Acara PWM Jawa Timur yang digelar pukul 09.00 WIB di Aula Mas Mansur lantai 3 Kantor PWM Jatim, Sabtu (29/11/2025) berlangsung hangat dan penuh haru. Dua tokoh nasional hadir sebagai narasumber: Ketua PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir secara daring dan Mendikdasmen PP Muhammadiyah Dr. Abdul Mu’ti hadir langsung.
Salah satu agenda yang paling menggetarkan suasana adalah penganugerahan penghormatan untuk keluarga almarhumah Marsinah, alumni SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Penghargaan itu diterima oleh sang kakak, Ibu Marsinih, yang juga seorang guru. Dengan suara terbata, ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan santunan yang diberikan persyarikatan sejak wafatnya sang adik.
“Seribu hari meninggalnya adik kami, keluarga mendapat santunan dari Aisyiyah. Santunan itu kemudian kami belikan sapi. Itu menjadi kenangan yang tidak pernah kami lupakan,” ujarnya.
Kisah yang jujur dan sederhana itu membuat hadirin terharu, sebab tradisi peringatan seribu hari—meski tidak lazim dalam kultur Muhammadiyah—menggambarkan rasa cinta keluarga terhadap almarhumah.

Acara ini juga dirangkaikan dengan penganugerahan CRM Award bagi kader yang meraih penghargaan nasional di Banjarmasin, serta penandatanganan pendirian Balai Diklat PWM Jatim di Prigen, Pasuruan. Langkah ini menandai komitmen PWM Jatim dalam memperkuat kapasitas kader dan kualitas pelatihan persyarikatan.
Dalam sambutannya, Ketua PWM Jawa Timur Prof. Sukadiono mengingatkan pentingnya etika digital. “Sering kita share berita tanpa tabayyun. Kadang ada kalimat-kalimat kasar, terutama saat mengkritik pemerintah. Pimpinan persyarikatan harus lebih bijak dan mengecek kembali sebelum membagikan informasi,” pesannya.
Acara tersebut juga dihadiri para guru IGABA Jawa Timur, yang pada kesempatan ini menerima bantuan dari Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Menutup sambutan, Prof. Sukadiono berseloroh bahwa ia tidak bisa berpantun seperti Pak Abdul Mu’ti, yang disambut tawa hangat para peserta.
Momen penyerahan penghargaan kepada keluarga Marsinah menjadi penutup yang mengesankan—menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak di ranah kelembagaan, tetapi juga hadir untuk merawat kenangan, kemanusiaan, dan keluarga warganya.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments