Banyak orang mengira yang paling berat di Ramadan adalah menahan lapar dan haus. Padahal, tantangan sesungguhnya justru menjaga konsistensi ibadah dari hari pertama hingga hari terakhir.
Beberapa hari pertama biasanya penuh semangat. Sahur tepat waktu, salat tarawih tidak pernah terlewat, dan tilawah terasa ringan dijalani. Namun memasuki pekan kedua, ritme mulai berubah. Semangat tak lagi sama, ibadah mulai longgar, dan tanpa terasa Ramadan mendekati akhir.
Awal Semangat, Tengah Kendor, Akhir Menyesal
Pola ini seperti berulang setiap tahun. Hari pertama penuh energi, pekan kedua mulai menurun, dan di sepuluh hari terakhir muncul penyesalan karena merasa belum maksimal.
Yang membedakan Ramadan bermakna atau biasa saja bukanlah seberapa besar gebrakan di awal, tetapi seberapa mampu menjaga konsistensi hingga akhir. Di situlah ujian sesungguhnya.
Mengapa Konsistensi Terasa Sulit?
Salah satu penyebabnya adalah karena hasil ibadah tidak langsung terlihat. Kita hidup di era serba instan. Pesan makanan datang cepat, pekerjaan hari ini bisa langsung terlihat hasilnya. Namun ibadah tidak bekerja seperti itu.
Tarawih malam ini tidak otomatis mengubah hidup esok hari. Tilawah hari ini tidak langsung terasa dampaknya. Karena tidak instan, motivasi mudah turun jika tidak disertai kesadaran dan niat yang kuat.
Padahal, konsistensi bukan tentang kesempurnaan. Konsisten berarti kembali lagi meski sempat lalai, bangkit lagi meski sempat malas, dan memperbaiki diri meski sempat kendor. Ramadan menghadirkan 30 hari untuk melatih hal tersebut.
Proses Lebih Bermakna daripada Hasil Instan
Di tengah dunia yang bergerak cepat, Ramadan mengajarkan bahwa langkah kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih bermakna daripada semangat besar yang hanya sesaat.
Sering kali yang terasa berat bukan puasanya, melainkan isi hati dan pikiran yang belum tertata. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Karena itu, Ramadan bukan sekadar momentum menambah amal, tetapi juga waktu untuk merawat hati, menenangkan pikiran, serta meluruskan kembali cara pandang terhadap rezeki dan kehidupan.
Semoga Ramadan kali ini kita mampu menjaga ritme hingga akhir, bukan hanya semangat di awal lalu melemah di tengah jalan.






0 Tanggapan
Empty Comments