Di tengah zaman ketika jabatan sering disertai jarak dan kehormatan kerap diukur dari fasilitas, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si. menghadirkan pelajaran yang sunyi namun menggugah: tentang kesederhanaan yang lahir dari kebesaran jiwa.
Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, beliau memikul amanah memimpin salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang memiliki ribuan amal usaha—dari pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi—yang tersebar di seluruh nusantara bahkan mancanegara.
Dengan nilai aset yang mencapai ratusan triliun rupiah, Muhammadiyah adalah kekuatan peradaban yang nyata.
Namun, di balik kebesaran institusi itu, sosok pemimpinnya tetap berjalan dalam kesahajaan.
Ketika beliau bertolak dari Yogyakarta menuju Sidoarjo untuk menghadiri Milad ke-50 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (SMAMDA), pilihan perjalanannya menjadi cermin karakter.
Dia memilih naik kereta api. Tanpa iring-iringan mencolok. Tanpa protokol berlebihan. Tanpa simbol-simbol kekuasaan yang sering dianggap lumrah bagi seorang tokoh nasional.
Barangkali bagi sebagian orang, itu hal biasa. Namun dalam lanskap sosial kita hari ini—di mana jabatan kerap dibalut kemewahan—tindakan tersebut justru terasa istimewa.
Kesederhanaan itu bukan sekadar soal moda transportasi. Ia adalah pernyataan nilai. Bahwa pemimpin tidak harus menciptakan jarak untuk dihormati.
Bahwa wibawa tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari integritas. Dan bahwa kebesaran sejati justru tampak ketika seseorang tidak merasa perlu menampakkannya.
Konsistensi Nilai, Bukan Pencitraan
Kesederhanaan Prof. Haedar bukanlah sikap sesaat atau panggung simbolik. Ia adalah konsistensi. Konsistensi antara pemikiran dan tindakan. Antara dakwah lisan dan dakwah perbuatan.
Sebagai intelektual, beliau dikenal dengan gagasan Islam Berkemajuan—Islam yang mencerahkan, memajukan, dan membebaskan umat dari kebodohan serta ketertinggalan.
Namun gagasan itu tidak berhenti pada forum akademik atau pidato kebangsaan. Ia menjelma dalam laku hidup yang bersahaja, dalam cara berinteraksi, dalam pilihan yang sederhana namun bermakna.
Dari ruang-ruang sidang intelektual hingga gerbong kereta api, nilai itu tetap sama: amanah, rendah hati, dan membumi.
Di situlah letak kekuatan moralnya.
Bagi keluarga besar SMAMDA Sidoarjo, kehadiran beliau pada Milad ke-50 bukan sekadar kehormatan struktural. Ia adalah pesan pendidikan yang hidup.
Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi ruang pembentukan karakter. Dan karakter kepemimpinan tidak cukup diajarkan lewat teori, melainkan melalui keteladanan.
Saat para siswa melihat seorang pemimpin besar datang tanpa kemewahan yang berlebihan, mereka belajar satu hal penting: bahwa sebesar apa pun amanah yang kelak dipikul, kesederhanaan adalah pakaian terbaik seorang pemimpin.
Milad emas SMAMDA menjadi momentum refleksi. Lima puluh tahun perjalanan bukan sekadar angka, melainkan jejak kontribusi dalam melahirkan generasi berilmu dan berakhlak. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, sekolah dituntut bukan hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi pribadi tangguh dan rendah hati.
Dan teladan itu hari ini hadir nyata.
Melawan Budaya “Tampilan”
Kita hidup di era ketika citra sering lebih diutamakan daripada substansi. Media sosial membesarkan simbol. Jabatan sering dikemas sebagai pertunjukan. Ukuran keberhasilan kadang direduksi menjadi apa yang tampak di permukaan.
Di tengah arus itu, kesederhanaan menjadi sikap yang revolusioner.
Prof. Dr. KH. Haedar Nashir seakan mengingatkan kita bahwa makna jauh lebih penting daripada tampilan. Bahwa kehormatan tidak memerlukan panggung tinggi. Dan bahwa kepemimpinan sejati tidak membutuhkan jarak untuk menjaga martabatnya.
Barangkali justru dari kursi kereta api itulah pelajaran kepemimpinan paling jujur sedang diajarkan—tanpa suara keras, tanpa slogan panjang, tetapi menggema lama di hati.
Kesederhanaan yang Mendidik Zaman
Zaman boleh berubah. Teknologi boleh melesat. Institusi boleh membesar. Namun nilai tetap menjadi fondasi.
Kesederhanaan bukan tanda kekurangan. Ia adalah cermin kedewasaan. Ia adalah tanda bahwa seseorang telah menaklukkan egonya. Dan dalam konteks kepemimpinan, kesederhanaan adalah kekuatan moral yang mampu mendidik zaman.
Selamat Milad ke-50 SMAMDA Sidoarjo.
Semoga terus melahirkan generasi unggul yang cerdas, berkarakter, dan berjiwa rendah hati.
Do The Best. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments