Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kematian Bocah SD di NTT dan Gugatan atas Nurani Bangsa

Iklan Landscape Smamda
Kematian Bocah SD di NTT dan Gugatan atas Nurani Bangsa
Abdi Hariyadi. Foto: Dok/Pri
Oleh : Andi Hariyadi Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Kota Surabaya
pwmu.co -

Kematian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Setiap kali terdengar kabar duka, kita turut mendoakan.

Namun, ketika yang wafat adalah seorang bocah siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), nurani kita tersentak.

Peristiwa ini membuka kembali persoalan kemiskinan ekstrem di tengah kesibukan negara menyusun agenda besar menyongsong Indonesia Emas 2045.

Indonesia Emas dicita-citakan hadir melalui bonus demografi yang menjadi salah satu pilar penting menuju bangsa yang lebih sejahtera, makmur, mandiri, adil, berdaulat, dan kuat di berbagai bidang.

Keamanan terjaga, sosial-ekonomi meningkat, pendidikan unggul dan berkarakter—semua menjadi bagian dari visi besar tersebut.

Namun, bocah yang baru berusia 10 tahun itu memiliki mimpi sederhana: menamatkan pendidikan. Ia terhalang kondisi ekonomi keluarga yang jauh dari sejahtera.

Ia berniat membeli perlengkapan sekolah dengan meminta uang kepada ibunya. Jawabannya singkat dan getir: tidak ada uang. Bahkan untuk makan sehari-hari pun sulit terpenuhi.

Mimpi tentang perubahan dan kesejahteraan runtuh. Yang tersisa hanyalah kenangan, air mata, keprihatinan, dan duka mendalam. Seorang anak yang seharusnya menjadi bagian dari generasi emas bangsa telah pergi.

Perjalanan sekitar 29 tahun menuju Indonesia Emas masih dibebani persoalan kemiskinan. Bisa jadi, di berbagai pelosok negeri, kemiskinan masih meradang di tengah limpahan kekayaan sumber daya alam yang belum sepenuhnya dikelola untuk kesejahteraan yang berkeadilan.

Nurani bangsa pun bertanya: bagaimana jalannya pemerintahan? Bagaimana tata kelola kekayaan alam? Ke mana hasilnya selama ini mengalir? Untuk kesejahteraan siapa? Apakah kemiskinan dibiarkan bertahan?

Apakah program kesejahteraan sosial hanya menjadi alat pencitraan dan perolehan suara untuk melanggengkan kekuasaan? Apakah suara rakyat dibungkam oleh kesombongan dan ambisi memperkaya diri yang terus berulang?

Kematian tragis bocah yang diharapkan menjadi bagian dari bonus demografi ini patut menjadi refleksi: apakah ini pertanda matinya nurani bangsa? Apakah telah terjadi penyimpangan arah dari cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi kesejahteraan bagi segelintir pribadi dan kolega?

Bangsa ini dibangun dengan perjuangan dan pengorbanan. Kemerdekaan diraih dengan darah dan air mata. Namun, ironi sosial masih kerap terlihat. Anggaran besar digelontorkan untuk seremonial, sementara keterlantaran nyata di depan mata.

Tunjangan dan fasilitas kesejahteraan bagi kalangan tertentu begitu melimpah, sementara kemiskinan—dengan derai air mata dan keringat—kurang mendapat sentuhan pemberdayaan dan akses menuju kesejahteraan.

Indonesia darurat kepedulian. Kebangkitan nurani bangsa menjadi keharusan untuk mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan.

Anak yang menjadi korban kemiskinan ekstrem hingga kehilangan nyawa adalah cermin bahwa kehadiran negara dalam menjamin kesejahteraan belum optimal.

Penelantaran yang berkepanjangan tanpa perubahan nyata adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa.

Penanganan kemiskinan tidak boleh bersifat musiman demi meraih dukungan suara. Jika demikian, ia akan menjadi bom waktu yang mengancam peradaban bangsa.

Pengentasan kemiskinan harus berkelanjutan, terintegrasi, dan melibatkan kebijakan serta kelembagaan di semua tingkatan.

Tidak boleh berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi, karena langkah yang tidak sistematis hanya akan menuai simpati sesaat dan berujung pada kegagalan.

Penelantaran kemiskinan yang berujung pada kematian adalah bencana kemanusiaan. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya,” demikian lirik lagu kebangsaan karya WR. Supratman.

Pesan itu begitu mendalam: membangun jiwa adalah fondasi membangun raga. Jiwa yang kuat melahirkan tata kelola yang jujur, kebijakan yang adil, dan pembangunan yang berpihak.

Jika pembangunan jiwa gagal, yang lahir adalah manusia-manusia rakus dan korup; infrastruktur dibangun, tetapi kesejahteraan ditelan untuk kepentingan pribadi, sementara rakyat dibiarkan lapar.

Nurani bangsa tidak boleh berhenti peduli. Ia tidak boleh diam dalam menyuarakan dan memperjuangkan keadilan sosial.

Nurani yang tangguh akan melahirkan kesejahteraan yang merata. Nurani bangsa tidak rela jika generasi emas tumbuh tanpa daya.

Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk benar-benar membangun Indonesia Raya—dengan jiwa yang hidup dan keadilan yang nyata. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu