Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 27 Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya melaksanakan program inovasi pertanian di Desa Nglinggo, Kabupaten Nganjuk, dengan memperkenalkan sekaligus membina masyarakat dalam budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) pada Minggu (10/8/2025).
Selama ini, Desa Nglinggo dikenal sebagai sentra produksi bawang merah. Melalui program ini, para mahasiswa berupaya menambahkan identitas baru bagi desa tersebut dengan memanfaatkan lahan pekarangan warga untuk menanam berbagai tanaman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan.
Rangkaian acara meliputi pembagian bibit jahe, kunyit, serai, daun sirih, serta berbagai tanaman herbal lainnya, disertai penyuluhan mengenai teknik penanaman dan pemanfaatannya.
Ketua Kelompok KKN 27, Deni Muriawan, mengungkapkan bahwa ide pengembangan TOGA berawal dari pengamatan terhadap potensi lahan pekarangan warga yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Selama ini Desa Nglinggo dikenal sebagai sentra bawang merah, namun kami melihat peluang untuk menghadirkan identitas tambahan melalui TOGA. Selain menambah nilai ekonomi, program ini juga memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Nglinggo, Dian Raga Berbudiyanto, menyambut baik program ini.
“Kami bangga karena Desa Nglinggo kini tidak hanya dikenal sebagai penghasil bawang merah, tetapi juga mampu mengembangkan tanaman herbal yang bermanfaat. Harapan kami, warga dapat terus menanam TOGA ini secara mandiri,” ujarnya.
Masyarakat pun tampak antusias mengikuti kegiatan. Beberapa warga bahkan langsung menanam bibit yang dibagikan di pekarangan rumah masing-masing. Program ini diharapkan menjadi langkah awal diversifikasi pertanian di Desa Nglinggo, sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Hadirnya tanaman TOGA di tengah masyarakat Desa Nglinggo diharapkan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kesehatan, kemandirian, dan kesadaran lingkungan warga.
Tanaman obat keluarga seperti jahe, kunyit, serai, dan daun sirih tidak hanya berfungsi sebagai alternatif pengobatan alami yang murah dan mudah diakses, tetapi juga mendorong masyarakat untuk kembali memanfaatkan kearifan lokal.
Keberadaan TOGA di setiap pekarangan rumah atau lahan bersama dapat membantu mengurangi ketergantungan pada obat kimia, menghemat biaya kesehatan, serta memperkuat daya tahan tubuh warga melalui konsumsi ramuan herbal yang aman dan alami.
Selain manfaat kesehatan, TOGA juga berpotensi membuka peluang usaha baru, seperti pengolahan jamu instan, minuman herbal, atau produk kecantikan tradisional, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian keluarga.
Lebih jauh, penanaman TOGA di Desa Nglinggo diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang hijau, asri, dan sehat, sekaligus mempererat kebersamaan warga melalui kegiatan menanam, merawat, dan memanen bersama.
Dengan dukungan dari pemerintah desa, kelompok tani, dan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), TOGA berpotensi menjadi simbol kemandirian, keberlanjutan, serta kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments