Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Sendangagung, Paciran, Lamongan tetap menggelar arisan jidor meskipun tanpa kehadiran pimpinannya, Farih Hamdan, S.Pd.I., pada Kamis (20/11/2025).
Ia berhalangan hadir karena pada waktu yang sama turut mendampingi pelaksanaan lomba pidato tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia) di SMPM 12 Spemudas Paciran yang digelar pukul 20.00-22.30 WIB.
Arisan Jidor “Pemuda Bersinar” yang menjadi program rutin Pemuda Muhammadiyah Sendangagung Paciran ini mengadakan pertemuan bulanan di rumah Iwantoro S.Pd., Jalan Raya Kali Lebak Sendangagung, sekitar 50 meter sebelah utara SMPM 12 Spemudas Paciran.
Farih Hamdan mengaku cukup sering tidak dapat mengikuti latihan musik tradisional khas Sendangagung karena jadwal kegiatannya pada malam hari kerap berbenturan dengan agenda lain, seperti rapat atau kegiatan ekstrakurikuler band pelajar yang ia bina.
Meski begitu, ia tetap menjaga kekompakan dengan menginformasikan ketidakhadirannya melalui grup WhatsApp serta memantau perkembangan latihan jidor dari tempat lain.
“Alhamdulillah masih ada sekretaris PRPM, Salman Ahsanul Khuluq, S.Pd., yang rajin dan disiplin mengikuti setiap latihan jidor. Ini menjadi teladan bagi anggota Jidor Pemuda Muhammadiyah lainnya,” tutur pengelola keuangan Paguyuban Jidor Pemuda Bersinar, Ahmad Nurhadi, SH., S.Pd.,
Ia menambahkan bahwa tujuan utama arisan ini adalah mempererat silaturahmi dengan keluarga anggota dan menghindari kejenuhan bila latihan hanya berlangsung di sanggar atau rumah H. Milkan Muin.
“Semoga program ini bisa berjalan istikamah dan tujuan-tujuannya tercapai,” harap Ahmad Nurhadi.
Sementara itu, pemukul bass atau jidor, Ahmad Hanif, mengaku merasakan kedekatan emosional antaranggota saat kegiatan dilakukan di rumah-rumah anggota.
“Dengan bermain di rumah-rumah anggota, kami bisa mengenal keluarganya dan memahami lingkungan sekitarnya,” ungkap pengrajin emas tersebut.
Menurutnya, selain sebagai hiburan musik, jidor memiliki banyak manfaat untuk mempererat hubungan antarwarga. Ada tradisi sambang-sinambang atau saling berkunjung.
“Nek gak ngene, ora roh omah-omah nang kene (kalau tidak begini, kita tidak akan tahu rumah-rumah di sekitar sini),” candanya
Ia kemudian menutup dengan sebuah candaan berbahasa Jawa. “Kampunge Iwantoro iki meski pinggir dalan, tapi ora bakal rame ngene nek ora cedhak SMPM 12 utawa Ponpes Al-Ishlah,” ujarnya. Candaan itu bermakna bahwa kampung tempat tinggal Iwantoro tidak akan seramai ini apabila tidak berdekatan dengan SMPM 12 maupun Ponpes Al-Ishlah.





0 Tanggapan
Empty Comments