Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kaur SDI SD Musix: Bukan “Malaikat Penghakim”, tetapi Penguat Sistem Kinerja

Iklan Landscape Smamda
Kaur SDI SD Musix: Bukan “Malaikat Penghakim”, tetapi Penguat Sistem Kinerja
Komisi A sosialisasikan PKP pada Agenda Raker SD Musix. Foto: Basirun/PWMU.CO
pwmu.co -

Suasana sidang pleno Rapat Kerja (Raker) SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya berlangsung dinamis pada Sabtu (7/3/2026). Peserta tampak serius menyimak paparan program, namun sesekali tawa pecah ketika muncul komentar spontan dari forum.

Sidang pleno tersebut menjadi puncak rangkaian Raker yang telah berlangsung sejak Sabtu (28/2/2026). Selama sepekan, guru dan karyawan dibagi ke dalam lima komisi untuk merumuskan program kerja tahun ajaran 2026–2027.

Raker tahunan ini sebelumnya dibuka oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo Surabaya, Ir. H. Lukman Rahim. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga pola pikir positif di lingkungan sekolah.

“Tolong jaga mindset positif. Berdasarkan pemetaan, sekitar 65 persen staf berada pada level strong growth mindset, 35 persen pada level growth mindset, dan tidak ditemukan staf pada level fixed mindset,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Wonokromo, Anang Syaifudin Junaidi, S.E., S.H., M.S.A. Ia mengajak seluruh elemen sekolah menjaga budaya disiplin sekaligus mempertahankan energi positif demi kemajuan lembaga.

Enam Komisi Paparkan Program

Ketua Panitia Raker, Hidayatunni’mah, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa forum dibagi menjadi lima komisi yang masing-masing membahas bidang strategis sekolah.

“Komisi A membahas Sumber Daya Insani yang dipimpin Puspita Wati, S.Pd. Komisi B membahas Sarana dan Prasarana dipimpin Darmaji, S.Pd. Komisi C membahas Ismuba dipimpin Basirun, S.Pd. Komisi D tentang Kehumasan dipimpin Nurmala, S.Pd., Komisi E membahas Kurikulum dipimpin Anisah Herwati, S.Pd.I., M.Pd., dan Komisi F membahas kesiswaan dipimpin saya sendiri,” jelasnya.

Setiap komisi diberi waktu sekitar satu jam untuk memaparkan hasil evaluasi sekaligus rencana program kerja tahun mendatang. Setelah pemaparan, peserta forum diberi kesempatan memberikan tanggapan dan masukan.

Paparan Komisi SDI Menarik Perhatian

Di antara lima komisi yang tampil, pemaparan Komisi A yang membidangi Sumber Daya Insani (SDI) menjadi salah satu sesi yang paling menyita perhatian peserta.

Ketua Komisi A, Puspita Wati, memaparkan sistem Penilaian Kinerja Pegawai (PKP) yang akan menjadi dasar penentuan tunjangan kinerja (tukin) sekaligus bahan pertimbangan kenaikan kepangkatan.

“Kami meminta seluruh kepala urusan membantu memberikan laporan kegiatan yang melibatkan pegawai,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap kegiatan pegawai akan memperoleh skor penilaian. Jika nilai berada di bawah batas tertentu, tunjangan kinerja pada bulan tersebut tidak dapat dicairkan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dalam standar operasional prosedur (SOP) yang dipaparkan, skor kinerja dibagi menjadi beberapa kategori, yakni nilai 70–80 kategori C, 81–90 kategori B, dan 91–100 kategori A.

Forum Sempat Diwarnai Tawa

Penjelasan tersebut memancing komentar spontan dari salah satu peserta yang duduk di barisan belakang.

“Waduh, Kaur SDI sekarang seperti malaikat Raqib dan Atid, ya!” celetuknya.

Komentar itu langsung disambut gelak tawa peserta sidang yang sejak awal serius mengikuti paparan.

Meski demikian, Puspita segera meluruskan bahwa sistem penilaian tersebut tidak dilakukan secara sepihak.

Penilaian Dilakukan Bertahap

Menurutnya, proses penilaian kinerja pegawai dilakukan melalui tiga tahap agar lebih objektif dan transparan.

Pertama, staf SDI melakukan input data kegiatan pegawai. Selanjutnya proses verifikasi dilakukan oleh Kepala Urusan SDI. Tahap terakhir dilakukan oleh bendahara sekolah yang memastikan aspek administrasi dan keuangan.

“Kita sama-sama tahu bagaimana bendahara sekolah menjaga kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan,” ujar guru yang saat ini sedang menempuh studi magister Manajemen di ITB Asia Malang tersebut.

Bukan Malaikat Penghakim

Menutup pemaparannya, Puspita menegaskan bahwa sistem penilaian tersebut bertujuan membangun budaya kerja yang lebih profesional.

“Kaur SDI bukanlah malaikat yang memberikan judgment, tetapi berusaha membangun sistem yang dapat menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab individu,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sistem penilaian kinerja di SD Musix tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan untuk mendorong budaya kerja yang lebih profesional dan bertanggung jawab. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu