Ikhlas adalah sifat yang sangat terpuji. Seseorang yang memiliki jiwa ikhlas akan menjadikan seluruh sikap, perkataan, dan perbuatannya semata-mata karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala, tanpa ada keinginan untuk dipuji oleh makhluk. Keikhlasan seseorang akan menentukan langkahnya dalam beraktivitas sehari-hari.
Sifat ikhlas yang tertanam dalam diri juga akan meringankan seseorang dalam menjalani berbagai kegiatan hidup serta menumbuhkan semangat untuk berlomba dalam kebaikan tanpa menoleh kepada orang lain. Dengan keikhlasan pula, amal yang kita lakukan akan diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Perintah Berbuat Ikhlas
Sebagai orang beriman, tentu kita ingin membuktikan keimanan dalam kehidupan sehari-hari dengan niat yang tulus semata-mata karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Allah telah memerintahkan kita untuk berbuat ikhlas sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 162:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Perintah ini diperkuat lagi dalam surah Al-Bayyinah ayat 5:
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”
Keikhlasan seseorang terdapat di dalam hati dan tidak tampak oleh pandangan manusia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala menilai seseorang berdasarkan hatinya, bukan rupa atau bentuk tubuhnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan tubuh kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, amal yang bersumber dari hati yang kotor akan rusak dan tidak bernilai ibadah. Islam menuntun kita agar senantiasa menyadari bahwa hanya hati yang bersih dan ikhlaslah yang akan diterima serta mendapatkan balasan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Efek Berbuat Ikhlas
Satu, Syarat Diterimanya Amal
Setiap perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas akan membawa ketenangan jiwa serta melapangkan jalan dalam menghadapi berbagai persoalan. Keikhlasan menjadi perisai dari godaan setan, karena setan mengakui tidak mampu menggoda hamba-hamba Allah yang ikhlas. Tanpa keikhlasan, amal kebaikan tidak akan diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Dua, Meringankan Amal yang Berat
Jiwa yang ikhlas menjadikan sesuatu yang sulit terasa mudah dan yang berat menjadi ringan. Keikhlasan juga menutup pintu-pintu menuju akhlak tercela. Ketidakikhlasan seringkali membuat seseorang merasa paling hebat, sehingga masalah kecil menjadi besar dan persoalan ringan terasa berat. Sebaliknya, bila segala sesuatu dilakukan semata-mata karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala, maka semua persoalan akan terasa ringan dan menenangkan jiwa.
Tiga, Menumbuhkan Kekuatan Rohani
Setiap sikap, ucapan, dan tindakan yang dilakukan karena Allah akan menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa melaksanakan ajaran agama dengan teguh. Orang yang ikhlas tidak menoleh ke kanan atau ke kiri untuk mencari pujian manusia. Jiwa seperti ini akan melahirkan kekuatan rohani yang kokoh, karena ia selalu mengingat Allah dan berusaha menjauhi perbuatan yang dapat mendatangkan murka-Nya.
Empat, Menunjukkan Kesempurnaan Iman
Sifat ikhlas merupakan tanda kesempurnaan iman. Amal yang didasari iman dan keikhlasan akan memperkuat keimanan itu sendiri. Tanpa keikhlasan, amal yang dilakukan tidak akan diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Oleh sebab itu, penting bagi setiap mukmin untuk menanamkan keikhlasan dalam mengarungi samudra kehidupan yang fana ini agar setiap langkah, gerak, dan usaha kita semata-mata ditujukan untuk meraih ridha-Nya serta berjalan di atas kebenaran. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments