Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Keluarga Seharusnya Menjadi Pelindung, Bukan Pelaku

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Gambar ilustrasi (freepik.com/PWMU.CO)

Oleh: Rohana – Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah Surabaya

PWMU.CO – Lingkungan yang seharusnya melindungi anak kerap kali justru menjadi arena kekerasan dan pelecehan seksual. Karena itu, keluarga berperan sangat penting sebagai garda terdepan dalam melindungi anak dan mencegah adanya kasus yang ramai akhir-akhir ini.

Anak adalah anugerah dari Tuhan, dan orang tua berkewajiban membesarkannya dengan baik karena itu merupakan tanggung jawab mereka. Idealnya, keluarga berfungsi sebagai tempat perlindungan sekaligus sumber kasih sayang bagi anak. Keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terlepas dari peran penting keluarga.

Namun, pada kenyataanya sekarang banyak kasus pelecehan seksual yang pelakunya sendiri adalah orang-orang terdekat si anak, seperti tiga kasus yang beredar kemarin, yang pertama pada tanggal 7 April 2025 yaitu seorang ayah, kakak, dan kakek yang mencabuli anak berumur 5 tahun dan kejadian ini terjadi di rumah si kakek. Aksi ini dilakukan oleh ayah dan paman korban pada waktu yang berbeda beda dan mirisnya aksi ini dilakukan sudah berkali-kali.

Kasus yang kedua adalah seorang balita laki-laki di kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara tewas usai dianiaya selama tiga hari oleh pacar ibunya. Kasus yang terbaru, di media sosial saat ini yakni fantasi sedarah. Fantasi sedarah merupakan nama grup yang ada di facebook, dimana dalam grup itu banyak sekali pedofil yang rata-rata adalah keluarga terdekat si anak yang saling curhat tentang perbuatan pelecehan mereka terhadap anaknya sendiri, sungguh sangat miris sekali.

Kasus ini menunjukkan bahwa keluarga tak lagi selalu menjadi tempat aman bagi anak. Alih-alih memberi ruang perlindungan, lingkungan keluarga justru berpotensi merusak pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan psikologis mereka.

Akibatnya, kondisi mental anak dapat hancur dan meninggalkan trauma yang sulit terhapus. Jumlah korban kekerasan dan pelecehan pun kian meningkat setiap tahun. Berdasarkan data sistem informasi online perlindungan perempuan dan anak (Simfoni PPA), tercatat pada rentang Januari hingga Juni 2024, terdapat 7.842 kasus kekerasan terhadap anak dengan 5.552 korban anak perempuan dan 1.930 korban anak laki-laki, di mana kasus kekerasan seksual menempati urutan pertama dari jumlah korban terbanyak sejak tahun 2019 sampai tahun 2024.

Dari data ini bisa kita lihat betapa banyaknya korban pelecehan seksual dan kekerasan pada anak, dari data ini juga, kita bisa melihat kasus pelecehan dan kekerasan lebih banyak dialami oleh anak perempuan dari pada anak laki-laki. Bisa jadi masih banyak korban lain di luar sana yang belum terdata, mereka memilih diam karena takut melapor kepada pihak berwenang.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak tentunya sangat mempengaruhi pertumbuhan anak ke depannya. Anak yang mengalami trauma seringkali kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, dan dampaknya, pertumbuhan serta perkembangannya dapat terhambat oleh pengalaman yang seharusnya tidak mereka alami.

Mengatasi masalah ini memerlukan peran dan tanggung jawab orang tua, tetapi kenyataannya sebagian orang tua justru menjadi ancaman bagi anak. Karena itu, peran pemerintah sangat diperlukan: memperkuat perlindungan masyarakat dan menjatuhkan hukuman tegas kepada para pelaku.

Untuk mencegah kejadian serupa, pemerintah perlu memberikan edukasi kepada orang tua dan keluarga dekat, mengingat pelaku kerap berasal dari lingkungan terdekat anak. Orang tua juga perlu mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai keislaman, sehingga memahami bahwa perbuatan keji semacam ini sangat dibenci oleh Allah Swt.

Oleh karena itu, marilah kita menyadari sepenuhnya bahwa sebagai orang tua, baik ibu atau ayah, kita memiliki tanggung jawab yang besar atas pertumbuhan dan perkembangan anak. Kita wajib memberikan hal-hal positif yang mendukung mereka, bukan justru merusaknya. Anak adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita rawat dengan baik, bukan disakiti dengan perbuatan keji yang membawa dampak buruk. (*)

Penulis Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu