Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir telah menyebabkan banjir yang berdampak pada sejumlah satuan pendidikan di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.
Sebagai respons cepat terhadap kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan bantuan kepada dua satuan pendidikan di Kabupaten Karangasem yang terdampak bencana banjir.
Bantuan tersebut diserahkan bersamaan dengan pendampingan Kemendikdasmen dalam kegiatan kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Kabupaten Karangasem.
Sekolah pertama yang dikunjungi adalah SMPN 3 Manggis yang mengalami kerusakan akibat banjir besar pada Kamis (11/12/2025). Banjir tersebut dipicu oleh meluapnya sungai yang berada di belakang sekolah, sehingga menyebabkan sejumlah fasilitas sekolah terendam dan mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Muhammad Yusro, yang turut mendampingi kunjungan kerja Komisi X DPR RI menyampaikan bahwa kunjungan ini dilakukan dalam rangka meninjau dampak bencana banjir yang menimpa sekolah tersebut.
“Kami melihat kondisi yang cukup memprihatinkan karena ada kurang lebih 25 lokal sekolah yang berada di sekolah tersebut yang terdampak oleh banjir, dan terlihat lumpur yang menggenangi lantai sekolah dan menjadikan beberapa perangkat pembelajaran, di antaranya buku yang terendam banjir, kemudian juga perangkat elektronik seperti personal komputer yang juga ikut terendam banjir,” terang Yusro di Kabupaten Karangasem pada Jumat (12/12/2025).
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati berharap agar pemerintah daerah segera berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk menormalisasikan sungai.
“Untuk normalisasi sungai, mohon agar dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) guna memperkuat kolaborasi, karena anggarannya berada di sana, bukan di Kemendikdasmen. Sementara itu, Kemendikdasmen akan menangani penggantian komputer yang rusak,” ujar Esti.
Kemudian, lanjutnya, revitalisasi ruang kelas juga perlu dilakukan. Namun yang paling memungkinkan dan mendesak adalah normalisasi sungai. Setelah itu barulah dilakukan pembenahan sekolah, karena tanpa normalisasi sungai, pembangunan apa pun berpotensi mengalami kerusakan berulang.
Sekolah berikutnya yang dikunjungi adalah SMPN 3 Bebandem yang mengalami kerusakan bangunan serta pergerakan tanah yang dipicu oleh aktivitas penambangan pasir hitam di area belakang sekolah.
Esti menyayangkan aktivitas penambangan yang tidak memperhatikan keberadaan sekolah sehingga berpotensi membahayakan keselamatan dan aktivitas warga sekolah.
Sebagai bentuk kepedulian dan dukungan pemulihan terhadap proses pendidikan, Kemendikdasmen menyerahkan bantuan berupa 40 eksemplar buku bacaan dan bantuan stimulus sebesar Rp20 juta bagi tiap sekolah guna mendukung perbaikan sarana dan prasarana yang terdampak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments