Di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), antrean kendaraan mengular panjang. Dua lajur yang semula tertib perlahan mengerucut mendekati mesin pengisian.
Semua ingin cepat. Semua merasa sudah menunggu lama. Namun tepat di titik penyempitan itu, dua pengendara terlibat cekcok.
Suara meninggi. Umpatan meluncur. Kata-kata kasar terlontar tanpa saringan. Wajah memerah, emosi memuncak. Nyaris baku pukul. Kendaraan lain di belakang ikut berhenti total.
Orang-orang yang semula hanya menunggu, kini ikut mengeluh. Ironisnya, karena masing-masing ingin lebih cepat, antrean justru menjadi jauh lebih lama. Waktu terbuang bukan karena sistem yang rusak, tetapi karena hati yang tak mampu menahan diri.
Begitulah ketidaksabaran bekerja. Ia membisikkan bahwa kita harus segera, harus duluan, harus menang. Padahal sering kali, beberapa menit tambahan tidaklah seberapa dibanding kerugian akibat pertikaian.
Fenomena serupa juga mudah kita temukan di lampu lalu lintas. Ketika lampu merah menyala, sebagian pengendara merasa seolah waktunya dirampas.
Garis berhenti dilanggar. Jalur pejalan kaki diterabas. Ada yang perlahan maju, ada yang nekat menerobos sebelum lampu berubah hijau. Bahkan tak jarang, kendaraan terjebak di tengah perempatan karena terlalu memaksa masuk.
Akibatnya? Arus lalu lintas dari arah lain tak bisa bergerak. Kemacetan panjang tak terelakkan. Klakson berbunyi bersahutan. Umpatan dan cacian melesat bak peluru. Semua merasa dirugikan.
Semua merasa kesal. Namun jarang yang mau mengakui: sumber masalahnya adalah ketidaksabaran yang sama.
Manusia sering terdorong oleh nafsu untuk segera. Ingin cepat sampai. Ingin cepat selesai. Ingin cepat didahulukan.
Seakan-akan hidup adalah perlombaan yang tak memberi ruang untuk menunggu. Padahal tidak semua yang cepat itu berkah. Tidak semua yang mendahului itu membawa kebaikan.
Ketidaksabaran membuat akal sehat tersisih oleh emosi. Ia mempersempit pandangan kita hanya pada “aku” dan “keinginanku”. Padahal hidup adalah ruang bersama. Jalan raya adalah ruang bersama.
Antrean adalah kesepakatan bersama. Ketika satu orang memaksakan diri, banyak orang harus menanggung akibatnya.
Menariknya, ketidaksabaran sering justru menghasilkan kebalikan dari yang diinginkan. Ingin cepat, malah terlambat. Ingin lancar, malah macet. Ingin dihormati, malah kehilangan wibawa. Ingin menang, malah merugi.
Sabar bukan berarti lemah. Sabar adalah kekuatan untuk menahan dorongan sesaat demi kebaikan yang lebih luas.
Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri ketika ego berteriak minta diprioritaskan. Sabar adalah kesadaran bahwa dunia tidak hanya berputar untuk kita.
Bayangkan jika di SPBU tadi, salah satu dari dua orang itu berkata, “Silakan dulu, tidak apa-apa.” Selesai. Tak ada cekcok. Antrean tetap bergerak. Waktu tak banyak terbuang.
Bayangkan jika di lampu merah semua berhenti tepat di belakang garis. Saat lampu hijau menyala, arus bergerak lancar. Tidak ada yang terjebak di tengah. Tidak ada kemacetan panjang.
Kadang, satu sikap sabar dari satu orang saja sudah cukup untuk menyelamatkan banyak orang dari kerugian.
***
Hidup ini pada hakikatnya bukan lintasan balap yang memberi mahkota kepada siapa yang paling cepat tiba di garis akhir. Hidup adalah ruang pendidikan jiwa. Hidup bukan sekadar soal sampai, tetapi soal menjadi.
Kita sering tergoda untuk mempercepat segala sesuatu. Seolah-olah waktu adalah musuh yang harus dikalahkan. Padahal waktu bukan lawan. Waktu adalah guru. Ia mengajarkan ritme.
Waktu menanamkan makna pada proses. Tanpa jeda, tanpa menunggu, tanpa antre, manusia tidak pernah benar-benar belajar tentang batas dirinya.
Ada proses yang harus dijalani, karena proses itulah yang membentuk kedewasaan. Buah yang dipaksa matang sebelum waktunya tidak akan memiliki rasa yang utuh. Demikian pula manusia.
Keberhasilan yang diraih tanpa kesabaran sering kali rapuh dan dangkal. Ia mungkin cepat diraih, tetapi mudah pula runtuh.
Ada giliran yang harus dihormati. Dalam antrean, kita belajar bahwa hidup ini bukan hanya tentang “aku”. Ada orang lain yang juga memiliki kebutuhan, harapan, dan kepentingan.
Menghormati giliran adalah bentuk pengakuan bahwa kita hidup dalam tatanan bersama. Di sana ada etika, ada kesadaran sosial, ada pengendalian ego. Filsafat kesabaran sesungguhnya adalah filsafat pengakuan atas keberadaan orang lain.
Ada aturan yang mesti ditaati. Aturan bukan sekadar rambu fisik atau garis putih di aspal. Ia adalah simbol dari keteraturan kosmis. Alam pun berjalan dengan hukum dan ritme yang teratur.
Matahari tidak pernah terburu-buru terbit. Malam tidak pernah menyerobot siang. Segala sesuatu bergerak dalam keseimbangan. Ketika manusia melanggar ritme itu karena ketidaksabaran, yang lahir adalah kekacauan.
Belajar sabar dalam hal-hal kecil. Antre, menunggu lampu hijau, memberi jalan, sebenarnya adalah latihan eksistensial.
Kita sedang melatih jiwa untuk menunda dorongan, menahan ego, dan menata emosi. Kesabaran dalam hal kecil adalah fondasi bagi keteguhan dalam hal besar.
Seseorang yang tak mampu menunggu dua menit di lampu merah, bagaimana ia akan mampu menunggu bertahun-tahun untuk cita-cita yang besar?
Seseorang yang tak sanggup memberi giliran dalam antrean, bagaimana ia akan lapang menerima kenyataan hidup yang tak sesuai harapan?
Kesabaran bukan sekadar menahan diri, tetapi kemampuan untuk tetap tenang di tengah dorongan batin yang mendesak. Ia adalah bentuk kedaulatan diri. Dalam bahasa filsafat, sabar adalah kemenangan atas impuls primitif. Ia menempatkan akal di atas nafsu, kesadaran di atas dorongan sesaat.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat bergerak, melainkan siapa yang paling utuh mengelola dirinya. Dunia boleh bergerak cepat, tetapi jiwa yang matang tidak tergesa-gesa. Ia tahu bahwa setiap hal memiliki waktunya.
Maka, kemenangan sejati bukanlah mendahului orang lain. Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mendahului hawa nafsu kita sendiri. Dan di situlah manusia menemukan kemuliaannya.
***
Jika kesabaran hanya teori, mungkin ia akan terasa berat. Namun dalam sejarah, kita menemukan wujud nyatanya pada diri Nabi Muhammad saw. Kesabaran beliau bukan kesabaran pasif, melainkan kesabaran yang aktif, sadar, dan penuh kemuliaan.
Kita mungkin masih ingat kisah ini. Suatu hari, Rasulullah saw pergi ke Thaif untuk berdakwah. Alih-alih mendapat sambutan, beliau justru dihina, ditolak, bahkan diusir. Anak-anak kecil diperintahkan untuk melempari beliau dengan batu hingga kaki beliau berdarah.
Dalam kondisi fisik yang terluka dan hati yang pilu. Malaikat penjaga gunung datang menawarkan untuk membalikkan dua gunung dan menghancurkan penduduk Thaif. Apa jawaban Rasulullah saw?
Beliau tidak memilih balas dendam. Beliau berkata: “Jangan. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Di saat manusia biasa mungkin ingin membalas, Rasulullah saw justru memilih harapan dan doa. Inilah kesabaran yang melampaui ego.
Ada pula kisah lain yang menyentuh. Ada seorang wanita yang setiap hari melemparkan kotoran ke jalan yang dilalui Rasulullah saw. Beliau tidak pernah membalas. Tidak marah. Tidak mencaci.
Suatu hari, ketika wanita itu tidak tampak, Rasulullah saw justru bertanya tentang keadaannya. Ketika diketahui bahwa ia sakit, beliau menjenguknya. Wanita itu terkejut. Kebaikan dan kesabaran Rasulullah saw meluluhkan hatinya.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa kesabaran bukan hanya menahan diri, tetapi membalas keburukan dengan kebaikan.
Rasulullah saw memberikan definisi yang sangat filosofis tentang kekuatan. “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Hadis ini meruntuhkan standar dunia tentang kekuatan. Dunia mengagungkan otot, dominasi, dan kemenangan fisik. Rasulullah saw mengajarkan bahwa kekuatan sejati ada pada pengendalian diri.
Bukankah dalam antrean SPBU atau di lampu merah, yang paling dibutuhkan bukan otot, melainkan kendali diri?
Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada saat pertama kali tertimpa musibah.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Maknanya mendalam. Sabar bukan ketika emosi sudah reda. Sabar adalah pada detik pertama ketika hati bergejolak, ketika darah terasa naik, ketika lidah ingin membalas. Di situlah nilai sabar diuji.
Rasulullah saw tidak hanya mengajarkan sabar lewat kata-kata, tetapi melalui luka, hinaan, dan ujian hidup yang beliau alami sendiri. Kesabaran beliau bukan kelemahan, melainkan puncak kematangan jiwa.
Jika beliau yang dihina, disakiti, bahkan diperangi saja mampu bersabar, maka alasan apa yang membuat kita tidak sabar hanya karena disalip di antrean atau terjebak di lampu merah?
Meneladani Rasulullah saw berarti menjadikan kesabaran sebagai karakter, bukan sekadar nasihat. Karena dalam kesabaran itulah martabat manusia dijaga, hubungan sosial dirawat, dan jiwa dimuliakan.
Dan semakin kita mampu menahan diri, semakin dekat kita pada akhlak kenabian. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments