Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kepemimpinan Perempuan, Wajah Nyata Islam Berkemajuan di Sekolah Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Kepemimpinan Perempuan, Wajah Nyata Islam Berkemajuan di Sekolah Muhammadiyah
Ilham Cahya Hardiansyah, Guru SD ASA Muhammadiyah. Foto: Pribadi/PWMU.CO
Oleh : Ilham Cahya Hardiansyah Guru SD ASA Muhammadiyah
pwmu.co -

Di tengah semangat pembaruan yang terus digelorakan Muhammadiyah, saya menemukan satu fenomena penting di dunia pendidikan: semakin banyak perempuan tampil sebagai pemimpin sekolah Muhammadiyah. Mereka tidak sekadar mengelola lembaga pendidikan, tetapi hadir sebagai motor penggerak kemajuan sekaligus wajah nyata Islam Berkemajuan yang terus diperjuangkan Persyarikatan.

Fenomena ini saya temukan dalam penelitian yang saya lakukan sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Fokus kajian saya adalah bagaimana nilai-nilai Islam Berkemajuan diwujudkan secara konkret melalui kepemimpinan perempuan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Perempuan di sekolah Muhammadiyah hari ini tidak lagi hadir sebagai pelengkap. Mereka tampil sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, serta orientasi pada kemajuan pendidikan.

Dari Spirit Tajdid ke Ruang Kepemimpinan

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menekankan rasionalitas, penguasaan ilmu pengetahuan, serta keseimbangan antara iman dan kemanusiaan. Konsep Islam Berkemajuan kemudian menjadi fondasi ideologis untuk menjawab tantangan zaman.

Dalam dunia pendidikan, semangat tersebut tampak dalam upaya mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, serta memadukan spiritualitas dengan profesionalisme. Dari hasil penelitian saya, kepemimpinan perempuan memainkan peran penting dalam proses ini.

Perempuan pemimpin sekolah Muhammadiyah sering kali menjadi jembatan antara nilai-nilai religius dan inovasi modern dalam tata kelola pendidikan. Mereka mampu menjaga identitas keislaman sekolah sekaligus mendorong adaptasi terhadap perubahan zaman.

Jejak Panjang Peran Perempuan Muhammadiyah

Keterlibatan perempuan dalam gerakan Muhammadiyah sejatinya bukan hal baru. Sejak berdirinya ‘Aisyiyah pada 1917, perempuan telah mengambil peran strategis dalam dakwah, pendidikan, dan gerakan sosial. Namun demikian, ruang kepemimpinan perempuan tidak selalu terbuka lebar karena masih kuatnya budaya patriarki dan stereotip sosial.

Sejumlah penelitian, salah satunya Widyastuti (2022), menunjukkan bahwa perempuan di beberapa daerah masih menghadapi tantangan struktural untuk menduduki posisi strategis. Meski begitu, dalam dua dekade terakhir, saya melihat adanya perubahan signifikan. Semangat Islam Berkemajuan menjadi energi penting yang mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan yang tangguh dan berdaya.

Mereka mempraktikkan gaya kepemimpinan yang kolaboratif, partisipatif, dan berperspektif keadilan gender—sebuah cerminan Islam yang mendorong kesetaraan sekaligus kemajuan.

Kepemimpinan yang Melayani dan Menginspirasi

Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, banyak perempuan pemimpin sekolah Muhammadiyah menunjukkan karakter kepemimpinan transformatif. Hal ini sejalan dengan temuan Rahman (2023) dalam Jurnal Pendidikan Islam Progresif yang menegaskan pentingnya keteladanan, partisipasi, dan orientasi perubahan dalam kepemimpinan sekolah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Selain itu, gaya servant leadership juga tampak kuat. Perempuan pemimpin tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi hadir untuk melayani, mendampingi, dan menumbuhkan potensi guru serta siswa.

Kepemimpinan semacam ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian administratif, tetapi juga pada pembentukan iklim pendidikan yang humanis dan berkemajuan. Penelitian Arifin (2024) bahkan menunjukkan bahwa sekolah dengan kepemimpinan perempuan cenderung lebih inovatif karena mengintegrasikan empati, kolaborasi, dan sensitivitas sosial dalam pengambilan keputusan.

Islam Berkemajuan dan Jalan Menuju Kesetaraan

Dalam perspektif Islam modernis yang diusung Muhammadiyah, kesetaraan gender bukanlah konsep asing. Islam Berkemajuan menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang setara di hadapan Allah.

Sebagaimana ditegaskan Syamsuddin (2020) dalam Jurnal Pemikiran Islam dan Sosial Muhammadiyah, perempuan memiliki hak untuk memimpin selama memiliki kapasitas, integritas, dan komitmen moral. Kepemimpinan perempuan di sekolah Muhammadiyah menjadi bukti bahwa kepemimpinan bukan persoalan jenis kelamin, melainkan kualitas dan dedikasi terhadap kemajuan pendidikan.

Meski arah perubahan sudah semakin jelas, tantangan belum sepenuhnya hilang. Resistensi budaya dan bias struktural masih kerap muncul. Karena itu, saya memandang perlu adanya kebijakan yang lebih kuat dan sistematis dari Persyarikatan untuk membuka ruang kepemimpinan yang lebih adil dan setara.

Islam Berkemajuan tidak boleh berhenti pada tataran konsep. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan, program kaderisasi, dan sistem kelembagaan yang berpihak pada keadilan.

Cerminan Dakwah yang Mencerahkan

Kehadiran perempuan sebagai pemimpin di sekolah-sekolah Muhammadiyah merupakan cerminan dakwah Islam yang mencerahkan (din al-tanwir). Dakwah yang tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi hadir nyata dalam praktik pendidikan yang membebaskan, memajukan, dan memanusiakan.

Perempuan bukan sekadar pelengkap dakwah, melainkan pelaku utama dalam membangun peradaban berkemajuan. Dari ruang-ruang sekolah Muhammadiyah, wajah Islam Berkemajuan itu terus hidup dan bergerak.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu