Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kesehatan Mental, Isu Bersama Sepanjang Rentang Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Kesehatan Mental, Isu Bersama Sepanjang Rentang Kehidupan
Ilustrasi: Indikasi foundation
Oleh : Aulia Azkia Syahidah Sufyan dan Diva Damyanti Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pwmu.co -

Kesehatan mental kini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan segelintir orang atau kelompok usia tertentu. Ia telah menjadi isu lintas generasi yang menyentuh hampir setiap lapisan kehidupan manusia.

Dari balita yang baru mengenal dunia, remaja yang tumbuh di tengah gempuran media sosial, orang dewasa yang bergulat dengan tuntutan hidup, hingga lansia yang menghadapi kesepian dan kehilangan, semuanya berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental.

Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap isu ini masih tergolong rendah. Kesehatan mental kerap disamakan dengan kesehatan fisik, atau bahkan dianggap sesuatu yang sepele dan tidak mendesak.

Padahal, kesehatan mental memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas hidup seseorang. Ia memengaruhi cara berpikir, merasakan, bertindak, serta berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Tanpa kesehatan mental yang baik, seseorang akan kesulitan menjalani kehidupan secara optimal, meskipun secara fisik tampak sehat.

Memahami Makna Kesehatan Mental

Zakiah Daradjat (1983) menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi ketika fungsi-fungsi kejiwaan berjalan secara selaras dan seimbang.

Dalam kondisi tersebut, individu mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta tetap merasakan kebahagiaan dan perkembangan diri.

Definisi ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan, melainkan tentang kualitas hidup secara menyeluruh.

Pandangan ini sejalan dengan definisi dari World Health Organization (WHO) yang menekankan bahwa kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana individu menyadari potensi dirinya, mampu mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi bagi lingkungannya.

Dengan kata lain, kesehatan mental adalah fondasi penting bagi kesejahteraan individu dan masyarakat.

Fenomena Gangguan Mental di Era Modern

Dalam kehidupan sehari-hari, masalah kesehatan mental yang paling sering muncul adalah stres, kecemasan, dan depresi.

Kondisi ini semakin menguat sejak pandemi Covid-19 melanda dunia. Pembatasan sosial, ketidakpastian ekonomi, perubahan pola belajar dan bekerja, serta meningkatnya ketergantungan pada dunia digital menjadi faktor pemicu yang tidak bisa diabaikan.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2022 prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia mencapai 9,8 persen dan cenderung mengalami peningkatan.

Angka ini mencerminkan realitas bahwa gangguan kesehatan mental bukan lagi kasus sporadis, melainkan fenomena sosial yang meluas.

Dampaknya terasa di semua kelompok usia. Pada anak usia dini, paparan gawai yang berlebihan sering kali menyebabkan keterlambatan bicara dan gangguan perkembangan sosial-emosional. Anak-anak menjadi lebih pasif, sulit berkomunikasi, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar.

Remaja menghadapi tekanan yang berbeda. Media sosial sering menghadirkan standar hidup yang tidak realistis, memicu perasaan tidak cukup baik, kecemasan, dan rendah diri.

Ditambah dengan tekanan akademik, konflik keluarga, serta pencarian jati diri, remaja menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan mental.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Beban Mental pada Usia Produktif dan Lansia

Memasuki usia produktif, tantangan kesehatan mental tidak serta-merta berkurang. Stres kerja, tuntutan ekonomi, tanggung jawab keluarga, serta tekanan untuk “berhasil” dalam berbagai aspek kehidupan sering kali menumpuk tanpa disadari.

Banyak orang dewasa terjebak dalam rutinitas yang melelahkan, tetapi tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan kelelahan emosionalnya.

Sementara itu, lansia sering kali luput dari perhatian. Padahal, mereka menghadapi tantangan besar berupa kesepian, penurunan kondisi fisik, serta kehilangan pasangan atau orang-orang terdekat.

Minimnya dukungan sosial membuat lansia rentan mengalami depresi, tetapi kondisi ini sering dianggap wajar sebagai bagian dari proses menua. Pandangan inilah yang justru berbahaya.

Seluruh gambaran tersebut menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental adalah masalah bersama, bukan semata-mata persoalan individu. Ia berkaitan erat dengan lingkungan keluarga, sistem pendidikan, dunia kerja, hingga budaya sosial yang kita bangun bersama.

Daradjat menegaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu perasaan, pikiran, perilaku, dan kondisi fisik. Keempatnya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh.

Pikiran negatif dapat memicu perasaan cemas, yang kemudian memengaruhi perilaku dan bahkan berdampak pada kondisi fisik seseorang.

Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak bisa dilakukan secara parsial. Semiun (2006) menekankan pentingnya sikap menghargai diri sendiri, kemampuan menerima keterbatasan, memahami alasan di balik perilaku orang lain, serta memiliki motivasi untuk terus mengembangkan diri.

Sikap-sikap inilah yang dapat menjadi benteng awal dalam menjaga keseimbangan mental.

Saatnya Lebih Peduli dan Terbuka

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Membicarakan kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian dan kepedulian.

Lingkungan kampus, keluarga, dan komunitas memiliki peran strategis dalam menciptakan ruang yang aman, suportif, dan bebas stigma.

Jika kesadaran ini tumbuh sejak dini, maka anggapan tentang “generasi hilang” akibat krisis mental bukanlah sebuah keniscayaan.

Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat pulih, tumbuh, dan berkembang menjadi generasi yang lebih sehat secara mental. Syaratnya satu: kita tidak lagi menutup mata, tidak lagi menganggap remeh, dan mulai bergerak bersama.

Kesehatan mental adalah investasi jangka panjang bagi kualitas manusia dan masa depan bangsa. Menjaganya berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu