Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kepada Siapa Saya Harus Bergaul?

Iklan Landscape Smamda
Kepada Siapa Saya Harus Bergaul?
Alfain Jalaluddin Ramadlan. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan (Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman,Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Anggota KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan)
pwmu.co -

Pertanyaan “Kepada siapa saya harus bergaul?” mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh akar persoalan moral, sosial, dan spiritual yang sangat dalam.

Di era digital seperti sekarang, di mana batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin kabur, memilih teman bukan lagi sekadar urusan siapa yang duduk di sebelah kita di bangku sekolah, tetapi juga siapa yang hadir di timeline media sosial kita.

Generasi milenial dan Gen Z dikenal sebagai generasi yang terbuka, adaptif terhadap teknologi, dan sangat aktif di dunia maya. Namun di sisi lain, kebebasan berinteraksi tanpa batas itu seringkali menimbulkan masalah baru.

Misalnya, kasus cyberbullying yang menimpa remaja di berbagai daerah, seperti peristiwa di Bandung pada 2024, ketika seorang siswi SMA menjadi depresi karena dirundung di grup online class.

Ada pula tren “pergaulan bebas” di kalangan pelajar dan mahasiswa yang seringkali dimulai dari pertemanan tanpa batas di media sosial.

Laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2025 menyebutkan bahwa lebih dari 60% pengguna aktif media sosial di Indonesia berusia di bawah 30 tahun, dan sebagian besar menghabiskan lebih dari 4 jam sehari di dunia maya.

Data ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan digital terhadap karakter dan perilaku sosial generasi muda.

Tidak hanya itu, muncul juga fenomena peer pressure atau tekanan teman sebaya, di mana seseorang merasa harus mengikuti tren agar diterima. Dari sekadar ikut-ikutan gaya hidup konsumtif, hingga terlibat dalam perilaku negatif seperti penggunaan vape, pesta miras, atau konten sensasional demi popularitas.

Pandangan Islam tentang Pergaulan

Islam memandang pergaulan sebagai salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter seseorang. Nabi Muhammad Saw bersabda:

قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4833) dan Tirmidzi (no. 2378), serta dinilai hasan oleh Imam Tirmidzi.

Hadis ini menegaskan bahwa teman dapat menjadi cermin dan bahkan penentu arah kehidupan seseorang. Bergaul dengan orang saleh akan mengantarkan kita pada kebaikan, sementara bergaul dengan orang buruk dapat menyeret kita pada kebinasaan.

Al-Qur’an juga menggambarkan penyesalan orang-orang yang salah memilih teman dalam Surah al-Furqan ayat 28-29:

قَالَ يَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (٢٨) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا (٢٩)

Aduhai, kiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari al-Qur’an setelah al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia sedikit pun.” (Qs al-Furqan [25]: 28–29)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ayat ini menjadi peringatan bahwa pertemanan bukan hanya urusan dunia, tetapi juga bisa berimplikasi pada nasib seseorang di akhirat.

Dalam konteks kehidupan modern, prinsip ini tetap relevan. Islam tidak melarang pergaulan lintas sosial, budaya, atau bahkan agama, selama dijaga nilai moral, adab, dan akhlak. Pergaulan yang baik bukan berarti menutup diri, tetapi menyeleksi nilai yang membangun, bukan yang merusak.

Perspektif Umum

Secara umum, psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi. Namun, pergaulan yang sehat adalah yang membawa manfaat timbal balik, bukan sekadar memenuhi kebutuhan eksistensi atau popularitas.

Para ahli psikologi modern, seperti Dr. Lisa Firestone (2023), menegaskan pentingnya “boundaries in friendship” atau batas sehat dalam hubungan pertemanan. Teman yang baik bukan yang membuat kita kehilangan jati diri, tetapi yang membantu kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Dalam kehidupan nyata, kita bisa mencontoh beberapa komunitas positif yang kini tumbuh di kalangan Gen Z, seperti Komunitas Literasi Digital Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Hijrah, atau Gerakan Earth Hour Indonesia.

Komunitas-komunitas ini menunjukkan bahwa pergaulan bisa menjadi sarana berkembang, belajar, dan berdampak sosial, bukan sekadar mencari hiburan atau pengakuan.

Menemukan Lingkaran Pergaulan yang Bernilai

Jadi, kepada siapa seharusnya kita bergaul? Jawabannya sederhana namun mendalam: bergaullah dengan orang yang mendekatkan kita pada kebaikan, bukan sekadar kenyamanan.

Pilihlah teman yang membuat kita berani jujur, semangat belajar, dan istiqamah dalam kebaikan. Dalam konteks Islam, bertemanlah dengan orang-orang saleh yang mengingatkan kita kepada Allah. Dalam konteks sosial, carilah lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter, bukan yang menjauhkan dari nilai moral.

Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “Ash-shahibu sahib” teman itu menarik (menyeret).

Jika kita berteman dengan orang baik, kita akan ikut terseret menuju kebaikan. Namun jika kita salah memilih teman, kita pun bisa terseret pada keburukan tanpa sadar.

Jadi, Generasi milenial dan Gen Z adalah generasi yang tumbuh dalam era konektivitas tinggi, tetapi juga menghadapi tantangan moral yang berat. Dalam derasnya arus pergaulan dan media sosial, memilih teman adalah bagian dari jihad modern, perjuangan untuk tetap berpegang pada nilai dan kebenaran.

Maka, ketika kita bertanya, “Kepada siapa saya harus bergaul?”, jawaban sejatinya bukan sekadar siapa, tetapi untuk apa. Bergaullah dengan mereka yang menumbuhkan iman, ilmu, dan akhlak. Sebab dari situlah masa depan diri dan masyarakat akan dibangun dengan pergaulan yang berlandaskan nilai, bukan semata kesenangan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu