Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kepergian Sang Pendekar Besar : Jejak Keilmuan dan Pengabdian Ahmad Kasuwi Thorif

Iklan Landscape Smamda
Kepergian Sang Pendekar Besar : Jejak Keilmuan dan Pengabdian Ahmad Kasuwi Thorif
Ahmad Kasuwi Thorif. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kepergian Drs. KH. Ahmad Kasuwi Thorif, MA, P.Br., pada Selasa malam (18/11/2025) sekitar pukul 22.10 WIB meninggalkan duka mendalam di tengah keluarga besar Muhammadiyah, Tapak Suci, dan masyarakat luas yang selama ini mengenal sosoknya.

Wafatnya tokoh besar ini terasa mengejutkan, mengingat beliau selama ini dikenal sehat, aktif berdakwah, serta senantiasa hadir sebagai pengayom umat. Sang Pendekar Besar Tapak Suci Putra Muhammadiyah itu telah menutup perjalanan panjang pengabdian, meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.

Lahir di Desa Godog, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan pada 10 April 1953, Kasuwi Thorif tumbuh dari lingkungan keluarga pendekar dan ulama. Ayah dan kakeknya merupakan figur yang menguasai ilmu bela diri sekaligus ilmu agama. Dari merekalah dasar keilmuan dan karakter Abah Wi—begitu ia akrab disapa—dibentuk.

Tak hanya itu, pendidikan pesantren yang ia tempuh di Pondok Karangasem Paciran di bawah asuhan KH Abdurrahman Syamsuri semakin mengasah pemikiran dan spiritualitasnya. Kombinasi inilah yang kelak menjadikan Kasuwi Thorif sosok yang disegani sekaligus dicintai: pendekar yang kuat, ulama yang teduh, dan pendakwah yang merangkul.

Dalam kehidupan keluarga, Abah Wi hidup sederhana bersama istrinya, Hj. Fatimah. Keduanya dikaruniai seorang putri semata wayang, Nur Asyifa, yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah Godog. Keluarga kecil ini menjadi sumber ketenangan dan kekuatan yang selalu mendukung beliau dalam mengabdi sepanjang hidupnya.

Sosok Ahmad Kasuwi Thorif 

Pendidikan formal Kasuwi Thorif dimulai dari MIM 1 Godog yang ia tamatkan pada 1965. Ia melanjutkan ke PGA Maskumambang Dukun (lulus 1968) kemudian PGA Muhammadiyah Paciran (lulus 1972).

Dedikasi terhadap ilmu ia buktikan dengan menuntaskan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surabaya tahun 2010 dan kemudian memperoleh gelar Magister of Art dari Universitas Darul Ulum Jombang.

Meski menempuh pendidikan tinggi di usia matang, semangat belajarnya tak pernah padam, menjadi teladan bagi para kader muda bahwa ilmu tidak mengenal batas usia.

Dalam perjalanan kariernya, Kasuwi Thorif menjalani tugas mulia sebagai guru MIM Godog (1972–1990). Profesi guru bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan ibadah dan perjuangan mencetak generasi berakhlak. Sejak 1973 hingga akhir hayat, ia aktif sebagai juru dakwah, menyampaikan pesan kebenaran dari masjid ke masjid, dari desa ke desa.

Ia juga mengabdi dalam pemerintahan desa Godog selama 35 tahun (1975–2010). Sejak 1990, ia dipercaya sebagai Pembantu Penghulu KUA Laren, peran yang terus ia jalankan hingga akhir hayat.

Di Persyarikatan Muhammadiyah, pengabdian Abah Wi sangat panjang dan menyeluruh. Ia pernah menjadi Ketua Pengkaderan PRPM Lamongan (1985–1990), Wakil Ketua PRM Godog (1985–1990), Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan (1995–2000), hingga Anggota Majelis Tabligh PDM (2005–2010).

Karier organisasinya mencapai puncak ketika dipercaya sebagai Wakil Ketua PDM Lamongan selama dua periode, dari 2015–2022 dan 2022–2027. Sosoknya dikenal akrab, rendah hati, dan memudahkan siapa pun yang datang meminta arahan.

Namun tinta emas perjuangan Kasuwi Thorif paling kuat terlihat dalam dunia Tapak Suci. Ia bukan sekadar pesilat, tetapi seorang legend. Menjabat Ketua Pimda 026 Tapak Suci Lamongan selama lebih dari tiga dekade (1980–2011), ia membina ribuan pendekar muda. Ia pun dipercaya sebagai Ketua Nara Sumber Tapak Suci Daerah (1986–1990),

Jabatan berikutnya sebagai Dewan Pendekar Nasional (1990–1996), anggota Pimwil Tapak Suci Wilayah (1996–2001), Wakil Ketua Dewan Pendekar Nasional (2001–2006), hingga Wakil Ketua Dewan Guru Nasional (2006–2011).

Terakhir, ia menjadi Ketua Dewan Penasehat Tapak Suci Pimwil II Jawa Timur, dan di Pimpinan Pusat Tapak Suci menjadi Anggota Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Dedikasi dan ilmunya menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan Tapak Suci Indonesia.

Tak hanya aktif di Muhammadiyah, Abah Wi juga berperan besar dalam organisasi masyarakat. Ia pernah menjadi Ketua Pembantu Penghulu Kecamatan Laren (2000), Ketua Ta’mir Masjid Desa Godog sejak 2000, Sekretaris Umum MUI Kecamatan Laren (2007–2009), kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum MUI Kecamatan Laren selama 16 tahun (2009–2025).

Beliau juga pernah memimpin IPHI Kecamatan Laren (2009–2013). Pengabdiannya tak mengenal sekat organisasi, siapa pun membutuhkan bantuannya, ia hadir.

Wafatnya Abah Wi tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan besar berupa teladan: keteguhan berjuang, keluasan hati, kedalaman ilmu, serta kesetiaan pada Persyarikatan. Beliau telah menunaikan seluruh perjalanan dengan kemuliaan.

Kini Sang Pendekar Besar berpulang. Namun namanya akan terus hidup dalam ingatan para murid, kolega, dan generasi yang merasakan sentuhan dakwah dan pengabdiannya. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi para hamba-Nya yang saleh.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, Abah Wi. Jejakmu abadi, jasamu takkan lekang oleh zaman. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu