Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui SEAMEO Regional Center for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) menyelenggarakan Lokakarya Monitoring, Evaluasi, dan Perencanaan Kemitraan pada 4–6 Maret 2026 di Jakarta sebagai upaya memperkuat koordinasi dan implementasi program bersama berbagai mitra.
Kegiatan ini diikuti oleh 93 peserta dari berbagai lembaga dan institusi yang berpartisipasi secara luring maupun daring, dengan 43 peserta hadir secara langsung dan 50 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara virtual.
Diikuti Berbagai Institusi dan Pemerintah Daerah
Peserta lokakarya berasal dari sejumlah institusi mitra, di antaranya Poltekkes Kemenkes Pontianak, Poltekkes Kemenkes Semarang, Poltekkes Kemenkes Pangkal Pinang, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Universitas Mataram, Universitas Indonesia, serta PRTABN BRIN.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan perwakilan pemerintah daerah dari Kabupaten Sambas, Brebes, Bangka, Lombok Timur, dan Tanjung Jabung Timur, serta dihadiri oleh Biro Kerja Sama dan Biro Hukum Kemendikdasmen bersama staf SEAMEO RECFON.
Evaluasi Program dan Perencanaan Kolaborasi
Lokakarya ini menjadi ruang diskusi bagi para mitra untuk meninjau pelaksanaan kerja sama yang telah berjalan sekaligus menyusun rencana kolaborasi ke depan.
Agenda kegiatan mencakup pembahasan rancangan dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS), penyusunan peta jalan kolaborasi, serta penguatan mekanisme monitoring dan evaluasi agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Pelaksana Tugas Direktur SEAMEO RECFON, Herqutanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kualitas kemitraan agar dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kemitraan yang sehat bukan hanya ditandai oleh penandatanganan dokumen, tetapi oleh kepemimpinan yang aktif, komunikasi yang rutin, pembagian peran yang jelas, dan komitmen yang seimbang,” ujar Herqutanto.
Berbagi Praktik Baik Pengembangan Program
Lokakarya diawali dengan sesi refleksi untuk meninjau capaian program sekaligus mengevaluasi kualitas kerja sama yang telah terjalin.
Melalui agenda Sharing Best Practices, para mitra memaparkan berbagai capaian implementasi program, termasuk pengembangan model edukasi gizi berbasis sekolah, madrasah, dan pesantren, kegiatan riset, pengembangan masyarakat, serta berbagai program lainnya.
Diskusi juga menyoroti sejumlah tantangan dalam pengelolaan kemitraan, seperti tingginya tingkat pergantian personel, keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi, koordinasi lintas perangkat daerah, hingga kebutuhan sistem monitoring dan pelaporan yang lebih terintegrasi.
Selain itu, keberlanjutan program setelah berakhirnya masa perjanjian kerja sama juga menjadi perhatian bersama para peserta.
Kemitraan Bukan Sekadar Capaian
Dalam sesi penguatan materi mengenai 4C Framework (Compatibility, Communication, Commitment, Capability), konsultan independen kemitraan SEAMEO RECFON, Ageng Kirdjo Putro, menekankan bahwa keberhasilan kemitraan tidak hanya diukur dari capaian program.
Menurutnya, kualitas kepercayaan yang terbangun di antara para pihak menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan kerja sama.
Kepercayaan tersebut terbentuk melalui kesamaan visi, komitmen yang dijaga secara konsisten, komunikasi dua arah yang terbuka, serta sinergi keahlian dari berbagai sektor.
Penguatan Kebijakan dan Mekanisme Kerja Sama
Memasuki sesi lanjutan, pembahasan difokuskan pada penguatan keselarasan kebijakan serta pengembangan mekanisme kerja sama yang lebih sistematis.
Kepala Bagian Kerja Sama dan Fasilitasi Internasional Biro Perencanaan dan Kerja Sama Kemendikdasmen, Lukmanul Hakim, memaparkan prinsip, prosedur, serta aspek strategis dalam pengelolaan kerja sama antar lembaga.
Ia menegaskan pentingnya kejelasan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam dokumen kerja sama serta perlunya kesesuaian dengan regulasi dan arah kebijakan nasional.
Penyusunan Peta Jalan Kolaborasi
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lokakarya kelompok untuk meninjau rancangan perjanjian kerja sama baru maupun perpanjangan kerja sama yang telah disusun sebelumnya.
Peserta juga menyusun peta jalan kolaborasi yang memuat rencana kegiatan selama periode kerja sama serta langkah-langkah persiapan program pada tahun berjalan.
Sebagai penutup, setiap kelompok mempresentasikan hasil pembahasan terkait rancangan perjanjian kerja sama dan peta jalan kolaborasi.
Berbagai masukan dari Biro Perencanaan dan Kerja Sama serta Biro Hukum Kemendikdasmen bersama jajaran direksi SEAMEO RECFON menjadi bahan penyempurnaan dokumen kerja sama tersebut.
Hasil diskusi ini akan menjadi dasar bagi para mitra untuk melanjutkan proses revisi dokumen kerja sama sebelum nantinya dilakukan penandatanganan secara desk-to-desk oleh Direktur RECFON yang memperoleh kuasa dari Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen bersama para mitra.
Penguatan Monitoring dan Evaluasi Program
Pada sesi akhir, pembahasan difokuskan pada perencanaan koordinasi monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerja sama.
Peserta dibagi ke dalam dua kelompok, yakni tim kemitraan dan tim pelaksana kegiatan, untuk membahas mekanisme koordinasi, alur komunikasi, serta pembagian peran dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program.





0 Tanggapan
Empty Comments