Family Gathering SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menghadirkan guru spiritual Drs. H. Nadjih Ihsan, mantan Kepala Smamita. Kegiatan berlangsung di Rangguwuni Meeting Room, Shanaya Resort Malang, pada Jumat–Sabtu (16–17/1/2026).
Dalam tausiah singkatnya, Ustadz Nadjih menyampaikan pesan penuh makna mengenai fondasi kesuksesan SMA Muhammadiyah 1 Taman. Menurutnya, keberhasilan Smamita hingga saat ini tidak terlepas dari kuatnya tauhid, terjaganya ukhuwah, serta kesiapan seluruh civitas akademika dalam menghadapi tantangan masa depan.
Ustadz Nadjih menegaskan bahwa tauhid merupakan pondasi utama dalam setiap ikhtiar pendidikan. Dengan tauhid yang kuat, seluruh proses pembelajaran dan aktivitas sekolah akan senantiasa bernilai ibadah serta melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab.
“Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita bisa berkumpul dengan ramah, duduk bareng, bersama-sama. Ini nikmat yang luar biasa,” ujarnya mengawali tausiah.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah mengenal Smamita sejak 1980 dan sekitar 18 tahun membersamai perjalanan sekolah tersebut.
“Saya pribadi mengenal Smamita sejak tahun 1980. Saya sudah berinteraksi dengan lingkungan ini, bahkan sekitar 18 tahun membersamai perjalanan Smamita. Ibu-ibu yang bergabung sejak awal tentu menjadi saksi bagaimana perjuangan ini dimulai dari nol,” tuturnya.
Ia kemudian menekankan pentingnya iman dan tauhid sebagai dasar utama.
“Pertama ingin saya tekankan adalah iman dan tauhid. Dalam kitab-kitab tausiah disebutkan, iman itu harus kuat sejak awal. Nabi mengajarkan bahwa jika iman dan tauhid seseorang baik, maka kebaikan akan mengalir ke mana-mana,” jelasnya.
Ia mencontohkan perjalanan Muhammadiyah yang mampu berkembang lebih dari satu abad.
“Kita belajar dari sejarah Muhammadiyah yang telah berusia lebih dari satu abad, bahkan 113 tahun, tanpa konflik besar di pusat. Asetnya terus berkembang dan dakwahnya mendunia. Semua itu berdiri di atas dasar Al-Qur’an, hadist, dan tauhid yang lurus,” paparnya.
Fondasi kedua, menurutnya, adalah ukhuwah atau persaudaraan.
“Disiplin kita berbeda-beda, keilmuan kita juga beragam, tetapi semuanya harus bergerak dalam tujuan yang sama. Direktur dan kepala sekolah tidak ada artinya tanpa dukungan semua unsur, termasuk tenaga kependidikan, keamanan, dan seluruh civitas. Kita bukan bekerja secara individu, melainkan sebagai tim. Ketika kita solid, insyaallah hasilnya akan terlihat nyata,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa ukhuwah Islamiyah bukan sekadar kebersamaan, melainkan persaudaraan yang melahirkan kekuatan.
“Ukhuwah Islamiyah itu bukan hanya kebersamaan, tetapi persaudaraan yang mampu membangun kekuatan, termasuk dalam ekonomi umat. Banyak umat Islam yang kaya, tetapi kekuatannya akan terasa jika dibangun dengan persaudaraan,” lanjutnya.
Fondasi ketiga adalah kesiapan menghadapi masa depan.
“Gedung yang megah dan fasilitas yang terus berkembang adalah inspirasi, tetapi semua itu tidak ada artinya jika tidak diiringi kualitas. Kualitas moral yang baik, keilmuan yang kuat, interaksi sosial yang sehat dengan masyarakat, serta hubungan yang kokoh dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegasnya.
Ia kembali menekankan pentingnya penguatan akidah, ukhuwah, dan kesiapan menghadapi masa depan.
“Kuatkan akidah, perkuat ukhuwah, dan siapkan diri menghadapi masa depan. Kita harus mampu mengadopsi teknologi, bergerak dinamis, dan terus berkembang. Dengan persiapan fisik dan perencanaan 10 tahun ke depan, insyaallah Smamita akan jauh lebih luar biasa dibandingkan hari ini,” ujarnya.
Di akhir tausiah, ia mengajak seluruh civitas untuk optimistis dalam berjuang.
“Yakinlah bahwa dalam setiap perjuangan yang dilandasi iman, persaudaraan, dan kerja bersama, pasti akan ada kemenangan. Itulah sunnatullah yang Allah janjikan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments