Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Karunia Sejati: Tenang dalam Ujian, Syukur dalam Nikmat

Iklan Landscape Smamda
Karunia Sejati: Tenang dalam Ujian, Syukur dalam Nikmat
Foto: worldhijabday.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya; sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 59)

Segala sesuatu di alam semesta ini berasal dari karunia Allah. Dialah yang menciptakan dan menetapkan ukuran bagi setiap makhluk dan peristiwa.

Tak ada satu pun yang terjadi tanpa izin dan ketetapan-Nya. Apa yang tampak kecil di mata manusia, bisa jadi sangat besar di sisi Allah.

Begitu pula sebaliknya, apa yang dianggap mulia oleh manusia, bisa saja tidak bernilai di hadapan-Nya.

Dalam kehidupan, kita sering kali menilai sesuatu berdasarkan ukuran duniawi — pangkat, jabatan, harta, atau pujian manusia. Padahal, kemuliaan sejati justru terletak pada ketulusan hati dan kesucian niat.

“Jika engkau menganggap sesuatu yang mulia sebagai kehinaan, maka hinalah dia. Dan jika engkau tak mengharapkan sesuatu, maka jiwamu akan melupakannya.”

Jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk selalu meminta dan mengejar lebih. Bila terus dimanjakan, ia tak akan pernah merasa cukup. Namun, jika dilatih untuk menerima yang sedikit dan bersyukur, ia akan menemukan ketenangan dan kepuasan yang sejati.

Cobalah melihat seorang petani di desa. Ia bekerja keras sejak pagi hingga senja, menanam padi di bawah terik matahari.

Penghasilannya tidak seberapa, rumahnya sederhana, namun setiap kali azan berkumandang, ia berhenti dari pekerjaannya dan mengangkat tangan memuji kebesaran Allah.

Hatinya tenang, senyumnya tulus, dan malam harinya ia tidur dalam kedamaian. Bukankah itu bentuk karunia yang agung?

Bandingkan dengan seorang pejabat yang setiap hari dikelilingi kemewahan, namun pikirannya tak pernah tenang. Ia khawatir kehilangan jabatan, takut disalip oleh orang lain, dan selalu merasa kurang. Hartanya banyak, tapi hatinya gersang. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah:

“Maka adapun manusia, apabila Rabb mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka ia berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Namun apabila Rabb mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata: ‘Rabbku telah menghinaku.’” (QS. Al-Fajr: 15–16)

Padahal, pembatasan rezeki bukanlah bentuk penghinaan, melainkan ujian agar manusia belajar bersyukur dan tidak sombong. Allah ingin melihat sejauh mana seorang hamba tetap beriman dan berprasangka baik kepada-Nya di tengah kesempitan.

Nilai seorang manusia tidak terletak pada apa yang ia miliki, tetapi pada siapa dirinya yang sebenarnya. Bukan pada rumah yang megah atau pakaian yang indah, melainkan pada akhlak yang lembut, sabar, dan bermanfaat bagi orang lain.

Seorang guru yang gajinya pas-pasan namun mendidik murid dengan sepenuh hati, lebih mulia di sisi Allah daripada orang kaya yang hartanya hanya mempertebal ego dan kesombongan.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kebahagiaan sejati pun bukan terletak pada banyaknya harta atau gemerlap dunia. Betapa banyak orang yang memiliki segalanya namun hidup dalam kesepian. Sementara ada yang hidup sederhana, tapi penuh tawa dan syukur bersama keluarga.

Lihatlah seorang ibu yang dengan penuh cinta menyiapkan makanan sederhana untuk keluarganya. Di tengah dapur kecil, ia bersenandung lirih, hatinya bahagia karena bisa melayani orang-orang yang dicintainya. Tak ada emas, tak ada berlian, tapi di sanalah hadir karunia Allah berupa ketenangan batin.

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum.” (QS. At-Taubah: 55)

Karunia terbesar dari Allah bukanlah kekayaan yang berlimpah, tetapi hati yang bersyukur. Sebab, dengan rasa syukur, yang sedikit pun terasa cukup. Dan dengan keluh kesah, yang melimpah pun terasa kurang.

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58)

Maka, berbahagialah bukan karena memiliki segalanya, tetapi karena merasa cukup dengan apa yang telah Allah beri. Setiap detik kehidupan, setiap napas yang masih berhembus, setiap langkah yang dapat kita ayunkan, semuanya adalah karunia-Nya — hadiah yang terlalu berharga untuk diabaikan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu