PWMU.CO – Sebanyak 763 pesilat dari 24 negara ambil bagian dalam Kejuaraan Dunia Tapak Suci ke-2 yang digelar di GOR Pertamina Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rabu-Ahad (31/7–3/8/2025).
Negara-negara peserta datang dari berbagai benua, termasuk Palestina, Thailand, Malaysia, Singapura, Kazakhstan, Uzbekistan, Aljazair, Mesir, Suriah, Belanda, Prancis, Jerman, Australia, Irak, Taiwan, Timor Leste, Nigeria, Mozambik, Pakistan, Etiopia, Uganda, Yaman, dan Republik Chad. Indonesia sebagai tuan rumah tentu menjadi peserta dengan kontingen terbanyak.
Kejuaraan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad Tapak Suci ke-62 yang jatuh pada 31 Juli 2025 kemarin.
Ketua Panitia Kejuaraan Dunia Tapak Suci ke-2, Prof Dr Ir Moch Sasmito Djati MS IPU ASEAN Eng, yang juga Ketua Pimpinan Wilayah II Tapak Suci Jawa Timur, menyampaikan bahwa kejuaraan ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga misi kebudayaan dan diplomasi internasional.
“Tujuan dari World Championship ini adalah untuk pengembangan budaya serta filosofi Indonesia ke luar. Kemudian, kami ingin Pencak Silat dalam pengertian yang sebenarnya, bukan hanya Tapak Suci, itu bisa diterima di Olimpiade,” ungkapnya.
Menurutnya, jika Pencak Silat diterima di olimpiade, maka eksistensi Tapak Suci akan makin diperhitungkan.
“IPSI itu kan terdiri dari berbagai perguruan. Kami berharap perguruan-perguruan lain juga membahas Tapak Suci. Kalau nanti bisa masuk olimpiade, pasti besar,” imbuhnya.

Kategori dan Fasilitas Internasional
Berbeda dengan gelaran pertama, Kejuaraan Dunia Tapak Suci ke-2 ini dibagi dalam tiga kategori perlombaan: olahraga, seni, dan jurus. Hari pertama dikhususkan untuk babak seleksi atlet dalam negeri, dilanjutkan dengan semifinal dan pertandingan antarnegara mulai hari kedua hingga akhir kejuaraan.
Panitia juga menyediakan fasilitas lengkap untuk atlet mancanegara, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga program wisata. Bahkan, pembukaan acara yang digelar Jumat (1/8/2025) malam di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya disiapkan secara istimewa, menggunakan tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab.
Kejuaraan ini tak sekadar menjadi arena pertarungan teknik beladiri, tetapi juga menjadi panggung dakwah budaya, solidaritas antarbangsa, dan pembuktian bahwa Tapak Suci siap melangkah ke pentas dunia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments