Suasana ceria menyelimuti halaman UPT SDN 119 Gresik pada Sabtu (9/8/2025 saat Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Kelompok 2 dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menggelar pelatihan membuat Batik Jumputan.
Batik jumputan, atau yang lebih dikenal dengan istilah ikat celup, merupakan salah satu teknik membatik yang dilakukan dengan cara mengikat bagian tertentu dari kain, lalu mencelupkannya ke dalam larutan pewarna. Bagian yang diikat akan tertahan dari pewarnaan, sehingga menghasilkan motif-motif unik. Setiap kain yang dihasilkan memiliki corak yang berbeda, menjadikan setiap karya memiliki nilai seni dan keistimewaan tersendiri.
Teknik ini telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia seperti Palembang, Yogyakarta, dan Bali, masing-masing menampilkan ciri khas motif dan pilihan warna yang berbeda. Selain menjadi bagian dari warisan budaya bangsa, batik jumputan juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kreatif di sekolah. Kegiatan ini mampu melatih kesabaran, ketelitian, serta mengembangkan keterampilan artistik peserta didik.
“Melalui proses membuat batik jumputan, siswa diajak untuk mengenal dan mencintai budaya lokal,” ungkap salah satu mahasiswa PGSD yang juga menjadi pemateri kegiatan, Farida.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan pewarna alami dalam proses membatik dapat menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Pelatihan ini dibuka dengan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai sejarah, teknik, dan filosofi batik jumputan. Setelah sesi tanya jawab, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti sesi praktik secara langsung.
“Kegiatan ini bisa melatih imajinasi dan kreativitas siswa, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dalam mengambil keputusan,” ujar salah satu mahasiswa yang membimbing proses praktik, Devina.
Para siswa terlihat antusias melipat, mengikat, dan mencelupkan kain ke dalam larutan pewarna. Warna-warna cerah perlahan muncul setelah kain dibilas dan dijemur.
“Luar biasa, hasil karya mereka sangat indah. Setiap kelompok berhasil menunjukkan kreativitas dan usaha terbaik mereka,” kata salah salah satu anggota KKN, Audyta.
Kemeriahan acara ini tidak hanya memberi pengalaman baru bagi siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya sejak usia dini.
“Semoga mereka tidak hanya mencintai batik sebagai karya seni, tetapi juga memahami dan menghargai nilai budaya serta sejarah yang terkandung di dalamnya,” harap Anggota KKN lainnya, Lala.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, di mana setiap kelompok memamerkan hasil karya batik jumputan mereka dengan bangga. Sebagai penutup, salah satu anggota KKN, Velly, menyampaikan pesan semangat.
“Satu kain, sejuta makna. Mari kita lestarikan batik bersama!,” tegasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments