Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kesalahan dalam Mendidik Anak Menurut Islam: Sebuah Refleksi dan Pembelajaran

Iklan Landscape Smamda
Kesalahan dalam Mendidik Anak Menurut Islam: Sebuah Refleksi dan Pembelajaran
pwmu.co -

Kedua, menahan amarah adalah tanda kekuatan. Orang tua yang mampu mengendalikan emosi saat anak berbuat salah menunjukkan kematangan emosional dan kepemimpinan yang sejati dalam keluarga.

Dalam kondisi marah, tetap bersikap sabar dan bijaksana justru akan memberikan dampak positif yang lebih besar dalam proses pembentukan karakter anak.

Ketiga, mendidik dengan kasih sayang. Rasulullah Saw sendiri adalah teladan dalam hal ini. Beliau tidak pernah memukul anak-anak, bahkan saat mereka berbuat kesalahan. Beliau juga selalu menasihati dengan lembut, menunjukkan kesabaran luar biasa, dan tetap memberikan bimbingan yang membangun.

Kesimpulannya, hadits ini mengajarkan kita bahwa menjadi orang tua yang kuat bukanlah yang paling keras dalam hukuman, tetapi yang paling sabar dalam menghadapi kesalahan anak. Marah itu manusiawi, tetapi menahan marah itulah yang menunjukkan kekuatan dan kedewasaan sejati.

Maka dari itu, tanamkan pendidikan dengan kesabaran dan cinta, karena anak bukan hanya butuh disiplin, tapi juga butuh teladan dan kehangatan dari orang tuanya karena Islam menganjurkan kasih sayang dalam mendidik. Nabi Muhammad Saw adalah contoh terbaik dalam mendidik anak-anak dengan lemah lembut.

3. Tidak Mengajarkan Nilai-nilai Keislaman Sejak Dini

    Banyak orang tua lebih fokus pada pendidikan akademik, tetapi melalaikan pendidikan iman dan akhlak. Padahal, keimanan adalah fondasi utama yang akan membimbing anak di masa depan. Kesalahan ini bisa membuat anak tumbuh cerdas, tetapi jauh dari nilai-nilai Islam.

    Allah Swt berfirman dalam Qs at-Tahrim ayat 6:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

    Ayat ini adalah seruan langsung dari Allah Swt kepada orang-orang yang beriman agar mereka bertanggung jawab atas dirinya dan keluarganya, terutama dalam urusan agama dan keselamatan akhirat:

    Relevansinya dengan Pendidikan Islam Anak dalam ayat ini adalah yang pertama: Perintah Langsung kepada Orang Tua.

    Allah menyeru langsung kepada orang-orang yang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari neraka. Ini menunjukkan bahwa orang tua punya tanggung jawab besar dalam membimbing anak-anaknya ke jalan keselamatan, bukan hanya secara duniawi (pendidikan akademik), tetapi lebih utama secara ukhrawi (iman dan akhlak).

    Intinya, tanggung jawab pendidikan anak pertama kali ada di pundak orang tua, bukan sekolah atau guru.

    Kedua, pendidikan Iman dan Akhlak adalah Fondasi. Anak yang hanya diajarkan sains, teknologi, dan akademik tanpa iman, bagaikan rumah besar tanpa fondasi. Bisa terlihat kokoh, tetapi rapuh di dalam karena anak yang cerdas tapi tidak punya iman dan akhlak bisa terjerumus pada kejahatan yang lebih berbahaya.

    Ayat ini menyadarkan bahwa penanaman tauhid, ibadah, dan akhlak Islami sejak dini adalah bentuk utama dari menyelamatkan anak dari api neraka.

    Tiga, pendidikan Islam adalah Benteng dari Siksa Neraka. Dalam Kalimat “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” menunjukkan bahwa mendidik anak agar selamat di akhirat adalah bentuk kasih sayang tertinggi orang tua. Pendidikan Islam bukan sekadar pengetahuan, tapi pembentukan karakter, akhlak, dan ketaatan kepada Allah.

    Empat, ancaman Neraka Bukan Hal Sepele. dalam penggalan ayat tersebut “…yang bahan bakarnya manusia dan batu, dijaga oleh malaikat yang keras dan kasar…”

    Bagian ini menggambarkan betapa mengerikannya siksa neraka. Maka, orang tua harus serius menjadikan rumah sebagai madrasah pertama, tempat anak belajar tentang Allah, Rasul, al-Quran, dan akhlak mulia.

    Oleh karena itu, kesimpulan dari Qs at-Tahrim ayat 6 menjadi landasan kuat bagi pendidikan Islam dalam keluarga. Ayat ini menegaskan: Orang tua adalah pendidik utama, Pendidikan iman dan akhlak lebih penting dari sekadar pencapaian akademik, dan Menjaga anak dari neraka berarti membimbing mereka dengan nilai-nilai Islam.

    Anak bukan hanya dituntun agar sukses di dunia, tapi lebih dari itu: agar selamat di akhirat.

    Sebuah laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa banyak remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan narkoba berasal dari keluarga yang kurang membekali anak dengan pendidikan agama.

    Salah satu kasus yang cukup viral adalah seorang remaja SMP di kota besar yang tertangkap mencuri bersama teman-temannya. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Saya tidak tahu mana yang salah, karena orang tua saya sibuk bekerja dan tidak pernah mengajarkan saya soal agama.”

    Kasus ini mencerminkan betapa pentingnya pendidikan akhlak dan agama sejak dini. Keluarga bukan hanya tempat tinggal, tapi juga madrasah pertama bagi anak.

    Perlu Refleksi dan Perbaikan

    Mendidik anak bukan hanya tugas, tapi juga ibadah. Kesalahan dalam mendidik bisa dihindari jika orang tua terus belajar, introspeksi, dan menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan. Mendidik dengan kasih sayang, keteladanan, dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini akan melahirkan generasi yang kuat, cerdas, dan berakhlak mulia.

    Mari kita renungkan sabda Rasulullah Saw yang sudah sering kita dengar, Rasulullah pernah menyampaikan:

    أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

    Artinya: “Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).

    Hadits ini menegaskan bahwa kita semua adalah pemimpin, seorang bapak bertanggung jawab memimpin seluruh anggota keluarganya, dan seterusnya. Kelak, kepemimpinannya itu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

    Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt dan diberikan nikmat kesehatan, sehingga dapat mendidik anak sesuai dengan syariat Islam. (*)

    Editor Ni’matul Faizah

    Iklan Landscape Unmuh Jember

    Baca Lainnya

    Iklan pmb sbda 2025 26

    0 Tanggapan

    Empty Comments

    Search
    Menu