Dalam perspektif sosial, agama tidak hanya berfokus pada kesalehan individual, melainkan juga manifestasi kesalehan itu dalam ruang publik.
Sejak awal, Islam sejak awal hadir bukan sebatas sebagai ajaran spiritual pribadi, melainkan sebagai panduan dalam membangun masyarakat yang beradab.
Sejarah mencatat transformasi Yastrib menjadi Madinah setelah penduduknya memeluk Islam, yang kemudian tumbuh menjadi ikon peradaban.
Madinah bukan sekadar kota, tetapi mewujud nyata menjadi simbol peradaban.
Padanya Rasulullah Muhammad SAW meletakkan pondasi sistem sosial (ukhuwah Muhajirin–Anshar), politik dan hukum (Piagam Madinah), toleransi dan pluralisme (hidup bersama Muslim dan non-Muslim), pendidikan (masjid sebagai pusat peradaban) serta keadilan sosial-ekonomi.
Dalam konteks ini, terdapat 2 (dua) ungkapan penting dalam tradisi Islam yang relevan untuk dijai ulang. Terutama dalam menghadapi realitas dan krisis kemanusiaan kontemporer.
Dua ungkapan penting itu adalah: satu, sabda Nabi Muhammad SAW:
يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ
“Tangan Allah berada di atas jamaah” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim).
Dua, ungkapan yang acapkali dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a.: الحق بلا نظام قد يغلبه الباطل بلا نظام yang artinya “Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”.
Kedua ungkapan ini tidak membicarakan dogma, tetapi tentang hukum sosial — tentang bagaimana kebaikan bekerja, bertahan, dan memberi dampak di tengah kehidupan manusia.
Jamaah dalam Perspektif Agama dan Ilmu Sosial
Dalam pemahaman Islam, jamaah tidak sekadar bermakna kumpulan orang.
Secara etimologi jamaah berasal dari bahasa Arab جمع – يجمع – جمعًا (jama‘a) yang berarti mengumpulkan, menghimpun, atau menyatukan.
Menurut Imam al-Syāṭibī (w. 790 H), definisi jama’ah adalah:
الجماعة هم المجتمعون على الحق المتمسكـون به، لا من كثر عددهم
“Jama‘ah adalah orang-orang yang bersatu di atas kebenaran dan berpegang teguh dengannya, bukan karena banyaknya jumlah”.
Pada hakekatnya, Jamaah adalah entitas yang terikat oleh nilai, tujuan, dan keteraturan.
Karena itu, hadis “Tangan Allah berada di atas jamaah” tidak semestinya dimaknai secara teologis semata, melainkan juga secara sosial.
Pesan ini menyiratkan pesan bahwa pertolongan Allah menyertai kebersamaan yang terorganisir, bukan kerumunan yang emosional.
Dalam perspektif manajemen organisasi, jamaah adalah manifestasi dari collective action —tindakan bersama yang terkoordinasi.
Sejarah dan riset membuktikan bahwa problematika sistemik seperti kemiskinan dan ketimpangan sosialmustahil teratasi hanya melalui amal individual yang terpisah-pisah, setulus apapun niatnya.
Hal tersebut menuntut kerja kolektif yang terstruktur, berkelanjutan, dan kredibel.
Di titik inilah agama dan ilmu sosial beririsan: Islam memberikan dorongan moral untuk bersatu, sementara ilmu organisasi menyediakan metodologi agar kebersamaan tersebut jauh lebih efektif daripada kebaikan yang berjalan sendiri-sendiri.
Peringatan bagi Pembawa Kebenaran
Di sisi lain, ungkapan Ali bin Abi Thalib r.a. kerap dimaknai secara sempit sebatas pengagungan organisasi.
Padahal, substansi pesannya adalah sebuah peringatan (warning) bagi para pembawa kebaikan.
Beliau menekankan bahwa kebenaran tidak secara otomatis meraih kemenangan; ia memerlukan instrumen agar mampu beroperasi dan berkelanjutan.
Singkatnya, niat baik tanpa manajemen akan mudah terdisipasi.
Semangat yang tanpa tatanan akan segera mengalami kelelahan.
Kepedulian yang tidak terorganisir akan kehilangan daya transformasinya.
Pernyataan Ali r.a. merupakan ajakan agar kebaikan tidak menjadi rapuh karena manajemen yang tidak teratur.
Hal ini sejalan dengan prinsip maslahat dalam syariah, di mana manfaat bagi umat harus diwujudkan secara konkret.
Dalam manajemen, ungkapan menantu dan sahabat Nabi SAW tersebut tak ubahnya prinsip dasar organisasi: values need systems to work.
Bencana banjir yang melanda Aceh dan Sumatera Barat baru-baru ini memicu gelombang empati yang luar biasa dari masyarakat.
Meski begitu, tingginya empati masyarakat Indonesia untuk ingin membantu perlu didukung oleh tata kelola yang baik.
Sebab efektivitas bantuan sangat bergantung pada bagaimana dana tersebut dihimpun dan disalurkan secara sistematis.
Dalam konteks ini, peran organisasi seperti Muhammadiyah menjadi sangat relevan.
Melalui kerja kolektif yang terstruktur, Muhammadiyah berhasil menghimpun bantuan senilai 70 miliar rupiah.
Angka fantastis ini bukanlah hasil dari momentum sesaat, melainkan representasi dari kredibilitas lembaga, sistem manajerial yang terjaga, serta budaya filantropi yang telah mendarah daging di dalam organisasi.
Poin utamanya bukan pada kehebatan institusi, melainkan pada bukti empiris bahwa amal individu yang terhimpun dalam satu jamaah dapat menciptakan kekuatan sosial yang signifikan.
Penting sebagai penegasan: Islam tidak pernah merendahkan nilai amal individu.
Sekecil apa pun donasi, tetap memiliki nilai pahala di sisi Allah.
Namun, untuk mengatasi persoalan sosial yang kompleks, amal individu harus terarah agar melampaui kebaikan personal.
Ketika individu menyalurkan kontribusi melalui jamaah, aspek pahala tetap bersifat personal, tetapi dampaknya menjadi kolektif —sebuah konsep yang dalam manajemen disebut leverage (daya ungkit).
Maka, kehadiran jamaah tidak menghilangkan esensi keikhlasan, melainkan mengoptimalkan jangkauan manfaatnya.
Amal individu tetap amal individu, tetapi dalam kerangka jamaah, ia menjadi solusi sistemik.
Tangan Allah: Kepercayaan dan Keteraturan
Hadits “Tangan Allah berada di atas jamaah” dapat kita terima sebagai isyarat tentang pentingnya kepercayaan dan keteraturan.
Jamaah yang percaya akan mendapatkan kemudahan dalam melangkah, yang tertib akan lebih siap menghadapi krisis.
Lebih dari itu, jamaah yang konsisten juga akan lebih cepat bergerak tanpa gaduh.
Dengan demikian, tugas sebagai kaum beriman adalah merawat jamaah, menjaga kepercayaan, dan terus menguatkan keteraturan.
Kebaikan yang bersatu akan jauh lebih tangguh daripada kebaikan yang berjalan sendiri-sendiri.
Jamaah yang merawatnya secara amanah, insya Allah, akan selalu berada dalam lindungan Tangan Allah. Wallahu a’lam.***





0 Tanggapan
Empty Comments