Bengkel Jurnalistik PWMU di Trawas
Malam itu udara Trawas terasa sejuk. Aula Villa Graha Umsida, tempat berlangsungnya Rapat Kerja dan Bengkel Jurnalistik PWMU, dipenuhi wajah-wajah serius. Para redaktur PWMU.CO dan PWMUtv duduk berjejer, menyimak materi yang jarang dibahas secara mendalam: bahasa jurnalistik.
Dr. Moh. Isnaini, M.Pd, Kepala Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pemateri pada sesi tersebut. Dengan suara tenang dan penuh penekanan, ia mengupas tuntas betapa pentingnya konsistensi bahasa dalam membangun karakter media.
“Kalau kita bicara media dari kacamata bahasa, maka pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita ingin sekadar menarik perhatian dengan bahasa sensasional, ataukah kita membangun karakter melalui kaidah bahasa Indonesia yang benar?” tanyanya membuka.
Apresiasi PWMU.CO
Isnaini menegaskan, pilihan itu akan menentukan arah dan identitas media. Ia mengapresiasi PWMU.CO yang dinilainya konsisten menggunakan ejaan sesuai kaidah bahasa Indonesia.
“Saya sudah cek satu per satu. Penempatan ejaan, tanda baca, sampai kata depan, di PWMU.CO jauh lebih rapi dibanding banyak media mainstream,” ujarnya.
Menurut Isnaini, media komunitas seperti PWMU.CO justru punya kelebihan untuk tampil berbeda. “Mainstream kadang mengabaikan kaidah bahasa, bahkan untuk hal sederhana seperti penulisan gelar akademik atau tanda baca. PWMU.CO bisa mengambil jalur berbeda: berkarakter melalui bahasa yang baik dan benar,” paparnya.
Ia menekankan, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas. “Kalau kita konsisten dengan ejaan yang benar, itu bukan sekadar soal teknis. Itu adalah bentuk komitmen menjaga marwah bahasa Indonesia sekaligus karakter media kita,” jelasnya.
Isnaini mencontohkan, banyak media masih salah menuliskan kata depan, mengabaikan spasi setelah tanda baca, atau mencampuradukkan kata hubung. “Hal kecil seperti itu justru memberi kesan besar pada kualitas media. Pembaca bisa menilai serius atau tidaknya sebuah redaksi dari hal-hal detail seperti itu,” tegasnya.
Baginya, keberanian menjaga bahasa Indonesia yang baik dalam berita adalah keunggulan tersendiri. “Kita bisa tetap kritis, bahkan tajam, tetapi dengan bahasa yang terukur, santun, dan sesuai kaidah. Itulah karakteristik yang harus terus dijaga PWMU.CO,” katanya penuh keyakinan.
Kemudian, Isnaini mengingatkan bahwa media Muhammadiyah punya tanggung jawab lebih besar: menyuarakan kebenaran sekaligus mendidik publik melalui bahasa. “Ketika kita konsisten menggunakan bahasa Indonesia yang baik, kita tidak hanya menjaga kualitas media, tapi juga ikut membela bangsa ini dengan cara sederhana namun bermakna,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments