
PWMU.CO – Suasana hening menyelimuti Bumi Perkemahan Agro Mulia, Prigen, Pasuruan, saat 206 siswa SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo berdiri berbaris rapi, Ahad (11/5/2025). Mereka bukan sekadar berkemah. Para anggota Kepanduan Hizbul Wathan (HW) ini sedang menjalani Latihan Kepanduan dan SAR (Latpansar), sebuah agenda rutin yang tak sekadar melatih fisik, tetapi juga membentuk karakter kemanusiaan.
“Latpansar ini menjadi momen penting untuk membekali para siswa dengan keterampilan tanggap darurat dan semangat kepedulian sosial,” ujar Daviqa Sukmawati, Ketua Qabilah KH Mas Mansoer Smamda.
Menurutnya, pelatihan ini dirancang agar para siswa siap menjadi kader persyarikatan, kader umat, kader bangsa, dan kader kemanusiaan global.
Kegiatan ini menghadirkan simulasi penanganan bencana yang melibatkan empat klaster utama: pos koordinasi (poskor), dapur umum, medis, dan tim SAR. Smamda bekerja sama dengan MDMC dan KOKAM Wilayah Jawa Timur, serta Rumah Sakit Sepanjang dan Lazismu Jawa Timur, guna memberikan pelatihan yang realistis dan aplikatif.
“Di poskor, peserta belajar tentang manajemen kebencanaan: mulai dari pengumpulan data, pengiriman tim SAR, hingga distribusi logistik,” jelas Daviqa. Sementara itu, di klaster medis, siswa mempelajari penanganan gawat darurat, luka fisik, hingga gangguan psikologis akibat bencana.
Tim SAR dilatih melakukan pencarian korban dan mengidentifikasi tingkat kegawatdaruratan menggunakan sistem penanda warna: merah, kuning, dan hijau. Mereka kemudian mengevakuasi korban sesuai kategori. Sedangkan dapur umum menjadi pusat logistik makanan bagi seluruh peserta dan relawan.
“Peserta tim dapur umum kami ajarkan memasak dan menyiapkan 200 porsi makanan. Ini bukan hanya soal masak, tapi belajar logistik dalam situasi darurat,” tambahnya.
Pentas Seni dan Lomba Masak Meriahkan Kemah

Tak hanya diisi dengan pelatihan serius, kemah juga menyuguhkan suasana ceria di malam hari. Setiap kelas unjuk gigi dalam pentas seni (pensi) yang menampilkan nyanyian, tari, dan drama musikal yang telah dipersiapkan jauh hari.
“Pensi ini dilombakan, jadi anak-anak sangat antusias menampilkan yang terbaik,” kata M. Zainal Arifin, Sekretaris Qabilah.
Kegiatan spiritual juga tak luput dari agenda. Salat tahajud, salat berjemaah dengan jamak dan qashar, hingga senam pagi menjadi bagian dari rutinitas kemah. “Imam dan muazin berasal dari siswa sendiri. Ini ajang pembelajaran sekaligus pembiasaan ibadah di lapangan,” ujar Ramanda Zainal.
Latpansar HW Smamda membuktikan bahwa kemah bukan sekadar tenda dan api unggun. Di balik itu, ada proses pembentukan kader-kader muda yang siap menyingsingkan lengan untuk misi kemanusiaan, kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.
Penulis Moh Ernam Editor Zahra Putri Pratiwig





0 Tanggapan
Empty Comments