Dalam hidup ini, manusia sering mencari bahagia ke mana-mana. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, pujian, bahkan dalam kesenangan yang sesaat. Namun pada akhirnya, banyak yang menyadari satu hal: tanpa Allah, hati tetap terasa kosong. No Allah, No Happy.
Kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya yang kita miliki, tetapi pada bersihnya hati dan dekatnya diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan salah satu pintu kebahagiaan itu bernama tobat.
Bertobat karena kesalahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada tiga macam:
- Berhenti dari perbuatan yang dikerjakan.
- Menyesali perbuatannya.
- Berazam, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Coba kita bayangkan seorang pegawai yang selama ini sering meninggalkan salat karena sibuk bekerja. Ia sadar hidupnya terasa sempit, gelisah, dan penuh tekanan.
Ketika ia mulai memperbaiki diri—berhenti meninggalkan salat, menyesal atas kelalaiannya, lalu bertekad menjaga waktunya—ia merasakan perubahan. Hatinya lebih tenang. Rezekinya terasa cukup. Hubungannya dengan keluarga membaik. Itulah buah dari taubat.
Adapun bertobat karena kesalahan kepada sesama manusia ada empat syarat: tiga syarat di atas, ditambah satu lagi, yaitu memenuhi hak-hak yang telah dilakukannya.
Misalnya, kesalahan berkaitan dengan harta, maka harus dikembalikan dulu, dibayar dulu, baru bertaubat.
Bayangkan seseorang yang pernah meminjam uang temannya lalu tidak membayar bertahun-tahun. Setiap kali bertemu, hatinya tidak tenang. Ia mungkin rajin ibadah, tetapi ada beban yang terus menghimpit.
Ketika ia memberanikan diri mengembalikan hak itu, meminta maaf dengan tulus, saat itulah ia merasakan kelegaan luar biasa. Air mata mungkin jatuh, tetapi justru di situlah kebahagiaan hadir.
Karena itu, bertobat kepada sesama manusia seringkali lebih berat daripada kepada Allah. Kita harus berhadapan langsung dengan orang yang pernah kita sakiti.
Seruan Al-Qur’an untuk Bertobat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31 tentang menjaga pandangan dan kehormatan, lalu di akhir ayat itu Allah menyeru:
“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Begitu pula dalam QS. At-Tahrim ayat 8: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (tobat yang semurni-murninya)…”
Perhatikan, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk tetap bertaubat. Artinya, tobat bukan hanya untuk pendosa besar. Kita semua membutuhkannya setiap hari.
Seperti kaca yang setiap hari terkena debu, hati juga setiap hari terkena noda. Jika tidak dibersihkan dengan istighfar dan taubat, ia akan menghitam.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa Allah sangat gembira terhadap hamba yang bertaubat.
Beliau mengibaratkan seperti seorang musafir yang kehilangan untanya di padang pasir. Di atas unta itu ada makanan dan minumannya. Ia putus asa, merasa akan mati. Lalu tiba-tiba untanya kembali. Betapa bahagianya ia!
Bayangkan seorang ayah yang kehilangan anaknya di pusat perbelanjaan. Ia panik, mencari ke sana kemari, hampir menangis putus asa. Tiba-tiba sang anak ditemukan kembali. Pelukan itu penuh tangis dan syukur. Itulah gambaran kecil betapa Allah lebih gembira atas taubat hamba-Nya.
Subhanallah. Kita yang sering lalai ini ternyata begitu dicintai ketika kembali.
Rasulullah bersabda: “Allah menerima taubat seorang hamba sebelum matahari terbit dari barat (sebelum Kiamat).
Allah menerima tobat seorang hamba sebelum nyawanya sampai di tenggorokan. Artinya, selama kita masih diberi napas, pintu tobat masih terbuka. Namun siapa yang bisa menjamin umur sampai esok pagi?
Betapa banyak orang yang tadi malam masih bercanda, pagi harinya sudah terbujur kaku. Betapa banyak yang menunda taubat dengan alasan “nanti saja kalau sudah tua”. Padahal kematian tidak menunggu usia.
Kisah Pembunuh 100 Orang: Jangan Putus Asa
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dikisahkan seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Ia ingin bertobat. Ia bertanya kepada seorang pendeta, “Apakah taubat saya diterima?” Pendeta itu menjawab, “Tidak.” Maka dibunuhlah pendeta itu, genap menjadi 100 orang.
Namun ia tidak berhenti mencari jawaban. Ia bertemu seorang alim. Dengan penuh harap ia bertanya kembali. Sang alim menjawab, “Siapa yang bisa menghalangi taubatmu? Tetapi tinggalkan kampungmu dan pergilah ke negeri yang penduduknya orang-orang saleh.”
Lelaki itu pun berangkat. Dalam perjalanan, ia meninggal dunia.
Para malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentang nasibnya. Akhirnya diukur jaraknya: lebih dekat ke negeri orang saleh daripada ke kampung maksiatnya. Maka Allah menerima taubatnya.
Apa pelajarannya?
Bayangkan seseorang yang selama ini tenggelam dalam pergaulan buruk: narkoba, minuman keras, pergaulan bebas. Lalu suatu hari ia memutuskan pindah lingkungan, mencari majelis ilmu, berteman dengan orang saleh.
Mungkin ia belum sempurna. Mungkin masih tertatih. Tetapi langkah kecil menuju kebaikan itu sangat berarti di sisi Allah.
Allah menilai arah langkahnya. Jangan pernah putus asa dari ampunan Allah. Lingkungan sangat menentukan perubahan diri. Niat yang tulus bisa mengubah takdir akhir kehidupan.
Seringkali kita merasa terlalu banyak dosa. Terlalu kotor. Terlalu jauh. Tetapi kisah itu membuktikan: bahkan pembunuh 100 orang pun masih punya harapan. Apalagi kita?
Kebahagiaan bukan tentang bebas berbuat sesuka hati. Kebahagiaan adalah ketika hati merasa dekat dengan Allah. Ketika malam kita isi dengan istighfar. Ketika kesalahan kita akui dengan jujur. Ketika hak orang lain kita kembalikan.
Di situlah hati terasa ringan. Di situlah hidup terasa damai. Karena sejatinya, tanpa Allah, hati gelisah. Tanpa tobat, jiwa resah. Tanpa ampunan, hidup terasa lelah.
Mari kembali. Selagi pintu itu masih terbuka. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments