
Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan – Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
PWMU.CO – Mendidik anak adalah amanah besar yang diberikan Allah kepada setiap orang tua. Namun, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar melakukan kesalahan dalam mendidik anaknya.
Kesalahan-kesalahan ini bisa berdampak panjang terhadap perkembangan akhlak, keimanan, dan masa depan anak. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin telah memberikan panduan yang jelas dalam hal pendidikan anak agar generasi yang lahir menjadi pribadi yang shaleh, cerdas, dan berakhlak mulia.
Adapun salah satu contoh kesalahan umum dalam mendidik anak, yaitu sering membandingkan buah hati dengan orang lain. Pengasuhan seperti ini justru bisa membuat anak merasa insecure atau meragukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, hal seperti ini seharusnya dihindari oleh orang tua.
Dalam berbagai kasus, orang tua terkadang memiliki kesalahan dalam mendidik anak yang kerap kali tidak disadari. Untuk menghindari dampak buruk pada buah hati, pahami pembahasan di bawah ini.
Kesalahan Umum dalam Mendidik Anak
1. Kurangnya Keteladanan dari Orang Tua
Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilihatnya di rumah akan terekam kuat dalam pikirannya. Kesalahan besar terjadi ketika orang tua memerintahkan anak untuk shalat, tetapi mereka sendiri lalai dalam melakukannya. Ini menimbulkan kebingungan dan kebimbangan dalam diri anak.
Sebagaimana Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
Artinya: “Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (Qs As-Shaff ayat 2-3).
Ayat 2-3 dalam Surah As-Shaff ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam tentang pentingnya konsistensi antara ucapan dan perbuatan, terlebih bagi para orang tua yang menjadi teladan utama bagi anak-anaknya.
Ayat ini menegur keras orang-orang yang mengucapkan sesuatu, tetapi tidak menjalankannya. Allah menyatakan bahwa perbuatan semacam itu sangat dibenci oleh-Nya. Ini berlaku dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan anak di rumah.
Kaitannya dengan Kalimat: “Anak adalah peniru ulung”. Anak-anak belajar bukan hanya dari perkataan orang tua, tapi lebih kuat lagi dari perilaku yang mereka lihat sehari-hari. Ketika orang tua menyuruh anak untuk shalat, jujur, berkata baik, atau menuntut ilmu, tetapi mereka sendiri lalai, maka anak akan menangkap sinyal kebingungan dan kontradiktif.
Contohnya: Orang tua menyuruh anak shalat, tapi dirinya malas ke masjid. Orang tua menyuruh anak jangan bohong, tapi mereka sering berbohong ke tetangga atau guru. Ini akan membuat anak ragu terhadap nilai-nilai yang diajarkan, bahkan bisa tumbuh menjadi pribadi yang sinis, apatis, atau munafik secara perilaku.
Mengapa Ini Berbahaya? Pertama, Anak kehilangan panutan. Ia bingung, harus percaya pada perkataan atau pada contoh nyata?
Kedua, mengikis otoritas moral orang tua karena anak melihat ketidakkonsistenan sebagai kelemahan dan tidak lagi menghormati nasihat, serta yang ketiga, meniru kemunafikan secara tidak sadar. Anak akan belajar bahwa berkata baik itu cukup, walau tak diamalkan.
Dalam poin pertama, Pelajaran Penting untuk Orang Tua: Jadilah teladan, bukan sekadar penceramah. Anak-anak lebih banyak menyerap dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari yang mereka dengar.
Kemudian, tunjukkan konsistensi dalam hal kecil dan besar. Misalnya: jika menyuruh anak merapikan tempat tidur, orang tua juga harus melakukannya.
Gunakan pendekatan keteladanan (uswah hasanah), sebagaimana Rasulullah Saw. diutus sebagai teladan terbaik sebagai firman Allah Qs Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Kesimpulan dari Qs As-Shaff ayat 2–3 adalah peringatan keras bagi siapa saja, khususnya orang tua, untuk tidak jatuh ke dalam kemunafikan perilaku: mengatakan kebaikan, tapi tidak melakukannya. Dalam konteks keluarga, anak sebagai peniru ulung sangat rentan merekam dan meniru inkonsistensi ini, sehingga jika orang tua ingin anaknya tumbuh shaleh, mereka harus memulainya dari diri sendiri.
Maka, didiklah anak-anakmu dengan perbuatanmu, sebelum mendidik mereka dengan lisanmu.
2. Mendidik dengan Kekerasan Fisik dan Verbal
Seringkali, dalam menghadapi kenakalan anak, orang tua memilih jalan kekerasan: memukul, membentak, atau menghinakan anak. Cara ini justru merusak psikologis anak, membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang penakut, pendendam, atau tidak percaya diri.
Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ”.
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini sangat relevan dalam konteks pendidikan dan pengasuhan anak, khususnya dalam menghadapi kenakalan atau kesalahan mereka.
Dalam masyarakat Arab zaman dahulu, kekuatan fisik sangat diagungkan. Namun, Nabi Saw mengoreksi pandangan ini. Beliau menekankan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot, tapi pada kemampuan seseorang mengendalikan emosinya, terutama saat marah.
Hadits ini menjadi pedoman penting dalam mendidik anak, terutama ketika mereka melakukan kesalahan atau kenakalan.
Pertama, kekerasan bukan solusi. Memukul, membentak, atau menghina anak adalah bentuk pelampiasan amarah, bukan tindakan mendidik.
Tindakan tersebut hanya merusak psikologis anak, membuat mereka tumbuh dengan rasa takut, tidak percaya diri, atau bahkan membenci orang tuanya.





0 Tanggapan
Empty Comments