Oleh: Nanang Purwono
Jurnalis Senior dan Sejarawan
Tidak ada pahlawan tanpa kejuangan. Ungkapan ini menegaskan bahwa perjuangan adalah syarat mutlak untuk meraih predikat pahlawan.
Seseorang tidak bisa disebut pahlawan jika tidak melalui proses panjang yang sarat pengorbanan, kerja keras, dan konsistensi.
Kepahlawanan bukanlah gelar yang datang secara tiba-tiba, melainkan buah dari perjalanan penuh tantangan.
Menjadi pahlawan tidak semata-mata soal mendapatkan pengakuan atau gelar kehormatan. Esensinya terletak pada proses pengorbanan diri demi tujuan yang lebih besar dan mulia.
Sama halnya dengan menjadi juara, kemenangan bukan hanya soal berdiri di podium, tetapi tentang proses latihan, disiplin, dan kesungguhan yang dijalani jauh sebelum kompetisi dimulai.
Keberhasilan itu serupa dengan kelulusan sekolah. Untuk lulus dengan nilai yang baik, seorang pelajar harus menempuh proses belajar yang tekun, penuh kesabaran, dan kerja keras.
Begitu pula perjuangan—tidak selalu identik dengan pertempuran fisik seperti perang kemerdekaan 1945. Perjuangan dapat berbentuk kontribusi di bidang pendidikan, kemanusiaan, seni, olahraga, dan bidang lainnya.
Dari proses itulah lahir para pahlawan di berbagai ranah, seperti Pahlawan Olahraga, Pahlawan Ekonomi, atau Pahlawan Pendidikan.
Perjuangan dan kepahlawanan ibarat satu paket: proses dan hasil. Keduanya adalah Dwi Tunggal yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam konteks sejarah Indonesia, istilah Dwi Tunggal kerap merujuk pada hubungan erat antara Soekarno dan Mohammad Hatta—dua tokoh dengan latar belakang, karakter, dan gaya kepemimpinan yang berbeda, namun memiliki tujuan dan visi yang sama: memerdekakan bangsa. Bahkan dalam teks Proklamasi tercantum jelas: “Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno–Hatta.”
Konsep Dwi Tunggal ini relevan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pembangunan kota Surabaya. Dalam peraturan daerah (Perda) yang mengatur visi pembangunan kota, unsur “kejuangan” dan “kepahlawanan” harus disebutkan secara jelas.
Kejuangan adalah proses, sedangkan kepahlawanan adalah hasil. Tanpa proses, hasil tidak akan bermakna; tanpa hasil, proses menjadi tidak lengkap. Ibarat pepatah, No gain without pain atau Jer basuki mawa bea—tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.
Memasuki bulan Agustus, bulan kemerdekaan, kita diingatkan kembali akan nilai-nilai ini. Perjuangan dan kepahlawanan harus berjalan beriringan.
Sayangnya, sebagian orang menganggap kedua kata ini sama, padahal keduanya memiliki makna dan nilai yang berbeda. Kejuangan berbicara tentang semangat, keteguhan, dan usaha; kepahlawanan adalah wujud nyata dari semangat itu dalam bentuk keberhasilan dan teladan.
Sama seperti Soekarno dan Hatta yang saling melengkapi, kejuangan dan kepahlawanan juga harus menjadi pilar dalam menjalankan roda pembangunan.
Dulu, kejuangan digunakan untuk merebut kemerdekaan; kini, kejuangan harus kita gunakan untuk mengisi dan menyukseskan pembangunan. Bung Karno pernah berpesan:
“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”
Pesan ini relevan hingga hari ini. Musuh terbesar kadang bukan lagi penjajah dari luar, melainkan kemalasan, perpecahan, dan hilangnya semangat juang dari dalam diri.
Sejak dahulu hingga sekarang, pihak-pihak yang ingin menguasai bangsa selalu berupaya melemahkan semangat kejuangan rakyatnya.
Karena itu, mari jaga semangat “Bersiap!” dan “Merdeka!”—dua kata yang dulu ditakuti penjajah, dan sekarang seharusnya tetap membakar semangat kita untuk terus berjuang demi bangsa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments