Setiap kali usia kita bertambah, sejatinya jatah umur kita berkurang. Hari yang kita lewati bukan hanya menambah angka, tetapi juga mengurangi sisa waktu yang Allah titipkan.
Kesempatan untuk memperbaiki diri pun semakin menyempit, hingga pada akhirnya yang tersisa hanyalah satu: kesempatan terakhir.
Banyak orang menjalani hidup seakan waktu masih panjang. Menunda taubat, menangguhkan kebaikan, dan merasa selalu ada esok untuk memperbaiki kesalahan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang tahu apakah esok benar-benar masih menjadi milik kita.
Orang-orang cerdas akan menggunakan setiap waktu yang tersisa sebagai kesempatan terakhir dalam hidupnya. Ia bangun pagi dengan kesadaran bahwa mungkin itu adalah subuh terakhirnya.
Ia bersedekah dengan perasaan bahwa mungkin itu adalah sedekah terakhirnya. Ia meminta maaf dengan sungguh-sungguh karena boleh jadi itulah kesempatan terakhirnya memperbaiki hubungan. Kalau tidak, ia akan menyesal dengan penyesalan yang mendalam.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya: “Dan pada hari itu neraka Jahannam didatangkan; pada hari itu sadarlah manusia tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Allah berfirman: ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 23–24)
Ayat ini menggambarkan penyesalan yang tak lagi bernilai. Kesadaran datang, tetapi kesempatan sudah hilang. Betapa banyak manusia yang baru sadar pentingnya kebaikan ketika pintu amal telah tertutup.
Bayangkan seorang ayah yang terlalu sibuk bekerja. Ia selalu berkata kepada anaknya, “Nanti ya, Ayah sibuk.” Ia menunda bermain, menunda mendengar cerita, menunda memeluk.
Hingga suatu hari, anak itu tumbuh dewasa. Kesempatan masa kecil itu tak pernah kembali. Penyesalan datang, tetapi waktu tak bisa diulang.
Begitu pula dengan seorang pegawai yang berniat berhijrah. Ia ingin mulai shalat tepat waktu, ingin berhenti dari kebiasaan buruk, ingin memperbaiki lisannya.
Namun selalu ia berkata, “Tunggu nanti setelah proyek selesai. Tunggu setelah kondisi mapan.” Tanpa disadari, usia terus berjalan. Lalu suatu hari kabar duka datang—bukan tentang orang lain, tapi tentang dirinya sendiri.
Kematian tidak pernah menunggu kesiapan kita. Meyakini bahwa hidup ini bisa jadi hanya menyisakan satu kesempatan terakhir akan membuat kita lebih sungguh-sungguh memperbaiki diri; lebih serius untuk bertaubat, menambah amal shalih, dan menguatkan keikhlasan kepada Allah Ta’ala.
Persis seperti perlombaan. Semakin mendekati garis finish, seharusnya kita semakin bersungguh-sungguh mengerahkan segenap daya upaya untuk menang—yaitu meraih husnul khatimah.
Seorang pelari marathon tidak akan berjalan santai ketika sudah melihat garis akhir. Ia justru mengerahkan seluruh sisa tenaga.
Nafas terengah, kaki terasa berat, tetapi semangatnya memuncak. Ia tahu, beberapa langkah lagi akan menentukan segalanya.
Al-Imam Ibnu Al-Jauziy berkata: “Seekor kuda balap jika sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kita kalah cerdas dengan kuda! Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Jika pahit dalam permulaan, semoga perpisahan nanti bisa berujung manis.”
Betapa dalam nasihat ini. Jangan sampai hewan saja lebih paham tentang kesungguhan di akhir perlombaan, sementara manusia justru lalai menjelang akhir hidupnya.
Tidak Peduli Seberapa Buruk Masa Lalu
Barangkali ada di antara kita yang merasa masa lalunya terlalu kelam. Dosa terasa menumpuk, kesalahan seakan tak terhitung. Namun selama nafas masih berhembus, pintu taubat belum tertutup.
Imam Ibnu Taimiyyah berkata: “Yang akan diperhitungkan adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, bukan buruknya permulaan.”
Ini adalah harapan besar bagi siapa pun. Seorang yang dulunya jauh dari Allah bisa saja wafat dalam keadaan paling dekat dengan-Nya. Seorang yang pernah lalai bisa saja mengakhiri hidupnya dengan sujud yang panjang dan tulus.
Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Perbaiki apa yang tersisa padamu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah berlalu. Maka manfaatkan sebaik-baiknya waktu yang tersisa. Kita tidak tahu kapan rahmat Allah—yaitu kematian—akan datang menghampiri.”
Perhatikan kalimat itu: perbaiki yang tersisa. Bukan memperbaiki masa lalu, karena masa lalu sudah selesai. Yang bisa kita sentuh hanyalah hari ini.
Cobalah bertanya pada diri sendiri: Jika hari ini adalah hari terakhirku, apakah aku sudah meminta maaf kepada orang tua? Apakah aku sudah melunasi hutang? Apakah aku sudah meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini kutunda untuk dihentikan?
Merenungi pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita cemas berlebihan, tetapi agar kita hidup lebih sadar.
Sadar bahwa waktu adalah amanah. Sadar bahwa usia adalah titipan. Sadar bahwa setiap detik adalah peluang terakhir.
Maka jangan tunggu momen besar untuk berubah. Mulailah dari langkah kecil: satu istighfar yang tulus, satu shalat yang lebih khusyuk, satu sedekah yang lebih ikhlas, satu permintaan maaf yang jujur.
Karena bisa jadi, itulah amal penutup kita. Dan ketika benar-benar tiba kesempatan terakhir itu, semoga kita tidak termasuk orang yang berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.”
Semoga yang tersisa dari umur kita menjadi bagian terbaik dari hidup kita. Semoga akhir kita lebih indah daripada awalnya. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita husnul khotimah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments