Pemerintah memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kesehatan mental anak dan remaja melalui kerja sama lintas kementerian.
Upaya tersebut dilakukan oleh Kemendikdasmen dengan menggandeng berbagai kementerian serta lembaga negara melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait pencegahan dan penanganan masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja.
Adapun kementerian dan lembaga yang terlibat dalam kerja sama ini antara lain Kemenko PMK, Kemenkes, KemenPPPA, Kemenag, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Komdigi, Kemensos, Kemendagri, serta Polri.
Langkah Strategis Kemendikdasmen
Dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) SKP Pencegahan dan Penanganan Masalah Kesehatan Jiwa pada Anak dan Remaja, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memaparkan sejumlah langkah strategis yang telah dilakukan untuk memperkuat kesehatan mental peserta didik.
Langkah tersebut meliputi penguatan dan percepatan Program Wajib Belajar 13 Tahun, peningkatan kualitas pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, peningkatan mutu pengajaran dan pembelajaran, penguatan tata kelola pendidikan, hingga penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi.
“Sebagai landasan kebijakan, kami juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, serta Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 17 Tahun 2026,” papar Abdul Mu’ti di Jakarta, Kamis (5/3).
Ia menjelaskan bahwa dua kebijakan tersebut menjadi dasar bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sekaligus mendukung kesehatan mental peserta didik.
Peran Guru dan Sistem Monitoring
Selain penguatan kebijakan, Kemendikdasmen juga melakukan peningkatan manajemen sumber daya manusia di lingkungan sekolah.
Menurut Abdul Mu’ti, paradigma penanganan kesehatan mental tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab guru bimbingan konseling (BK), tetapi perlu melibatkan seluruh tenaga pendidik di sekolah.
Di sisi lain, Kemendikdasmen juga memperkuat sistem monitoring dan evaluasi melalui pemanfaatan data Rapor Pendidikan sebagai dasar perbaikan berkelanjutan. Digitalisasi laporan kasus juga terus dilakukan guna mempercepat penanganan serta meningkatkan akurasi data.
“Dalam implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman terdapat empat aspek utama yang menjadi fokus, yakni pemenuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, serta keamanan sosio-kultural dan digital,” tutur Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan bahwa pemerintah mendorong sekolah untuk memperkuat tata kelola, memberikan edukasi kepada seluruh warga sekolah, serta meningkatkan peran setiap unsur sekolah melalui manajemen kelas.
Penguatan Karakter Peserta Didik
Pada aspek pembangunan karakter murid, Kemendikdasmen juga menjalankan sejumlah program yang bertujuan mendukung kesehatan mental peserta didik.
Program tersebut antara lain Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, 7 Jurus Sekolah Hebat, serta kebijakan Guru Wali yang diharapkan dapat memperkuat pembinaan karakter di lingkungan sekolah.
Selain itu, terdapat pula program Sekolah Sehat yang berfokus pada lima aspek kesehatan, yakni kesehatan fisik, imunisasi, kesehatan jiwa, kebugaran, serta kesehatan lingkungan.
“Kemendikdasmen juga mendorong partisipasi aktif murid melalui Gerakan Rukun Sama Teman,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan bahwa penguatan karakter juga dilakukan melalui kegiatan upacara bendera yang memuat Ikrar Pelajar Pancasila serta aktivitas kepramukaan yang mengembangkan nilai spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
Modul dan Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja
Sebagai langkah lanjutan, Kemendikdasmen juga telah menerbitkan Modul Pembiasaan Karakter Hebat yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan kokurikuler di sekolah.
Modul tersebut dirancang untuk memperkuat karakter sekaligus meningkatkan daya saing peserta didik sehingga turut mendukung kesehatan mental mereka.
“Kami juga telah menerbitkan Buku Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja SMP sebagai panduan bagi pendidik dan orang tua dalam memahami kondisi psikologis remaja,” jelas Abdul Mu’ti.
Menurutnya, pedoman tersebut diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara orang tua, guru, dan peserta didik dalam mendukung kesehatan jiwa remaja secara menyeluruh.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental anak dan remaja dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
kesehatan mental anak dan remaja






0 Tanggapan
Empty Comments