Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kaya dan Miskin Hanyalah Ujian, Bukan Ukuran Kemuliaan

Iklan Landscape Smamda
Kaya dan Miskin Hanyalah Ujian, Bukan Ukuran Kemuliaan
Foto: Shutterstock
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Ketika ada orang kaya yang saking kayanya ia bingung uangnya mau diapakan, di situlah akhirnya tidak sedikit orang menggunakan hartanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Bahkan, sebagian justru terjerumus pada perilaku yang melalaikan, menumbuhkan kesombongan, dan menyeret kepada dosa. Pada titik ini, harta yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi ujian yang gagal disyukuri.

Sebaliknya, ketika ada orang miskin yang saking terbatasnya harta, saat ia memiliki sedikit uang pun ia kebingungan: mana yang harus didahulukan—makan hari ini, biaya sekolah anak, atau kebutuhan mendesak lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit yang akhirnya merasa hidupnya selalu kurang, diliputi kegelisahan, bahkan putus asa. Ketika rasa cukup hilang, syukur pun kerap ikut menghilang.

Subhanallahu,
Dari dua kondisi yang tampak bertolak belakang itu, kita belajar bahwa persoalannya bukan terletak pada kaya atau miskin, melainkan pada bagaimana sikap hati kita dalam menghadapi keduanya.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian…” (QS. Al-Fajr: 15–17)

Ayat ini menegaskan bahwa kelapangan rezeki bukan bukti kemuliaan, dan kesempitan rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya hanyalah ujian. Kekeliruan manusia adalah ketika menilai cinta dan murka Allah semata-mata dari banyak atau sedikitnya harta.

Kita sering menjumpai orang yang hartanya melimpah, rumahnya besar, kendaraannya mewah, tetapi hidupnya jauh dari ketenangan.

Hubungan keluarga rapuh, ibadah lalai, dan kepedulian sosial menipis. Harta tidak mengangkat derajatnya di sisi Allah, karena tidak diiringi dengan iman dan amal saleh.

Sebaliknya, tidak sedikit pula kita temui orang yang hidup sederhana, penghasilannya pas-pasan, namun lisannya basah dengan syukur, tangannya ringan membantu sesama, dan hatinya lapang menerima takdir. Meski miskin secara materi, ia kaya dengan keimanan dan ketenangan batin. Inilah kemuliaan sejati.

Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Hadis ini menegaskan bahwa kaya hati—merasa cukup, bersyukur, dan tidak diperbudak oleh dunia—adalah ukuran sejati kekayaan. Sebaliknya, hati yang selalu merasa kurang adalah bentuk kemiskinan yang paling menyiksa, meskipun harta berlimpah.

Ujian Syukur dan Sabar

Orang kaya diuji dengan syukur:
Apakah hartanya mendekatkan dirinya kepada Allah atau justru menjauhkannya?
Apakah hartanya mengalir untuk zakat, infak, dan sedekah, atau hanya berhenti pada kenikmatan pribadi?

Orang miskin diuji dengan sabar:
Apakah keterbatasan membuatnya tetap menjaga iman dan usaha halal, atau justru mendorongnya pada keputusasaan dan keluh kesah yang berlebihan?

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Maka benarlah, kekayaan bukan tanda kemuliaan dan kemiskinan bukan tanda kehinaan. Yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah iman, takwa, syukur, dan sabar. Dunia hanyalah ladang ujian, bukan tempat penilaian akhir.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu bersyukur ketika dilapangkan rezeki dan bersabar ketika diuji dengan keterbatasan.

Wallahu A‘lam Bisshawab. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu