Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kematian: Pintu Gerbang Menuju Kebahagiaan Akhirat

Iklan Landscape Smamda
Kematian: Pintu Gerbang Menuju Kebahagiaan Akhirat
pwmu.co -
Mas Choliq di mata Din Syamsuddin dan Saad Ibrahim begitu istimewa. Wafatnya Kepala Kantor PWM itu meninggalkan kenangan indah bagi keduanya.

PWMU.CO – Kehidupan dan kematian berjalan beriringan. Dalam kehidupan ada kematian. Dalam kematian pun ada kehidupan. Bagi sebagian manusia kehidupan dunia yang lebih disukai. Sedangkan kematian ditakuti.

Padahal kematian itu suatu yang pasti. (QS. Ali Imran 183). Kemanapun mereka bersembunyi, kematian akan menghampiri. (QS. An Nisa 78). Di saat kematian datang menjemput mereka tidak bisa lari. (QS. Al Jum’ah 8, Qaf 19).

Karena itu kematian perlu dipelajari dan bukan dihindari. Sebagaimana mempelajari kehidupan dunia, begitu pula kematian perlu didalami.

Untuk apa kematian dipelajari? Agar manusia mengetahui bahwa kematian itu tentu akan terjadi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja mengalami kematian, apalagi umatnya tidak diragukan lagi. (QS. Az Zumar 29-30).

Apa lagi di saat terjadi anggota keluarga, suami atau istri, orang tua atau anak anak meninggal, sehingga kita menyaksikan sendiri.

Orang cerdas dan kematian

Sungguh menarik hadits yang diriwayatkan Abdullah Umar Radhiyallahu ‘anhumaa. Bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Siapakah mu’min yang paling cerdas?” Rasulullah dengan bijaksana menjawab, “Mu’min yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk setelah kematian. Dan merekalah orang orang yang cerdas”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah dan Shahih Ibni Majah 3454).

Ini artinya mengingat kematian adalah bukti kecerdasan seorang insan. Kecerdasan yang dimilikinya bukan berarti tentang kemampuan memecahkan misteri kematian.

Kecerdasannya itu justru pada saat banyaknya mengingat kematian, bukan di saat menikmati kehidupan. Karena itu bagi orang cerdas juga berusaha memperbanyak bekal amal saleh. Amal yang akan dibawa untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

Sungguh benar, bahwa kematian itu telah menyadarkan manusia tentang hidup dan kehidupannya di dunia ini yang bersifat fana. Apalagi mereka tinggal di alam semesta hanyalah sementara.

Karena itu, mereka perlu berhati-hati dalam menghadapi godaan dunia. Apalagi sampai terjangkiti penyakit wahn, ini sungguh berbahaya. Penyakit ini telah melanda manusia di seluruh dunia.

Bahaya penyakit wahn

Namanya penyakit wahn, adalah penyakit. “cinta dunia takut mati”. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Tsauban, ia berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Nyaris sudah para umat umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang orang yang makan menghadapi bejana makanannya “.

Lalu seseorang bertanya, “Apakah kami saat itu sedikit?” Jawab Rasulullah, “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian buih, seperti buih banjir. Dan Allah akan hilangkan dari diri musuh musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati hati kalian wahn (kelemahan)”.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Lalu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?” Kata beliau, “Cinta dunia takut mati”. (HR. Abu Dawud no 4287).

Orang yang takut mati dan cinta dunia tanda dia tidak cerdas. Ini berakibat, hidupnya cenderung memilih ingin serba bebas. Mereka berusaha mengejar materi dan kedudukan hingga tidak merasa puas.

Hal-hal yang berkaitan dengan kematian dan persiapan menghadapinya mereka cenderung bersikap malas. Padahal kematian tetap dan pasti datang menjemput mereka, bahkan lebih keras. Akibatnya mereka lebih menderita tanpa batas.

Manusia lupa bahwa usia itu ada batasnya. Para Nabi dan Rasul saja dibatasi usianya. Apalagi manusia biasa. Tak ada umur manusia yang istimewa dan panjang hingga akhir masa.

Karena itu usia yang dianugerahi oleh Allah hingga masih hidup saat ini patutlah disyukuri sebesar besar nya dan difungsikan dengan sebaik baiknya. Hal ini perlu dilakukan agar hidup mereka tidak sia sia.

Untuk itu sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di atas perlu mendapatkan perhatian. “Bahwa orang yang cerdas itu yang bagus persiapannya untuk setelah kematian.

Maka itu kematian tidak perlu ditakuti kapan saja datangnya. Jika amal ibadah sudah dipersiapkan dengan baik dan sebanyak banyaknya, maka kematian tentu akan dihadapi dengan rasa gembira dan bahagia.

Dengan kematian itu bukan saja manusia akan menjumpai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan juga akan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Laksanakan Amalan Fantastis

Adapun persiapan diri dalam menghadapi kematian kelak perlu langkah langkah strategis dan sikap optimis. Apalagi pada saat usia kritis, hendaklah tetap dihadapi dalam keadaan tersenyum manis. Maka siapkan beramal ibadah, beramal saleh dan beramal dzariah yang fantastis.

Abu Taw Jih Rabbani dalam bukunya “Golden Age, Mempersiapkan Usia Emas 40/60/70 Tahun” menyebutkan beberapa amalan fantastis. Hal ini perlu dilakukan dalam hidup manusia. Apalagi bagi setiap muslim yang berharap kematiannya sedemikian indah dan manis.

Tentang amal fantastis yang dimaksud oleh Rabbani adalah, “Amalan yang membawa orang mu’min bangkit pertama kali dari alam kubur, sampai lebih awal di Mauqif (tempat penantian), selamat di shirath (jalan lurus), ummat pertama kali dihisab, sekaligus pertama kali masuk surga”. (2021:259).

Adapun yang berkaitan dengan amal amal fantastis di antaranya:

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu