Di era digital yang serba cepat ini, kita terbiasa hidup dalam kepastian dan presisi. Kita bisa memprediksi cuaca esok hari dengan akurasi tinggi, mengetahui posisi gerhana matahari sepuluh tahun mendatang hingga detik yang presisi, atau mengirimkan paket data lintas benua dalam hitungan milidetik.
Teknologi telah menunjukkan bahwa keteraturan adalah kunci kemajuan. Namun, sebuah ironi masih menyelimuti umat Islam di seluruh dunia setiap tahunnya: ketidakpastian waktu. Pertanyaan klasik seperti, “Hari apa Lebaran tahun ini?” atau “Kapan dimulainya puasa?” bukan sekadar tanda ketidaktahuan orang awam.
Pertanyaan itu adalah simptom atau gejala dari penyakit peradaban yang lebih serius. Ketika dunia menuntut presisi dan keteraturan sistem (nizam), sistem penanggalan umat Islam justru sering terjebak dalam ambiguitas. Perbedaan metode penetapan awal bulan sering kali memicu polemik tahunan. Tak jarang, tetangga yang hanya terpisah dinding rumah bisa merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda.
Dalam kacamata Islam Berkemajuan, kondisi ini bukan sekadar masalah perbedaan tafsir dalil semata. Ketiadaan kalender yang terunifikasi secara internasional dipandang sebagai sebuah kemunduran peradaban (civilizational setback). Islam, yang sejatinya adalah Din al-Hadharah (agama peradaban), menuntut adanya keteraturan, kedisiplinan, dan kepastian waktu.
Selama berabad-abad, diskursus penentuan awal bulan didominasi oleh dikotomi dua kubu: mereka yang melihat bulan dengan mata (rukyat) dan mereka yang menghitung posisi bulan (hisab).
Metode observasi visual (rukyatul hilal) yang bersifat empiris-lokal sangat rentan terhadap subjektivitas. Keterbatasan pandangan mata manusia, faktor cuaca mendung, hingga polusi cahaya di perkotaan bisa mengubah keputusan hukum bagi jutaan orang.
Dalam perspektif Informatika, metode rukyat konvensional ini bisa diibaratkan sebagai proses pengumpulan data manual yang memiliki margin of error (tingkat kesalahan) tinggi dan sulit diverifikasi secara real-time (seketika) di seluruh dunia. Jika server data di satu lokasi “down” (tertutup mendung), apakah seluruh sistem jaringan harus berhenti bekerja? Tentu tidak.
Di sinilah Teknik Informatika dan Astronomi menawarkan jalan keluar melalui perubahan paradigma: transisi dari verifikasi manual menuju verifikasi berbasis algoritma komputasi presisi.
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi keputusan strategis Muhammadiyah melalui Muktamar ke-47 dan diperkuat dengan hasil Kongres Internasional Turki 2016, sejatinya adalah penerapan algoritma cerdas untuk menyelesaikan masalah fikih.
KHGT bekerja layaknya sebuah sistem terintegrasi yang tidak lagi bergantung pada laporan pandangan mata yang parsial. Ia bekerja menggunakan parameter algoritma yang sangat ketat: elongasi bulan-matahari minimal 8 derajat dan tinggi bulan minimal 5 derajat di atas ufuk.
Angka-angka ini bukan sembarang tebakan, melainkan hasil riset astronomis mendalam untuk meminimalisir kesalahan deteksi (false positive) yang sering terjadi dalam observasi manual. Ini adalah bentuk upgrade teknologi: dari sistem manual yang rawan error dan bias, menuju sistem komputasi yang deterministik, objektif, dan dapat diprediksi.
Harmonisasi Sains dan Wahyu: Membedah Manhaj Tarjih
Mungkin ada sebagian masyarakat yang bertanya dengan skeptis, “Apakah mengganti mata dengan algoritma komputer itu sah secara agama? Bukankah Nabi menyuruh kita melihat bulan?.”
Di sinilah terlihat keindahan konsep Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang bersifat integratif. Dalam Islam Berkemajuan, kebenaran tidak diperoleh hanya dari satu pintu saja. Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani (teks), burhani (sains/rasio), dan irfani (etika/rasa) secara bersamaan untuk menjawab tantangan zaman.
Secara bayani (tekstual), perintah Nabi SAW untuk melakukan rukyat “Berpuasalah kalian karena melihatnya…”—dipahami secara kontekstual sesuai situasi dan kondisi umat.
Rukyat bukanlah tujuan ibadah (ghayah), melainkan hanya sarana (wasilah) untuk mengetahui masuknya bulan baru. Pada zaman Nabi, melihat bulan dengan mata adalah satu-satunya “teknologi” yang tersedia bagi masyarakat umum yang saat itu belum mengenal ilmu hisab.
Namun, ketika sains (Burhani) hari ini menyediakan sarana yang lebih akurat, pasti, dan prediktif melalui algoritma komputasi astronomi, maka beralih dari wasilah rukyat ke wasilah hisab adalah sebuah keniscayaan logis.
Islam tidak melarang penggunaan teknologi, justru Islam mendorong umatnya menggunakan metode terbaik yang tersedia. Menolak hisab yang akurat demi mempertahankan rukyat manual sama halnya dengan menolak menggunakan jam tangan digital untuk waktu salat dan bersikeras menggunakan tongkat bayang-bayang matahari.
Lebih jauh, aspek Irfani (etika) menekankan pentingnya nilai kemaslahatan. Penerapan KHGT memberikan manfaat besar berupa kepastian dan persatuan. Sebaliknya, mempertahankan metode lama yang terus memicu perbedaan penetapan hari raya dianggap menimbulkan mudarat, seperti kebingungan dan perpecahan sosial.
Apa yang dilakukan Muhammadiyah dengan mengadopsi KHGT dapat dianalisis menggunakan teori Revolusi Ilmiah dari filsuf Thomas Kuhn. Saat ini, kita sedang berada dalam fase pergeseran paradigma (paradigm shift).
Metode rukyat (paradigma lama) mulai mengalami banyak kegagalan dalam menjelaskan fenomena global. Misalnya, bagaimana menentukan puasa bagi astronaut di luar angkasa, atau bagi muslim di daerah kutub yang siklus siang-malamnya ekstrem? Metode manual gagal menjawab ini.
Sebaliknya, hisab global hadir sebagai “paradigma baru” atau major update yang mampu menjawab anomali tersebut dengan data yang deterministik.
Algoritma KHGT memungkinkan kita memprediksi posisi bulan hingga ratusan tahun ke depan, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh metode rukyat manual.
Sebagai masyarakat yang hidup di era informasi, pola pikir kita pun harus mengalami transformasi. Dari pola pikir tekstual-tradisional yang kaku, menuju pola pikir rasional-ilmiah yang berkemajuan. Inilah esensi dari Dakwah Pencerahan (At-Tanwir).
Dalam dunia jaringan komputer, kita mengenal istilah synchronization (sinkronisasi). Bayangkan jika server di Amerika, Asia, dan Eropa memiliki pengaturan jam sistem yang berbeda-beda, tentu kekacauan data global akan terjadi.
Hal serupa terjadi dalam umat Islam saat ini. Ketiadaan kalender pemersatu menyebabkan tanggal 10 Zulhijah (Hari Arafah), puncak ibadah haji bisa berbeda antara Arab Saudi dan Indonesia. Akibatnya, terjadi disonansi kognitif yang membingungkan: di Mekkah jamaah sedang wukuf, sementara di Indonesia kita mungkin sudah melaksanakan Salat Idul Adha atau justru masih berpuasa Arafah.
KHGT hadir menawarkan solusi “Satu Hari, Satu Tanggal” bagi seluruh dunia, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah secara serentak dan selaras.
Ini adalah implementasi sistem yang terunifikasi (unified system). Konsep ini menghapus batas-batas wilayah negara (matlak) yang sudah tidak relevan di era globalisasi.
Ketika parameter algoritma terpenuhi di belahan bumi manapun, maka bulan baru dinyatakan telah masuk untuk seluruh penduduk bumi. Teknologi di sini berperan sebagai alat perekat persatuan (Wahdatul Ummah).
Manhaj Tarjih menggunakan kaidah saddu al-dzari’ah (menutup jalan keburukan) untuk menempatkan persatuan di atas kepentingan sektoral. Membiarkan perbedaan terus terjadi dengan dalih “keyakinan lokal” justru bertentangan dengan semangat ukhuwah islamiyah.
Mewujudkan sistem kalender global yang terpadu menjadi tantangan besar yang harus segera dihadapi. Ini bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengangkat martabat umat Islam di kancah global.
Ini adalah ujian bagi umat Islam: apakah kita siap naik kelas menjadi umat yang modern dan bersatu, atau tetap nyaman dalam kejumudan tradisi yang memecah belah?.
Sudah saatnya umat Islam tidak lagi bertengkar soal tanggal hanya karena perbedaan metode “melihat”. Mari kita gunakan energi persatuan kita untuk membangun peradaban yang lebih besar.
Dengan KHGT, kita tidak hanya menyatukan kalender, tetapi juga menyinkronkan detak jantung umat Islam di seluruh dunia dalam satu irama waktu, semua itu dimulai dari algoritma. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments