Dalam hidup, adakalanya kita mendapatkan kesempatan kedua (second chance of life).
Sebagian dari kita memang layak menerimanya, namun bukan untuk mengulangi kesalahan yang sama.
Kesempatan kedua adalah bentuk validasi atas perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga sudah sepatutnya kita melakukan refleksi diri (self-reflection) atau muhasabah.
Kesempatan kedua juga merupakan formasi tawadu’ yang maksudnya perlu kebesaran hati untuk mengakui kesalahan dan melepaskan egos serta gengsi dalam diri.
Hakikat manusia secara eksplisit berkaitan dengan kata nisyan yang bermakna lupa.
Maka benarlah maqalah populer dalam Islam yang menyatakan, ‘Al-insanu mahallul khata’ wan nisyan’; bahwa setiap insan tidak luput dari kesalahan (khata’) dan sifat lupa (nisyan).
Ungkapan ini menegaskan bahwa sesungguhnya manusia itu lemah, tidak luput dari kesalahan, dan juga sering lupa. Karena itu, kita harus selalu bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Sebab, manusia merupakan sasaran utama godaan setan yang bertujuan menjerumuskan mereka ke dalam bara api neraka secara bersama-sama.
Setan berperan untuk amar mungkar dan nahi makruf (mengajak kejelekan dan mencegah kebaikan), maka Allah memberikan batasan batasan (boundary) kepada manusia yang bersifat auntentik, benar dan mutlak.
Al-Qur’an dan Hadis pun menjadi pedoman hidup. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:
تركت فيكم أَمْرَيْن لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه مالك) .
Artinya: “Telah aku tinggalkan untukmu dua perkara: kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunah Nabi- Nya.” (HR. Malik).
Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita akan merasakan krusialnya hakikat hidup.
Setan senantiasa datang dan tak pernah lengah menggoda manusia dari segala arah, menggunakan segala tipu daya agar mereka ingkar terhadap perintah Allah.
Iblis takkan lenyap atau binasa selama dunia masih ada. Ini karena ia telah memohon izin kepada Allah untuk terus menyesatkan manusia, dimulai dari kedengkiannya kepada Nabi Adam AS di surga hingga hari kiamat nanti.
Fakta ini banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an, salah satu contohnya melalui dialog antara iblis dan Allah di Surah Al-Hijr Ayat 36-38.
قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ * قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ * إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
Artinya:
“Ia (Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Maka, sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu, sampai hari yang telah ditentukan waktunya (Kiamat).”
Iblis merupakan sosok yang mendedikasikan dirinya sebagai penggoda manusia dari berbagai aspek kehidupan.

Secara universal, “setan” adalah sebutan bagi setiap makhluk jahat (baik dari golongan jin maupun manusia) yang membangkang terhadap perintah Allah, sementara Iblis adalah pemimpin atau asal-muasal kesesatan tersebut.
Maka, saat kita terperangkap dalam jerat rayuan setan, segeralah bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus. Jadikan kesalahan sebagai pelajaran berharga agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Selama manusia tetap menjaga keimanan dan memegang teguh keislamannya, pintu taubat akan senantiasa terbuka. Sebagaimana ungkapan para ahli sufi bahwa rahmat Allah jauh melampaui murka-Nya; taubat adalah bukti nyata dari rahmat tersebut, sekaligus kesempatan kedua bagi manusia untuk bertransformasi menjadi versi terbaiknya.
Manusia berkesempatan mengubah penyesalan menjadi kebijaksanaan dalam menapaki hidup. Tanpa kesempatan kedua, kegagalan hanyalah sebuah akhir yang menyedihkan (sad ending). Namun, dengan adanya peluang baru, kegagalan tersebut berubah menjadi “guru” yang mendewasakan.
Kita tidak lagi melangkah dengan tangan kosong, melainkan dengan strategi yang lebih matang karena telah memahami apa yang menyebabkan kegagalan sebelumnya. Hal ini menumbuhkan harapan di tengah keputusasaan.
Allah Yang Maha Pengampun (Al-Ghaffar) dan Maha Penerima Taubat (At-Tawwab) senantiasa membentangkan ampunan-Nya bagi hamba yang bertaubat dengan taubatan nasuha.
Oleh karena itu, mulailah setiap tindakan dengan basmalah sebagai bentuk pengabdian, serta ta’awudz sebagai perlindungan dari godaan setan.
Dalam perspektif Islam, Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya:
“Seorang mukmin tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari & Muslim).
Ini adalah peringatan agar seorang Muslim selalu waspada dan senantiasa menggunakan akal sehatnya untuk belajar dari kekeliruan masa lalu.
Cara memaksimalkan kesempatan kedua
Agar kesempatan kedua tidak terbuang percuma, berikut adalah langkah-langkah yang perlu diambil:
- Refleksi Diri yang Mendalam: Pahami secara objektif akar penyebab kegagalan atau kesalahan di masa lalu.
- Pembuktian Melalui Tindakan: Alihkan energi dari sekadar janji lisan menjadi perubahan perilaku yang nyata dan konsisten.
- Ketabahan dalam Proses: Sadari bahwa memulihkan kepercayaan atau memperbaiki keadaan memerlukan waktu dan kesabaran ekstra.
Kesempatan kedua bukanlah sekadar pengulangan waktu (retime), melainkan momentum untuk menunjukkan transformasi diri. Ia adalah manifestasi kasih sayang Sang Pencipta yang memberi kita ruang untuk berbenah.
Di sunyi malam pertiga
Merintihku menyesali diri yang hina
Terngiang dosa telah membuncah
Terbayang panasnya jahannam alam baqa
Berteriakku dalam sanubari
Ya Tawwab, Ya malikal mulki
Ampuni diri yang dhaif ini
Penuh lumur dosa tak ternilai
Berikan secercah cahaya
Untuk hamba yang telah alpa
Hamba yang benar benar salah
Namun ku yakin RahmatMu melampaui Murka
Maka Terima taubat hamba
Wahai sang Maha Pemurah





0 Tanggapan
Empty Comments