Betapa pentingnya sebuah kesabaran bagi hidup kita sebagai manusia. Ali bin Thalib menamsilkannya sebagai kepala bagi tubuh: tanpa kepala, tubuh akan binasa.
Begitulah jika kita hidup tanpa kesabaran, terasa bagai jasad tanpa nyawa.
Kita akan menjadi mudah terperosok dalam kubangan keputus-asaan, sulit menata langkah, dan terus-menerus mengeluh saat badai menerpa.
Harapan yang rapuh akan mudah sirna, dan impian terasa jauh panggang dari api.
Kesabaran adalah hal yang mutlak dimiliki setiap orang. Sifat mulia ini menjadi pondasi utama dalam kehidupan.
Menurut para psikolog, kesabaran adalah salah satu dari tujuh pilar spiritualitas, bersama dengan keberanian dan ketekunan.
Berbekal kesabaran, seseorang dapat menghadapi berbagai masalah hidup yang pelik dengan senyuman dan optimisme yang tak pudar.
Untuk memiliki kesabaran yang kuat, tidak cukup hanya mengagumi orang-orang hebat.
Kita perlu meneladani kesabaran luar biasa dari para tokoh, seperti Nabi, Rasul, sahabat, ulama, filosof, dan pahlawan.
Kesabaran mereka tidak mengenal batas, jauh melampaui kemampuan kita.
Bayangkan jika kesabaran Nabi Nuh a.s. ada batasnya, beliau tentu tidak akan mampu berjuang menyebarkan ajaran Allah selama 950 tahun.
Kesabaran yang hanya bertahan sebentar tidak akan membuahkan prestasi agung seperti yang beliau torehkan.
Bayangkan pula kesabaran Nabi Ayyub andai berbatas. Tentu beliau tak akan mampu untuk bertahan menghadapi ujian yang berupa kehilangan harta, keluarga dan gerogotan penyakit selama bertahun-tahun.
Ternyata semua kesabarannya justru telah melebihi penderitaannya. Allah pun pada akhirnya mengangkatnya ke derajat yang jauh lebih tinggi.
Apapun yang sudah hilang dari diri, Allah menggantinya dengan kenikmatan yang lebih nikmat.
Para nabi dan rasul yang menyandang gelar Ulul Azmi bukanlah sosok biasa; kesabaran mereka melampaui batas nalar.
Gelar istimewa itu tidak akan disematkan jika kesabaran mereka setipis kulit ari.
Mereka adalah pahlawan-pahlawan Allah dengan daya juang, etos kerja, dan militansi dakwah yang tiada duanya.
Berkat keteguhan dan kesabaran luar biasa, banyak umat tercerahkan.
Mantan tokoh musyrik bertobat menjadi pemuka tauhid, dan para penentang berbalik menjadi penolong agama Allah.
Sebab, kesabaran adalah nafas kehidupan. Dengan kesabaran, seseorang dapat melahirkan karya-karya terbaiknya.
Sebuah kelompok dapat menyelesaikan proyek-proyek besar yang fantastis, organisasi-organisasi bisa membangun lembaga spektakuler, dan bangsa-bangsa mampu menciptakan karya-karya luar biasa.
Bangsa-bangsa terdahulu telah membuktikan bahwa karya besar lahir dari kesabaran dan kompetensi.
Bangsa Persia berhasil menciptakan arsitektur megah, seperti Istana Chehel Sotoun di Isfahan.
Bangsa Tiongkok membangun Tembok Besar. Bangsa Mesir mendirikan Piramida dan Sphinx.
Bangsa Indonesia sendiri mampu membangun Candi Borobudur. Semua mahakarya ini tidak akan pernah ada tanpa kesabaran dan keahlian yang mumpuni.
Selain proyek-proyek besar, banyak pencapaian lain yang tercipta berkat ketekunan dan pengorbanan.
Contohnya seorang mahasiswa yang akhirnya menjadi profesor setelah melewati proses studi yang panjang.
Jika ia tidak memiliki kesabaran dalam mengerjakan tugas, skripsi, tesis, dan disertasi, mustahil ia mencapai prestasi setinggi itu.
Menurut ulama legendaris, Ibnul Qayyim al-Jauziah, kesabaran sejati pada hakikatnya adalah sifat yang keras, tahan menderita, merasakan kepahitan hidup tanpa berkeluh kesah.
Kesabaran adalah sikap tangguh yang mampu melawan kemalasan dan menghancurkan keputusasaan.
Kesabaran membuat seseorang kuat menghadapi berbagai ujian dan rintangan, tidak mengeluh meski beban terasa berat, dan tidak putus asa meski doa tak kunjung dikabulkan.
Dalam ajaran agama, kesabaran tidak hanya diperlukan saat menghadapi cobaan, tetapi juga saat menjalankan kewajiban.
Kita wajib bersabar dalam menunaikan salat lima waktu, berpuasa Ramadan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.
Selain itu, kita juga harus bersabar dalam menjauhi segala larangan Allah, seperti berzina, ghibah, korupsi, mencuri, dan perbuatan dosa lainnya.
Selain proyek-proyek besar, banyak pencapaian lain yang tercipta berkat ketekunan dan pengorbanan.
Contohnya seorang mahasiswa yang akhirnya menjadi profesor setelah melewati proses studi yang panjang.
Jika ia tidak memiliki kesabaran dalam mengerjakan tugas, skripsi, tesis, dan disertasi, mustahil ia mencapai prestasi setinggi itu.
Tanpa kesabaran, mungkin ia hanya akan mentok di tingkat sarjana—atau bahkan hanya lulus SMA.
Menurut ulama legendaris, Ibnul Qayyim al-Jauziah, kesabaran sejatinya pada hakikatnya adalah sifat yang keras, tahan menderita, merasakan kepahitan hidup tanpa berkeluh kesah.
Kesabaran adalah sikap tangguh yang mampu melawan kemalasan dan menghancurkan keputusasaan.
Kesabaran membuat seseorang kuat menghadapi berbagai ujian dan rintangan, tidak mengeluh meski beban terasa berat, dan tidak putus asa meski doa tak kunjung dikabulkan.
Dalam ajaran agama, kesabaran tidak hanya diperlukan saat menghadapi cobaan, tetapi juga saat menjalankan kewajiban.
Kita wajib bersabar dalam menunaikan salat lima waktu, berpuasa Ramadan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.
Selain itu, kita juga harus bersabar dalam menjauhi segala larangan Allah, seperti berzina, ghibah, korupsi, mencuri, dan perbuatan dosa lainnya.
Betapa sulit kita mencapai kehidupan yang baik tanpa kesabaran. Wallahu ‘alam.





0 Tanggapan
Empty Comments