayah, hanya satu orang yang berlatar belakang pengusaha, itu pun usaha kecil. Ini ironi. Padahal, masa depan tidak cukup ditentukan oleh ilmu saja, tapi juga kapital dan kekuatan ekonomi,” tegasnya.

Menurut Buya Anwar, dunia hari ini dikendalikan oleh mereka yang menguasai sumber daya, terutama modal dan teknologi. Ia mencontohkan bagaimana kekuatan korporasi dan kapital besar menentukan arah kebijakan bahkan di negara adidaya seperti Amerika Serikat.

“Yang menentukan arah politik dunia itu bukan lagi tentara atau politisi, tapi para pemilik modal. Mereka yang bisa menggerakkan opini dan keputusan,” ujarnya.

Buya Anwar juga mengaitkan realitas global tersebut dengan posisi umat Islam Indonesia. Ia menyampaikan, dalam beberapa forum internasional, Indonesia dipandang sebagai kekuatan strategis umat Islam dunia. Namun ia mempertanyakan, apakah Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia benar-benar siap mengambil peran itu?

“Saya senang ketika seorang tokoh Iran mengatakan, Islam akan kembali memimpin dunia, dan itu akan datang dari Indonesia. Tapi saya juga sedih, karena kita belum sepenuhnya siap. Kita belum punya basis ekonomi dan teknologi yang kuat untuk menopang cita-cita itu,” ucapnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di hadapan ratusan jamaah dari PCM dan PCA se-Kota Surabaya, Buya Anwar juga menyampaikan bahwa umat Islam hanya akan mampu berbicara di pentas dunia jika mampu membangun kekuatan dari bawah, terutama dalam penguasaan sains, teknologi, dan ekonomi.

Ia mengkritisi mentalitas puas diri dan zona nyaman yang seringkali menjangkiti organisasi besar seperti Muhammadiyah. Menurutnya, otokritik adalah bagian penting agar organisasi tetap adaptif terhadap perubahan zaman.

“Kalau kita merasa cukup dan nyaman, itu tanda bahaya. Kita harus terus melakukan pembaruan dan evaluasi,” tegasnya.

Ia pun menyinggung perubahan karakter Muhammadiyah sejak awal berdiri hingga hari ini. Jika dulu banyak pimpinan Muhammadiyah berasal dari kalangan saudagar, kini didominasi oleh birokrat dan pegawai negeri.

“Padahal, sejarah Muhammadiyah tidak lepas dari peran saudagar. Mereka yang dulu membiayai dakwah dan amal usaha. Hari ini, mencari pengusaha di Muhammadiyah seperti mencari uban di kepala anak muda, nyaris tidak ada,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Kajian ini juga dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Dr Sulthon Amin, Wakil Ketua PDM Kota Surabaya Drs H Suhadi M Sahli, dan Ketua PCM Gayungan Sugeng Santoso. Hadirin memadati ruang utama masjid dengan antusiasme mendengarkan ceramah yang membumi dan penuh perenungan.

Buya Anwar menutup ceramahnya dengan sebuah pernyataan tegas: jika Muhammadiyah ingin menjadi kekuatan utama umat, maka ia harus bersiap memasuki arena baru—arena yang menuntut kekuatan ilmu, teknologi, dan bisnis, serta konsistensi dalam menjaga identitas gerakan Islam berkemajuan. (*)

Penulis M Tanwirul Huda Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu